Apakah Termasuk Syirik Menyandarkan Sesuatu Pada Sebabnya, Tanpa Menyebut Asma Allah?

Apakah Termasuk Syirik Menyandarkan Sesuatu Pada Sebabnya, Tanpa Menyebut Asma Allah?

Apakah Termasuk Syirik Menyandarkan Sesuatu Pada Sebabnya, Tanpa Menyebut Asma Allah?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, bila seseorang memiliki anggapan jika tanpa bantuan fulan, maka kebutuhan kami sehari-hari tidak tercukupi.
Apakah ini termasuk syirik kecil ?

Dan ketika si fulan berbuat salah (bermaksiat), tidak berani menegur karena khawatir membuatnya marah atau bahkan tidak lagi membantu (financial).

Bagaimanakah sebaiknya yang harus dilakukan bila hal ini terjadi pada hubungan orangtua dan anak ?

(Disampaikan oleh Fulanah, Admin BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

الحمد لله , ولا حول ولا قوة الا بالله , والصلاة والسلام على رسول الله, اما بعد

Hukum mengatakan : jika tanpa bantuan fulan, maka kebutuhan kami sehari-hari tidak tercukupi.

Permasalahan ini dibahas dalam masalah tauhid dan aqidah. Dan perkataan yang ditanyakan oleh penanya, apakah mengandung syirik besar, syirik kecil ataukah diperbolehkan, sangat tergantung dari sisi keyakinan hati orang yang mengatakannya.

Jika orang tersebut mengatakan hal tersebut, dan meyakini dalam hati, memang tidak ada peran Allah dalam hal tersebut maka ini bisa masuk ke dalam syirik.

Adapun mengatakan hal tersebut dan meyakini dalam hati, bahwa rizki yang yang ia dapat adalah dari Allah, hanya saja melalui perantara fulan, maka ini tidak bermasalah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

Beliau berkata :

ولكن يجوز أن تضيف الشيء إلى سببه بدون قرن مع الله فتقول: ” لولا فلان لغرقت ” إذا كان السبب صحيحًا وواقعًا ولهذا «قال الرسول، عليه الصلاة والسلام، في أبي طالب حين أخبر أن عليه نعلين يغلي منهما دماغه قال: “ولولا أنا لكان في الدرك الأسفل من النار» فلم يقل: لولا الله ثم أنا مع أنه ما كان في هذه الحال من العذاب إلا بمشيئة الله، فإضافة الِشيء إلى سببه المعلوم شرعًا أو حسًّا جائز وإن لم يذكر معه الله – جل وعلا –

“… akan tetapi, boleh seorang menyandarkan sesuatu kepada sebabnya tanpa menyebutkan nama Allah, seperti mengatakan : ‘kalau bukan karena fulan, pasti aku sudah tenggelam’,

Ini jika sebab yang ia sandarkan merupakan sebab yang benar dan memang seperti itu kenyataannya.

Oleh karena itu ketika mengabarkan Abu Thalib yang akan disiksa dengan dua sandal dari api dan akan mendidih otaknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan : ‘Kalau bukan karena ku, pasti ia (Abu Thalib) akan dikerak neraka yang paling bawah’.

Dan ketika itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengatakan : ‘Kalau bukan karena Allah kemudian karena ku

Padahal keadaan Abu Thalib yang akan diadzab seperti itu tidaklah terlepas dari kehendak Allah.

Sehingga kesimpulannya, boleh menyandarkan sesuatu kepada sebabnya. Jika memang sebabnya itu adalah sebab yang diketahui secara syariat ataupun secara praktek nyata walaupun tidak disebut nama Allah pada saat mengatakannya”.
(diringkaskan dari penjelasan beliau yang panjang dari Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin 3/130)

Kemudian terkait berdakwah, menasihati, maka itu adalah urusan yang berbeda. Siapapun orangnya, orang tua kita kah, sahabat kita kah, orang dekat ataupun orang yang jauh, orang yang berpengaruh dalam hidup kita ataupun tidak semuanya memakai kaidah :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.
(QS. An-Nahl : 125)

Kemudian terkadang dalam dakwah, kita harus bisa merendah, harus menunggu waktu, karena perubahan itu membutuhkan waktu, tidak bisa seperti membalikkan telapak tangan.

Cobalah ingat-ingat, bagaimana dulu hidayah menghampiri kita, apakah tau-tau kita langsung berbalik arah menuju hidayah tersebut, ataukah kita berfikir sekian lama, sehingga Allah menunjuki kita.

Jika kita membutuhkan waktu untuk berubah, maka begitulah orang lain, ia juga membutuhkan waktu untuk berubah.

Wallohu a’lam, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua untuk menapaki jalan yang lurus hingga akhir hayat menghampiri. aamiin yaa robbal ‘aalamiin

Wallohu A’lam
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc حفظه الله
📆 Selasa, 14 Syawwal 1440H / 18 Juni 2019M



Ustadz Ratno, Lc.
Dewan Konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), Alumni Universitas Islam Madinah jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS