Tentang Doa Untuk Orang Tua

Pertanyaan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu alaikum, Ustadz.

Di akhir doa untuk kedua orang tua kita ada kalimat “sebagaimana mereka memelihara kita waktu kecil” pertanyaan saya adalah apakah doa itu berlaku untuk ayah/ibu yg pada saat anakanya kecil di tinggalkan/di terlantarkan dan tidak memberi contoh yang baik untuk anaknya  bahkan mendzalimi anaknya dan apakah anaknya tetap  harus bertanggung jawab dan merawat ibu/bapaknya yang demikian di saat anaknya sudah sdh dewasa ?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari danniyah di Depok Anggota Grup WA Bimbingan Islam T04 G-35)


 
Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Benar doa tersebut berlaku untuk ayah atau ibu yg pada saat anakanya masih kecil meninggalkannya atau menelantarkannya dan tidak memberi contoh yang baik untuk anaknya. Bahkan jika orang tua tersebut mendzalimi anaknya, maka wajib baginya untuk tetap berbakti kepadanya.  Demikian juga anak berkewajiban untuk bertanggung jawab dan merawat ibu dan bapaknya yang sudah tua tatkala anaknya sudah dewasa.
Kewajiban tersebut berlaku umum untuk semua orang tua kandung bagaimanapun keadaan mereka, bahkan tatkala mereka adalah orang kafir Allah tetap memerintahkannya untuk tetap berbakti. Yang demikian ini berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada, diantaranya adalah firman Allah:

 وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ إِحۡسَٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهٗا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهٗاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَٰلُهُۥ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS. Al Ahqaf: 15). Demikian juga sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

 

 جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: «أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أُمُّكَ» قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ أَبُوكَ

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’ (HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548).

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Muhammad Romelan, Lc.