Doa Dan Bacaan Ketika Safar Dan Traveling (Berpergian) bimbingan islam
Doa Dan Bacaan Ketika Safar Dan Traveling (Berpergian) bimbingan islam

Doa Dan Bacaan Ketika Safar Dan Traveling (Berpergian)

Ketika seseorang berniat untuk melakukan safar, terbesit dalam pikirannya banyak hal dan harapan bisa mendapatkan safar yang nyaman, dengan tanpa keletihan, tanpa kesusahan dan rintangan yang menghalangi jalannya, ketika seseorang safar ia meninggalkan negrinya dan keluarganya, bisa jadi tujuannya untuk bekerja, belajar, atau hanya sekedar bertamasya ria dengan sanak keluarga, atau mungkin untuk menunaikan ibadah mulia haji dan umroh ke tempat mulia, karena itu semua seorang yang safar berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah ta’ala, memohon untuk diberikan keringanan dalam safar, diberikan taufiq, dan ditolong agar bisa mewujudkan tujuannya melakukan safar.

Oleh karenanya seorang muslim membaca doadoa terkait safar sebagaimana yang disebutkan dalam hadist Nabi shallallahu alaihi wa sallam, agar supaya Allah memberi kesabaran dan memberikan kemudahan merealisasikan maksud dan tujuan safarnya.

Doa-doa dengan bermacam ragamnya merupakan bentuk nikmat dan anugrah yang wajib untuk disyukuri, karena ketika kita berdoa kepada Allah maka kita telah berusaha mewujudkan tujuan dari safar kita, disamping juga kita akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah ta’ala, mendapatkan kemudahan safar, meraih keringanan safar dan kelancaran safar dengan doa safar yang kita panjatkan.

Doa-doa terkait safar terbagi menjadi tiga, doa sebelum seorang safar, doa di tengah safar, doa ketika sudah sampai tempat tujuan.

1. Doa-doa sebelum seorang safar:

A. Doa musafir pada orang yang ditinggalkan:

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ

“Aku menitipkan engkau kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan barang yang dititipkan”.
(H.R Ahmad 2/403, Shahih Ibnu Majah 2/133)

B. Doa orang yang ditinggal kepada musafir:

أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ

“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan akhir perbuatanmu”.
(H.R Ahmad 2/7, Shahih Tirmidzi 2/155)

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الخَيْرَ حَيْثُ ما كُنْتَ

“Semoga Allah memberi bekal taqwa kepadamu, mengampuni dosamu dan memudahkan kebaikan kepadamu dimana saja kamu berada”.
(H.R Tirmidzi 3444)

C. Doa musafir apabila berangkat waktu sahur:

سَمَّعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللَّهِ، وَحُسْنِ بَلاَئِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صاحِبْنَا، وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا، عَائِذاً بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ

“Telah ada yang bersaksi bahwa kami memuji Allah (atas nikmat) dan cobaanNya yang baik, Wahai Tuhan kami temanilah (periharalah) kami, berilah kenikmatan kepada kami dengan perlindungan kepada Allah dari api neraka”.
(H.R Muslim 4/2086)

D. Doa sebelum safar:

الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ الله أَكْبَرُ سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya, dan sesungguhnya hanya kepada Rabb kami, kami akan kembali.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga”.

Apabila kembali, doa di atas dibaca ditambah lafadz:

آيِبُونَ، تائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ

“Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Tuhan kami”.
(H.R Muslim 2/998)

E. Doa ketika keluar dari rumah:

بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، وَلَاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya”.
(H.R Abu Dawud 4/325, Tirmidzi 5/490)

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ، أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ، أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ، أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ، أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku sesat atau disesatkan, berbuat kesalahan atau disalahi, menganiaya atau dianiaya, berlaku bodoh atau dibodohi”.
(Shahih Tirmidzi 3/152)

F. Doa naik kendaraan:

بِسْمِ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ للَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ}، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي؛ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Tuhan yang menguasakan kendaraan ini kepada kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari kiamat). Segala puji bagi Allah, Allah maha besar, Maha suci Eengkau ya Allah, sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak akan mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”.
(H.R Abu Daud 3/34, Tirmidzi 5/501)

2. Doa-doa di tengah safar:

A. Doa masuk kampung atau sebuah negri:

اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبَّ الأَرَضِينَ السَّبْعِ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبَّ الشَّياطِينِ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبَّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ، وَخَيْرَ أَهْلِهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ أَهْلِهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا

“Ya Allah tuhan tujuh langit dan apa yang dinaunginya, Tuhan penguasa tujuh bumi dan apa yang ada di atasnya, Tuhan yang menguasai syetan-syetan dan apa yang mereka sesatkan, Tuhan yang menguasai angin dan apa yang diterbangkannya, aku memohon kepada-Mu kebaikan desa ini, keluarga dan apa yang ada di dalamnya, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan desa, penduduk dan apa yang ada di dalamnya”.
(H.R al-Hakim , dia menyatakan sahih dan disetujui oleh al-Dzahabi 2/100, Ibnu Sinni no: 524)

B. Doa ketika kendaraan tergelincir:

بِسْمِ اللَّهِ

Membaca Basmalah “dengan menyebut nama Allah”.
(H.R Abu Dawud 4/296)

C. Takbir dan tasbih saat safar:

Jika jalan mendaki membaca:

الله أكبر

Jika jalan menurun membaca:

سبحان الله

Disebutkan dalam hadist Bukhari, Fathul bari 6/135

D. Doa saat singgah di suatu tempat:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung kepada Allah dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan”.
(H.R Muslim 4/2080)

3. Doa ketika selesai/kembali dari safar:

Bertakbir sebanyak 3 kali setiap melewati tempat yang tinggi lalu membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنا حَامِدُونَ، صَدَقَ اللَّهُ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزابَ وَحْدَهُ

“Tiada Tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya pujian, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. kami kembali dengan bertaubat, beribadah dan memuji kepada Tuhan kami, Allah telah menepati janji-Nya, membela hamba-Nya (muhammad) dan menceraiberaikan musuh dengan sendiri-Nya”.
(H.R Bukhory 7/163)

Doa-doa di atas disarikan dari kitab Hisnu al-Muslim oleh syaikh Dr Said bin Ali bin Wahf al-Qahtany رحمه الله

Wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Rabu, 07 Muharram 1441 H/ 26 Agustus 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini