Artikel

Sebab-Sebab Datangnya Rezeki

Sebab-Sebab Datangnya Rezeki

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Sebab-Sebab Datangnya Rezeki. Selamat membaca.


Islam telah memotivasi kita untuk mencari rezeki, bahkan Islam menjadikannya di antara ibadah yang paling penting sebagai wasilah untuk mencari keridhoan Allah ta’ala. Di antara motivasi Islam bagi pemeluknya untuk mencari rezeki adalah dalam firman Allah ta’ala:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya”. (Al-Mulk:15).

وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ ۙ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ

dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah”. (Al-Muzammil:20)

Dalam tafsirnya Imam al-Qurtubi mengomentari ayat di atas:

سوى الله تعالى في هذه الآية بين درجة المجاهدين والمكتسبين المال الحلال للنفقة على نفسه وعياله والإحسان والإفضال فكان دليلا على أن كسب المال بمنزلة الجهاد، لأنه جمعه مع الجهاد في سبيل الله

“Dalam ayat ini Allah menyamakan derajat para mujahidin dengan orang yang mencari harta halal dengan tujuan sebagai nafkah untuk dirinya, keluarganya dan berbuat ihsan dengan harta tersebut, ini menunjukkan bahwa usaha mencari harta halal bisa sejajar dengan berjihad, karena Allah menghimpunnya dengan amaliah jihad di jalan Allah”. (al-Jami Li Ahkami al-Quran juz:19 hal:55)

Perlu diketahui bahwa rezeki itu kesemuanya ada di tangan Allah ta’ala, dan manusia seberapa besar pun usahanya dalam mencari rezeki maka tidak akan ia mendapatkan melainkan apa yang sudah dituliskan untuknya, sebaliknya seberapa besar pun usaha menghalangi rezeki seseorang maka rezeki itu akan tetap datang padanya sebagaimana ajal mendatanginya, disebutkan dalam hadist riwayat al-Tabarani dari sahabat Abu Darda dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:

Baca Juga :  Anakku Mencuri! - Bagaimana Menasehatinya?

إن الرزق ليطلب العبد أكثر مما يطلبه أجله

“Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seorang hamba lebih banyak daripada ajal mencari dirinya”. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami.

Namun walau demikian, bukan berarti lantas kita meninggalkan sebab-sebab dan upaya untuk meraih rezeki, hal itu tetap dituntut demi kesempurnaan tawakkal, nah di antara sebab-sebab datangnya rezeki yang bisa diupayakan oleh seorang hamba, mungkin bisa kita sebutkan berikut ini:

1. Bertakwa Kepada Allah Dan Beramal Shalih

Allah berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴿٣﴾

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Al-Talak:2-3).

2. Berbakti Pada Kedua Orang Tua dan Menyambung Silaturrahim

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من سره أن يمد له في عمره ويزاد في رزقه فليبر والديه وليصل رحمه

“Barangsiapa yang suka untuk dipanjangkan umurnya dan ditambah rezekinya maka hendaklah berbakti kepada orang tua dan menyambung tali silaturrahim”. (HR. Ahmad dalam al-Musnad 3/156).

3. Banyak Beristighfar pada Allah dan Mengakui Kesalahan

Allah berfirman dalam al-Quran:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا﴿١٠﴾ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا﴿١١﴾ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا﴿١٢﴾

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Nuh:10-12).

4. Bertawakkal kepada Allah ta’ala

Bertawakkal yaitu bersandar pada Allah () dengan penuh penyandaran dalam rangka meraih manfaat atau menangkal mudhorrot dengan disertai usaha, dalam hadist Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

لو أنكم تتوكلون على الله حق توكله لرزقكم كما يرزق الطير تغدو خماصا وتروح بطانا

“Sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian, sebagaimana rezeki yang diberikan kepada seekor burung yang pergi di pagi hari dalam keadaan perutnya kosong kemudian kembali pada waktu petang dengan perut terisi penuh”. (H.R Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Hakim. Tirmidzi menilai bahwa hadits ini : Hasan Shahih).

5. Menikah

Dengan menikah justru menjadi sebab datangnya rezeki dan diberikan kecukupan, Allah berfirman:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (Al-Nur:32).

Syaikh al-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan:

فلا يمنعكم ما تتوهمون من أنه إذا تزوج افتقر بسبب كثرة العائلة ونحوه ، وفيه حث على التزوج ، ووعد للمتزوج بالغنى بعد الفقرانتهى. تفسير السعدي” ( ص 567

“Maka jangan menghalangi kalian perkara yang kalian sangkakan bahwa seseorang ketika menikah akan menjadi fakir dengan banyaknya keluarga dan semisalnya, justru dalam firman Allah ada motuvasi untuk menikah, dan janji dari Allah bagi yang menikah untuk diberi kecukupan setelah sebelumnya dalam kefakiran”. (Tarsir al-Sa’dy hal:567).

6. Memiliki Anak

Setelah menikah kemudian memiliki banyak anak, banyak anak tidak mematikan rezeki dan menghambatnya, justru setiap anak telah Allah tanggung rezekinya, ini Allah tegaskan sendiri dalam al-Quran:

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu”. (Al-Isra:31).

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka”. (Al-An’am:151).

Penutup

Demikian sekelumit sebab-sebab datangnya rezeki bagi seorang hamba, tentunya tetap dengan melakukan aksi, tidak hanya pasrah saja, tidak hanya bersandar saja pada Allah tanpa bergerak dan beraksi, di samping kita bertakwa, bertawakkal, beristighfar dan hal lainnya, harus disertai aksi, cobalah berbisnis, jualan, daftar sebagai pekerja pada instansi tertentu, atau sebagai pengajar dan lainnya, dengan itu semua Allah akan salurkan rezeki kita.

Dan perlu juga untuk ditekankan, ketika kita sudah menempuh sebab-sebab datangnya rezeki, namun ternyata hasil yang didapatkan tidak seperti harapan kita, tidak boleh kita mencela dan mengeluh, karena ini bagian dari takdir yang Allah tetapkan yang di balik hal tersebut pasti ada hikmah dan pelajaran yang kebaikannya akan kembali kepada kita sendiri. Kita dituntut ridho dan sabar menerima ketentuan itu, sebagaimana ini adalah bagian dari keimanan sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam sabdakan:

الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله، واليوم الآخر، وتؤمن بالقدر خيره وشرهرواه مسلم

“Iman itu yakni engkau beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, pada hari akhir, dan engkau beriman pada takdir Allah ketika baik maupun buruk”. (HR. Muslim).

Demikian, wallahu a’lam.

Disusun oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, Rabiul Akhir 1443 H/ 11 November 2021 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik disini

 

Baca Juga :  Apakah Mayit di Alam kubur Bisa Melihat Keluarganya yang Masih Hidup?

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button