Artikel

Makna Talbiah dalam Haji dan Umrah: Arti “Labbaik Allahumma Labbaik” 

Bismillah, walhamdulillah was sholaatu was salam ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Kalimat Talbiah (Labbaik Allahumma Labbaik) adalah syiar terbesar dalam ibadah haji dan umrah. Ia bukan sekadar bacaan rutin, melainkan proklamasi tauhid dan pernyataan ketundukan seorang hamba kepada Rabbnya.

Berdasarkan penjelasan para ulama, lafal Talbiah memiliki makna-makna mendalam sebagai berikut:

1. Makna Secara Bahasa (Lughatan-Terminologi)

Kata “Labbaik” (لَبَّيْكَ) berasal dari akar kata Al-Lubbu yang berarti inti atau saripati. Para ulama pakar bahasa menjelaskan beberapa makna di balik kata ini:

  • Menetap dan Terus Menerus:

أنها مأخوذة من لَبّ بالمكان، إذا أقام به ولزمه، والمعنى أنا مقيم على طاعتك ملازم لها،

فتتضمن التزام دوام العبودية

Berasal dari ungkapan Lubb al-makaan yang maknanya menetap di sebuah tempat dan terus-menerus berada di tempat tersebut. Sehingga arti ungkapan talbiah adalah “Aku menetap dalam ketaatan kepada-Mu secara terus-menerus. (Islamqa.info-Syekh Shalih al-Munajjid)

  • Cinta dan Pengabdian:

Kata ini bermakna حبا لك بعد حب

“Cintaku yang amat mendalam”, diambil dari ungkapan Imra’ah Labba-ah (wanita yang sangat mencintai anaknya). (Islamqa.info-Syekh Shalih al-Munajjid)

  • Keikhlasan:

Menunjukkan bahwa hati sang hamba hanya tertuju kepada Allah, bersih dari segala bentuk kesyirikan. Karena talbiah…

مأخوذ من لُبِّ الشيء، وهو خالصه، ومنه لُب الرجل عقله وقلبه

berasal dari kata Lubb asy-Syai’ (saripati sebuah benda), maksudnya unsur yang paling murni, ada ungkapan populer dalam bahasa Arab Lubb ar-Rojuli ‘Aqluhu wa Qolbuhu (saripati daripada seorang laki-laki adalah akal dan hatinya). (Islamqa.info-Syekh Shalih al-Munajjid)

  • Mendekat dengan amat mendepat:

Karena kata Labbaik juga berasal dari kata Ilbab yang maknanya al-Iqtirob, yang artinya

أي اقتراب إليك بعد اقتراب

pendekatan kepadamu setelah pendekatan. (Islamqa.info-Syekh Shalih al-Munajjid)

Artinya upaya tiada henti untuk mendekat kepada-Mu.

2. Jawaban Atas Panggilan Allah

Makna utama Labbaik adalah:

لبَّيك اللهمَّ لبَّيك، لبَّيك لا شريك لك لبَّيكَ، إنَّ الحمدَ والنعمةَ لك والملكَ، لا شريكَ لك

“Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan seluruh kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyeru manusia untuk berhaji, setiap mukmin menyambutnya dengan kalimat ini. Allah abadikan dalam Al-Qur’an:

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

 

“Serulah manusia wahai Ibrahim untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).

Mengucapkan Labbaik sebanyak dua kali (atau lebih) menunjukkan penekanan bahwa jawaban tersebut dilakukan dengan penuh kesungguhan dan pengulangan yang tak terbatas.

3. Kandungan Tauhid dalam Talbiah

Haji adalah syiar tauhid sejak saat pertama seorang jamaah memulai ibadahnya. Hal ini sebagaimana digambarkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu saat menyifati cara berhaji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ثُمَّ أَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ: لَبَّيْكَ اللهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيكَ لَكَ

“Kemudian beliau (Nabi) memulai ikhlal (talbiah) dengan tauhid: ‘Labbaik Allahumma labbaik, labbaik laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika lak’.” (HR. Muslim).

Lafal ini sekaligus menjadi pembeda yang sangat tegas antara tauhid seorang mukmin dengan kesyirikan kaum jahiliyah. Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bagaimana kaum musyrik dahulu ber-talbiah dengan menyisipkan kesyirikan: “Kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu, Engkau memilikinya dan apa yang ia miliki.” Islam datang untuk memurnikan hal tersebut dengan penegasan “Lā syarīka laka“ (Tidak ada sekutu bagi-Mu).

4. Hubungan Antara Nikmat, Pujian, dan Kerajaan

Bagian akhir talbiah (إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ) mengandung pujian yang luar biasa komprehensif. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib as-Sunan (2/339) menjelaskan bahwa talbiah ini menghimpun pengakuan atas bersatunya Kerajaan (Al-Mulk), Nikmat (An-Ni’mah), dan Pujian (Al-Hamd) bagi Allah.

Beliau memaparkan:

أن هذه التلبية ” متضمّنة للإخبار عن اجتماع الملك والنعمة والحمد لله عزّ وجل ، وهذا نوع آخر من الثناء عليه ، غير الثناء بمفردات تلك الأوصاف العليّة، فله سبحانه من أوصافه العلى نوعا ثناء : نوعٌ متعلّق بكل صفةٍ صفةٍ على انفرادها ، ونوعٌ متعلّق باجتماعها ، وهو كمال مع كمال وهو عامة الكمال، والله سبحانه يفرِّق في صفاته بين الملك والحمد ، وسوغ هذا المعنى أن اقتران أحدهما بالآخر من أعظم الكمال ، والملك وحده كمال ، والحمد كمال ، واقتران أحدهما بالآخر كمال ، فإذا اجتمع الملك المتضمن للقدرة، مع النعمة المتضمنة لغاية النفع والإحسان والرّحمة ، مع الحمد المتضمن لعامة الجلال والإكرام الدّاعي إلي محبته، كان في ذلك من العظمة والكمال والجلال ما هو أولى به وهو أهله ، وكان في ذكر العبد له ومعرفته به من انجذاب قلبه إلى الله وإقباله عليه والتوجه بدواعي المحبة كلها إليه ما هو مقصود العبودية ولبّها، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاء” قاله ابن القيم رحمه الله في كتابه تهذيب السنن ( 2/ 339 ).

“Kalimat Talbiyah mengandung pengabaran tentang berpadunya Kekuasaan (Al-Mulk), Kenikmatan (An-Ni’mah), dan Pujian (Al-Hamd) bagi Allah Azza wa Jalla. Ini adalah bentuk sanjungan jenis lain bagi-Nya, yang melampaui sekadar sanjungan terhadap setiap sifat tersebut secara terpisah.

Maka bagi Allah Yang Maha Suci, atas sifat-sifat-Nya yang luhur, terdapat dua jenis sanjungan: pertama, sanjungan yang berkaitan dengan masing-masing sifat secara mandiri; dan kedua, sanjungan yang lahir dari perpaduan sifat-sifat tersebut. Perpaduan ini adalah kesempurnaan di atas kesempurnaan, yang merupakan puncak dari segala kesempurnaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala terkadang menyebutkan secara terpisah antara Kekuasaan dan Pujian, namun makna ini (dalam Talbiyah) menjadi sangat istimewa karena penyandingan keduanya merupakan bentuk keagungan yang paling utama. Kekuasaan adalah sebuah kesempurnaan, dan Pujian adalah sebuah kesempurnaan; namun menyatunya keduanya adalah kesempurnaan yang berlipat ganda.

Maka, apabila Kekuasaan yang mengandung kemahakuasaan (Qudrah) bersatu dengan Kenikmatan yang mengandung puncak kemanfaatan, ihsan, dan rahmat, serta bersatu dengan Pujian yang mencakup segala keagungan dan kemuliaan yang mengundang cinta kepada-Nya, maka terpancarlah keagungan, kesempurnaan, dan kemuliaan yang memang hanya layak bagi-Nya.

Saat seorang hamba menyebut dan menyadari hal itu, hatinya akan tertarik kuat kepada Allah, jiwanya akan menghadap penuh kepada-Nya, dan seluruh dorongan cintanya akan tertuju kepada-Nya. Inilah maksud terdalam dan inti sari dari penghambaan (ubudiyah). Dan itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.”

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa kesadaran seorang hamba akan bersatunya sifat-sifat ini akan membuat hatinya “tertarik” secara kuat kepada Allah, menghadapkan seluruh rasa cintanya kepada-Nya, yang mana hal ini merupakan inti dan sari pati dari peribadatan (lubbul ‘ubudiyyah).

Kesimpulan

Talbiyah merupakan pernyataan kesetiaan dan ikrar penghambaan seorang hamba kepada Allah ﷻ yang mencerminkan tiga pilar fundamental:

Pertama, Pujian Mutlak kepada Allah.

Talbiyah mengandung unsur tahmīd, yaitu pemujaan dan pengagungan kepada Allah ﷻ secara mutlak. Pujian kepada-Nya merupakan salah satu bentuk ibadah yang paling dicintai dan menjadi sarana utama untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kedua, Pengakuan atas Seluruh Nikmat.

Penggunaan kata sandang “al” (alif-lām) pada lafaz an-ni‘mah menunjukkan makna istighrāq, yakni mencakup seluruh jenis nikmat tanpa pengecualian. Hal ini menegaskan bahwa setiap nikmat yang dirasakan oleh hamba sepenuhnya berasal dari Allah ﷻ; Dialah satu-satunya Pemberi dan Pelimpah nikmat. Penegasan ini sejalan dengan penjelasan Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa‘dī رحمه الله bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dalam pemberian nikmat apapun kepada hamba-Nya.

Ketiga, Pengakuan atas Kekuasaan Tunggal.

Talbiyah juga mengandung pengakuan teologis bahwa seluruh kerajaan dan kekuasaan hakiki hanyalah milik Allah ﷻ semata. Tidak ada kepemilikan maupun otoritas yang berdiri sendiri bagi selain-Nya, melainkan semuanya berada di bawah kekuasaan dan kehendak-Nya (Mukhtashar Tahdzīb as-Sunan (2/335–339).

Talbiah adalah janji setia seorang hamba kepada Allah. Dengan mengucapkannya, seorang jamaah sedang berikrar bahwa hidupnya, ketaatannya, dan seluruh ibadahnya hanya dipersembahkan untuk Allah tanpa tandingan sedikit pun. Hendaknya kalimat ini diucapkan dengan penuh penghayatan, bukan sekadar lisan yang berucap tanpa kehadiran hati.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button