Nasehat Bersabar Dibawah Penguasa Yang Dzolim Dan Berpegang Teguh Memegang Prinsip Salaf

Nasehat Bersabar Dibawah Penguasa Yang Dzolim Dan Berpegang Teguh Memegang Prinsip Salaf

Pertanyaan​

 بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Ustadz selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala.

Ustadz, terkait pembahasan Kitab “Mu’aamalatul Hukkaam” Bagian ke-2 mengenai “Fenomena Perhatian Salaf terhadap Prinsip Mendengar dan Taat pada Penguasa”, pertanyaan ana:

Bagaimana cara membuat agar hati kita untuk tetap bersabar di dalam pemerintahan penguasa yang dzolim dan tetap teguh memegang prinsip para Salaf?
Syukron Ustadz.

Ditanyakan oleh Sahabat BiAS T06

Jawaban​

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga hati kita tetap bersabar di dalam pemerintahan penguasa meskipun dzolim dan tetap teguh memegang prinsip para Salaf. Dan semoga Allah tetapkan bagi kita semua kemenangan di dunia dan akhirat.

Kiat agar kita tetap bisa istiqamah berpegang teguh dengan prinsip salafush shalih sangat beragam, diantara sekian banyak kiat yang bisa kita lakukan adalah :

1. Selektif di dalam memilih guru ngaji terutama kajian yang membahas masalah aqidah dan manhaj.

Syaikh Shalih bin Abdillah bin Fauzan Al-Fauzan berkata :

 إن اختيار المدرس المستقيم في عقيدته وفي علمه أمر مطلوب وإذا لم يمكن , ووجدت من عنده معرفة في الفقه –مثلاً- أو النحو والعلوم التي لا تتعلق بالعقيدة , فلا بأس أن تدرس عنده في العلوم التي يحسنها ,
أما العقيدة فلا تدرسها إلا عند أهل العقيدة الصحيحة .

“Sesungguhnya memilih guru yang lurus aqidah serta ilmunya adalah sebuah keharusan. Adapun jika tidak memungkinkan, dan engkau mendapati orang yang memiliki ilmu fikih misalnya atau ilmu nahwu atau ilmu-ilmu lainnya yang tidak berkaitan dengan aqidah, maka tidak mengapa engkau belajar kepada dia dalam ilmu yang ia kuasai.

Adapun ilmu aqidah jangan engkau mempelajarinya melainkan kepada pemilik aqidah yang shahih/benar.”

(Sumber Fatwa, ; Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘Anil As’ilatil Manahijil Jadidah : 165).

2. Menyibukkan diri mempelajari aqidah ahlis sunnah wal jama’ah dengan membaca kitab-kitab aqidah yang ditulis oleh para ulama sunnah dengan intensif, struktural dan sabar.

Serta mengurangi membaca berita-berita yang bersliweran di media sosial, media elektronik serta media masa lainnya. Yang demikian seringkali berita ini menjadi pemicu untuk seseorang menolak dalil hanya karena lebih mempercayai berita yang kebenarannya teramat sangat relatif. Berbeda dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang kebenarannya mutlak.

Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al Jaza’iri berkata :

“Peringatan keras dari hobi suka menyebar-nyebarkan berita. Karena berita itu membawa keamanan dan rasa takut, sedangkan jiwa itu lemah.

Belum lagi jiwa itu memiliki syahwat/nafsu untuk selalu ingin mengetahui berita-berita terutama berita yang berkaitan dengan masalah kursi/kekuasaan. Sesungguhnya hati itu cenderung lebih condong kepadanya, serta cenderung berpaling dari wahyu.

Sa’ad berkata : ‘Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya -shalallahu alaihi wa sallam-‘.

Lantas beliau? membacakan Al-Quran itu kepada para sahabat -radhiyallahu ‘anhum- dalam waktu yang lama, merekapun kemudian berkata :

“Wahai Rasulullah seandainya engkau mengabarkan kepada kami kisah-kisah.”.

(Madarikun Nadzar Fis Siyasah : 223 oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani Al-Jaza’iri).

3. Memperbanyak berdoa memohon kepada Allah ta’ala agar diberikan keistiqamahan dan ketundukan terhadap syariat.

Diantara lafadz doa yang bisa kita amalkan ialah :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikan hati, balikkanlah hati kami kepada agama-Mu.” (HR Tirmidzi : 2140 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih At Tirmidzi : 2140).

Tanya Jawab Bimbingan Islam, [10.01.17 17:12]
4. Menjauhi fitnah/kekacauan serta menjauhi syubhat.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 إنَّ السَّعيدَ لمن جُنِّبَ الفتنَ

“Sesungguhnya orang yang berbahagia itu adalah orang yang dijauhkan dari fitnah -beliau mengucapkannya tiga kali-.” (HR Abu Dawud : 4263 dishihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihut Targhib Wat Tarhib : 2743).

5. Menjauhi debat kusir.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 ﺃَﻧَﺎ ﺯَﻋِﻴﻢ ﺑِﺒَﻴْﺖ ﻓِﻲ ﺭَﺑَﺾ اﻟْﺠَﻨَّﺔ ﻟِﻤَﻦ ﺗَﺮَﻙ اﻟْﻤِﺮَاء ﻭَﺇِﻥ ﻛَﺎﻥ ﻣُﺤِﻘًّﺎ

 “Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar.”

(HR Abu Dawud : 4800 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahihul Jami’ : 1464).

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

Selasa, 21 Rabi’ul Awwal 1438 H / 20 Desember 2016 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS