Bolehkah Memakamkan Jenazah di Kampung Halamannya Bagi Perantau bimbingan islam
Bolehkah Memakamkan Jenazah di Kampung Halamannya Bagi Perantau bimbingan islam

Bolehkah Memakamkan Jenazah di Kampung Halamannya Bagi Perantau?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah memakamkan jenazah di kampung halamannya bagi perantau?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga ustadz selalu diberikan kesehatan.
Ijin bertanya ustadz. Apakah bila ada orang yang meninggal harus dimakamkan ditempat dia tinggal atau boleh dibawa pulang ke kampung halamannya?
Misal dia tinggal di Kudus, sementara dia berasal dari Bogor, bolehkah dimakamkan di Bogor?

Jazaakallohu khoyro ustadz

(Disampaikan oleh Fulanah – Sahabat BiAS G-08)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Boleh saja, akan tetapi yang sunnah jenazah itu disegerakan untuk dimakamkan secepatnya. Disebutkan dalam salah satu riwayat :

فعن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: أسرعوا بالجنازة، فإن تك صالحة، فخيرٌ تقدمونها عليه، وإن تكن غير ذلك، فَشَرٌّ تضعونه عن رقابكم

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Bersegeralah di dalam mengurus jenazah jika ia jenazah yang shalih maka itu menjadi kebaikan yang kalian persembahkan. Jika ia jenazah yang buruk maka itu menjadi keburukan yang kalian lepaskan dari dari tanggungan kalian.”
(HR Bukhari : 1315, Muslim : 944).

Baca:  Bersikap Baik Terhadap Teman Yang Buruk

Syaikh Abu Malik Kamal menyatakan :

والإسراع بالجنازة يدخل فيه سرعة تغسيله وتكفينه وتجهيزه، والإسراع في حملها إلى القبر.

“Bersegara didalam mengurus jenazah itu mencakup bersegera didalam memandikan, mengkafani, menyiapkan serta bersegera didalam membawanya ke kuburan.”
(Shahih Fiqih Sunnah : 1/613 karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim).

Maka yang terbaik, dimana ia meninggal di sana ia dimakamkan dalam rangka melaksanakan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini.
Akan tetapi jika ada kebutuhan untuk membawa jenazah dan dikuburkan di lokasi lain yang jauh maka tidak mengapa. Para ulama kibar yang tergabung di dalam Lajnah Daimah (komite fatwa arab saudi) menyatakan :

كانت السنَّة العمليَّة في عهد النَّبي صلى الله عليه وسلم وفي عهد أصحابه أن يُدفن الموتى في مقابر البلد الذي ماتوا فيه ، وأن يُدفن الشهداء حيث ماتوا ، ولم يثبت في حديث ولا أثر صحيح أن أحداً من الصحابة نقل إلى غير مقابر البلد الذي مات فيه أو في ضاحيته أو مكان قريب منه 
ومن أجل هذا قال جمهور الفقهاء : لا يجوز أن ينقل الميت قبل دفنه إلى غير البلد الذي مات فيه إلا لغرض صحيح مثل أن يُخشى من دفنه حيث مات من الاعتداء على قبره ، أو انتهاك حرمته لخصومة أو استهتار وعدم مبالاة ، فيجب نقله إلى حيث يؤمن عليه
ومثل أن ينقل إلى بلده تطييباً لخاطر أهله وليتمكنوا من زيارته : فيجوز

Baca:  Wanita Menikah Beberapa Kali, Suami Mana yang Akan Menemaninya di Surga?

“Sunnah yang diamalkan di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, mayat itu dikuburkan di kuburan negeri tempat ia meninggal dunia. Dan para syuhada dikuburkan di lokasi ia meninggal dunia.

Tidak pernah tsabit keberadaan hadits atau atsar shahih bahwa ada satu sahabat saja yang dipindahkan ke lokasi lain selain kuburan negeri dimana ia wafat, atau lokasi mati atau lokasi yang dekat darinya.

Dan atas dasar ini mayoritas para ulama ahli fiqih menyatakan : Tidak boleh mayat sebelum dimakamkan untuk dipindahkan ke selain negri dimana ia wafat. Kecuali dikarenakan adanya tujuan yang dibenarkan, seperti dikhawatirkan kuburannya akan diganggu, atau direndahkan dikarenakan dendam atau karena tidak adanya kepedulian. Maka wajib dipindahkan kelokasi yang lebih aman.

Baca:  Memastikan Azab Kubur Karena Maksiat Di Dunia

Dan seperti memindahkan mayat ke negerinya dalam rangka untuk menenangkan fikiran keluarga (mayat) agar mereka memungkinkan untuk menziarahinya, maka boleh.”
(Fatawa Lajnah Daimah : 2/31).

Wallahu a’lam
Wabillahittaufiq

 

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Selasa, 29 Rabbi’ul Awwal 1441 H/ 26 November 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini