Waspadai Ucapan Dan Amalan Yang Menghantarkan Kepada Kesyirikan

Waspadai Ucapan Dan Amalan Yang Menghantarkan Kepada Kesyirikan

Waspadai Ucapan Dan Amalan Yang Menghantarkan Kepada Kesyirikan

Diantara kita mungkin tidak secara sadar melakukan amalan dan ucapan yang sebenarnya hal tersebut berakibat pada perilaku kesyirikan. Beberapa diantaranya akan kami sampaikan sebagai berikut:

1. Rasulullah melarang berkata yang menunjukkan adanya kesamaan antara Allāh dan Makhluk-Nya. Contohnya

مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ

“Atas kehendak Allāh dan kehendakmu.”

Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah:

مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Atas kehendak Allāh , kemudian karena kehendakmu.”

Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiallāhu ‘anhuma bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَلَفَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَقُلْ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَلَكِنْ لِيَقُلْ: مَا شَاءَ اللهُ ثُمَّ شِئْتَ

“Apabila seseorang dari kalian bersumpah, janganlah ia mengucapkan: ‘Atas kehendak Allāh dan kehendakmu.’ Akan tetapi hendaklah ia mengucapkan: “Atas kehendak Allāh kemudian kehendakmu.” (HR. Ibnu Majah (no. 2117), hadits ini hasan shahih. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1093).

Kata ثُـمَّ (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.

2. Larangan berlebihan dalam mengagungkan kuburuan, membangunkan tenda/rumah di atasnya, menembok kuburannya dan menuliskan nama di atasnya.

3. Larangan menjadikan kuburan sebagai masjid atau shalat menghadap kuburan.

Sabda beliau Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam :

لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا

Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. [Muslim (II/668 no. 972) dari Abu Martsad Radhiyallahu anhu]

Imam Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menyimpulkan, “Hadits ini menegaskan terlarangnya shalat menghadap ke arah kuburan. Imam Syâfi’i rahimahullah mengatakan, ‘Aku membenci tindakan pengagungan makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid. Khawatir mengakibatkan fitnah atas dia dan orang-orang sesudahnya.” (Syarh Shahîh Muslim (VII/42).

Al-‘Allâmah al-Munawi rahimahullah (w. 1031 H) menambahkan, “Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan; dalam rangka mengingatkan umatnya agar tidak mengagungkan kuburannya, atau kuburan para wali selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab bisa jadi mereka akan berlebihan hingga menyembahnya.” (Faidh al-Qadîr (VI/318).

4. Larangan shalat ketika terbit dan terbenam matahari.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallāhu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah shalat Shubuh sampai matahari meninggi dan tidak ada shalat setelah shalat ‘Ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Bukhari, no. 586 dan Muslim, no. 827)

5. Larangan untuk safar dengan tujuan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allāh , kecuali tiga masjid, masjid Nabawi, Masjid Haram dan Masjid al-Aqsha.

Dari Abu Hurairah radhiallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ، الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى

“Janganlah engkau melakukan perjalanan jauh (safar) kecuali menuju tiga masjid: Al-Masjid Haram, Masjid Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan Masjid Al-Aqshaa” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1189 dan Muslim no. 3364].

Ibnu Hajar rahimahullah menukil beberapa ulama yang menguatkan pendapat ini:

فَقَالَ اَلشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّد اَلْجُوَيْنِيّ : يَحْرُمُ شَدّ اَلرِّحَال إِلَى غَيْرِهَا عَمَلًا بِظَاهِرِ هَذَا اَلْحَدِيثِ ، وَأَشَارَ اَلْقَاضِي حُسَيْن إِلَى اِخْتِيَارِهِ وَبِهِ قَالَ عِيَاض وَطَائِفَة ، وَيَدُلُّ عَلَيْهِ مَا رَوَاهُ أَصْحَابُ اَلسُّنَنِ مِنْ إِنْكَار بَصْرَة اَلْغِفَارِيّ عَلَى أَبِي هُرَيْرَة خُرُوجه إِلَى اَلطُّورِ وَقَالَ لَهُ ” لَوْ أَدْرَكْتُك قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مَا خَرَجْت ” وَاسْتَدَلَّ بِهَذَا اَلْحَدِيثِ فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ يَرَى حَمْلَ اَلْحَدِيثِ عَلَى عُمُومِهِ ، وَوَافَقَهُ أَبُو هُرَيْرَة

“Asy-Syaikh Abu Muhammad Al-Juwainiy berkata : ‘Diharamkan melakukan perjalanan jauh (syaddur-rihaal) selain dari tiga masjid tersebut berdasarkan dhahir hadits ini. Al-Qaadliy Husain mengisyaratkan pilihannya (terhadap pendapat ini). Dan pendapat inilah yang dipegang oleh ‘Iyaadl dan sekelompok ulama lain. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh ashhaabus-sunan dari pengingkaran Bashrah Al-Ghifaariy terhadap Abu Hurairah karena perjalanannya ke bukit Thuur. Ia (Bashrah) berkata kepadanya : ‘Seandainya saja aku bertemu denganmu sebelum engkau pergi ke Bukit Thuur, niscaya engkau tidak akan pergi’. Ia berdalil dengan hadits ini sehingga menunjukkan bahwa ia berpandangan kandungan hadits ini ada pada keumumannya, dan hal itu disepakati oleh Abu Hurairah” [Fathul-Baariy, 3/65].

6. Larangan berlebihan memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam telah melarang umatnya untuk berlebih-lebihan terhadap beliau dalam sabdanya,

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

“Janganlah kalian memujiku secara berlebihan seperti kaum Nasrani memuji ‘Isa bin Maryam (puncak pengultusan kaum Nasrani kepada Nabi ‘Isa adalah menuhankan ‘Isa bin Maryam ‘alaihis salam, pen-). Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka panggillah aku dengan hamba Allāh dan rasul-Nya.” (HR. Bukhari nomor 3261)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah mengatakan,

قَوْلُهُ لاَ تَطْرُوْنِي لاَ تَمْدَحُوْنِي كَمَدْحِ النَّصَارَى حَتَّى غَلاَ بَعْضُهُمْ فِي عِيسَى فَجَعَلَهُ إِلَهًا مَعَ اللِه وَبَعْضُهُمْ ادَّعَى أَنَّهُ هُوَ الله وَبَعْضُهُمْ بْنُ اللهِ

“Maksud sabda beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam ‘لا تطروني’ adalah janganlah kalian memujiku seperti perbuatan kaum Nasrani yang mengultuskan ‘Isa bin Maryam kemudian menjadikannya sesembahan di samping Allāh atau bahkan lebih dari itu sebagian dari mereka mengklaim ‘Isa adalah Allāh atau anak Allāh .” (Fathul Baari, 12/149)

Bersambung InsyaAllāh Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. حفظه الله
Beliau adalah Pengasuh Yayasan Ibnu Unib Cianjur dan website cianjurkotasantri.com
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA.حفظه الله  
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS