Nikah

Hukum Nikah Online

Hukum Nikah Online

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Hukum Nikah Online. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamuaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustadz.

Semoga sehat dan dimudahkan urusannya. Mengenai penyelenggaraan acara pernikahan untuk beda tempat, jadi ana punya tante yang tinggal di Australia yang saat ini pandemi dan tidak boleh untuk ke Indonesia dan anaknya tante menikah dengan istrinya yang tinggal di Jawa Tengah, pelaksanaan akad nikahnya hanya menggunakan video call bersama penghulu dan keluarganya tante, apa ini diperbolehkan dan sah Ustadz?

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad Bimbingan Islam)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.

Aaamiin, dan semoga Allah memberikan kepada kita semua kebahagiaan di dalam setiap kita.

1. Pernikahan yang Dikatakan Sah

Pada umumnya, bahwa pernikahan sah dan tidaknya dikembalikan kepada syarat dan rukun nikah yang terpenuhi. Bila dipenuhi maka akad nikah dihukumi sah dan bila tidak dipenuhi dan ada yang kurang dari syarat dan rukunnya maka sebuah pernikahan dianggap tidak sah. Apakah dalam proses nikah online syarat dan rukunnya telah terpenuhi? Apakah ada kewajiban yang terlanggar sehingga mempengaruhi hukum pernikahan tersebut?

2. Hukum Akad Nikah Secara Online

2.1. Apakah Syarat ‘Akad dalam Satu Majelis’ Terpenuhi?

Meringkaskan apa yang disebutkan di dalam web islamqa pada no fatwa 10551 dinyatakan di dalamnya bahwa ada perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini, dikembalikan kepada pemahaman dan pernyataan apakah pertemuan dan komunikasi langsung tersebut dianggap di dalam satu majlis atau tidak. Sebagaimana yang diketahui bahwa syarat nikah haruslah ada ijab  dan qabul di antara wali dan mempelai pria di dalam satu majlis, yang kemudian diikuti dengan adanya saksi dalam proses tersebut sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab Kasyaful Qanna` (5/41) dalam Madzhab Hambali,”

وإن تراخى القبول عن الإيجاب صح ما داما في المجلس ولم يتشاغلا بما يقطعه عرفا ولو طال الفصل؛ وإن تفرقا قبل القبول بعد الإيجاب بطل الإيجاب وكذا إن تشاغلا بما يقطعه عرفا ؛ لأن ذلك إعراض عنه أشبه ما لو رده انتهى بتصرف

“ jika ada jeda antara qabul dari ijab selama di dalam satu majlis dan keduanya tidak sibuk dengan urusan lain yang memutus (urusan) secara `urf maka (akad nikah) tetaplah sah, walaupun jeda waktu panjang. Dan jika keduanya berpisah setelah ijab ( pernyataan akan menikahkan putrinya dari wali nikah) namun sebelum proses qabul (pria menerima pernyataan ijab dari wali wanita) dilakukan maka akad ijabnya menjadi batal, begitu pula apabila proses (ijab qabul) diputus dengan hal yang menyibukkan keduanya secara urf (kebiasaan setempat), karena hal adalah berpalingnya (qabul) dari ijab, seakan ijab tersebut ditolak.”

Begitu pula dalam syarat saksi yang terkait dengan keabsahan nikah.

2.2 Apakah Akad Secara Online Aman dari Rekayasa?

Menyikapi hal tersebut para ulama berbeda dalam menghukumi akad nikah dengan menggunakan media online seperti telpon dan internet. Sebagian ulama melarang karena diragukannya kebenaran dalam kesaksian akad ijab qabul yang dilakukan, walaupun mereka tetap berpendapat bahwa dua orang yang ada di dalam percakapan pada telepon dalam satu waktu pada hakikatnya keduanya tetap dihukumi berada dalam satu majlis, sebagaimana yang dianut oleh para ulama Majma Fiqih Alislami (no 52: 2/6) terkait hukum proses akad dengan teknologi/media elektronik).

Sebagian mereka tetap melarang pernikahan seperti ini dengan sebab kehati-hatian, karena bisa dianggap suatu seseorang bisa ditiru dan memungkinkan untuk direkayasa suara dan gambar yang ada, sebagaimana pendapat dari ulama Lajnah Daimah ( (فتاوى اللجنة الدائمة” (18/90) .) .

Dan sebagian ulama lagi membolehkan bila aman dari rekayasa dan penipuan, sebagaimana yang difatwakan oleh Syeikh bin Baz rahimahullah ta`ala.

3. Bolehnya Akad Nikah Secara Online Jika Aman dari Rekayasa

Bila melihat kembali perbedaan ulama di atas dapat dipahami bahwa permasalahan utama pada kasus ini ternyata bukan pada point “satu majlis atau tidak” karena hubungan di antara dua pihak melalui telpon atau internet dalam satu waktu dianggap masih tetap dalam satu majlis.

Proses persaksian dalam akad ini juga sangat mungkin, dengan tetap mendengar suara yang jelas ketika berbicara, baik melalui telpon atau internet, bahkan sekarang ini bisa terlihat gambar dan keberadaannya di tengah-tengah ijab dan qabul, baik mempelai laki, wali perempuan dan saksi-saksi.

Karenanya, pendapat yang kuat adalah mengarah kepada pendapat membolehkan akad nikah melalui telpon atau internet atau sambungan audio visual dengan catatan aman dari permainan/rekayasa/penipuan, di mana hal ini dibuktikan dan diyakinkan dengan keberadaan adanya mempelai pria, wali dan para kedua saksi ketika dilaksanakan ijab dan qabul, langsung dengan suara yang jelas dan tanpa rekayasa. Pendapat ini seperti yang dikatakan oleh syekh bin Baz rahimahullah ta`ala, juga yang dipahami dari fatwa lajnah Daimah yang melarang karena faktor kehati-hatian dan takut adanya rekayasa di dalamnya.

3.1 Fatwa Syaikh bin Baz terkait Akad Nikah Online

Berkata Syaikh Bin Baz rahimahullah ta`ala ketika menjawab pertanyaan pernikahan yang tidak bisa dihadiri karena kendala jarak yang jauh dan faktor ekonomi, kemudian pengantin dan walinya menggunakan media telpon di dalam ijab dan qabulnya, dengan tetap dihadiri saksi dan mempelai pria, apakah akad nikahnya sesuai syariat?, beliau menjawab,”

بأنّ ما ذُكر إذا كان صحيحا ( ولم يكن فيه تلاعب ) فإنه يحصل به المقصود من شروط عقد النّكاح الشّرعي ويصحّ العقد “

“bahwa apa yang di tanyakan bila itu benar (di mana tidak ada permainan/rekayasa di dalamnya) maka hal itu telah tercapai maksud tujuannya dari syarat akad nikah secara syari`at dan akadnya adalah sah.”

4. Penutup

Yang lebih aman dan lebih baik, adalah dengan cara mewakilkan proses akad nikah (baik ijab atau qabul) di mana proses ijab dan qabul diwakilkan kepada orang lain yang dilaksanakan di hadapan kedua orang saksi dalam satu tempat. Namun bila tetap akan dilaksanakan dengan cara online, selama syarat terpenuhi dan penghalang dijauhkan, di mana rekayasa atau penipuan di dalamnya hilang, insyaallah diperbolehkan. Wallahu a`lam.

Referensi : (https://islamqa.info/ar/answers/105531)

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Kamis, 5 Rabiul Akhir 1443 H/ 11 November 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Baca Juga :  Istri Hanya Berdua dengan Bapak Mertua di Rumah

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button