Pentingnya Saksi Dalam Akad Hutang Piutang

Pentingnya Saksi Dalam Akad Hutang Piutang

Pentingnya Saksi Dalam Akad Hutang Piutang 

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz dan keluarga

Bagaimana hukumnya jika ada pihak yang merasa dihutangi, sementara pihak yang tertuduh ini tidak merasa ada hutang terhadapnya.
Beliau sudah cukup tua, tapi terbiasa mencatat setiap pinjamannya sehingga benar-benar tidak merasa ada hutang kepadanya.

Sementara yang berselisih paham dengannya adalah adiknya sendiri terkait dengan penjualan tanah orang tuanya. Menurut adiknya, beliau pernah sekali menjual tanah orang tua mereka.

Syukron…
Jazaakallahu khairan Ustadz

(Disampaikan Oleh Sahabat BiAS, T08 G-23)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّه
ِ
Alhamdulillāh,
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Semoga keluarga kita senantiasa dijaga dari perpecahan, terlebih karena masalah keuangan.

Inilah pentingnya mengamalkan anjuran syari’at secara menyeluruh, tidak parsial atau sebagian. Dan syari’at kita menyerukan penggunaan saksi dalam akad hutang piutang, tidak hanya sekedar mencatat.
Alloh berfirman;

وَٱسۡتَشۡهِدُواْ شَهِيدَيۡنِ مِن رِّجَالِكُمۡۖ فَإِن لَّمۡ يَكُونَا رَجُلَيۡنِ فَرَجُلٞ وَٱمۡرَأَتَانِ مِمَّن تَرۡضَوۡنَ مِنَ ٱلشُّهَدَآءِ أَن تَضِلَّ إِحۡدَىٰهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحۡدَىٰهُمَا ٱلۡأُخۡرَىٰۚ

Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya” (QS Al-Baqoroh 282).

Terlebih jika masalah ini adalah intern keluarga, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah demi menghidari fitnah dan perpecahan yang jelas berakibat buruk. Karena Islam memang tegas dalam permasalahan perpecahan keluarga atau pemutusan silaturrohim, bahkan bisa berujung laknat dari Alloh Jalla wa ‘Alaa.

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي اْلأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Alloh, dan akan Alloh tulikan telinga mereka serta butakan penglihatan mereka” (QS Muhammad 22-23)

Dalam hadits Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam juga memberikan ending yang buruk bagi orang yang memutuskan hubungan silaturrohim; Tidak Masuk Surga.

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturrahmi” [HR Bukhori 5984 dan Muslim 2556].

Coba selesaikan dengan kepala dingin, hadirkan keluarga yang sekiranya didengar atau dihormati, saling mencari solusi bukan memaki, berfikir demi kemashlahatan keluarga besar dan bukan individu. Jika ada keluarga yang tau tentang seluk beluk harta warisan orangtua, jumlah dan macamnya, ada baiknya juga dihadirkan sehingga bisa diingat kembali mana harta yang sdh dibagi dan belum dibagi.

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
📆 Senin, 18 Rajab 1440H / 25 Maret 2019M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS