Artikel

Saat Amal Menjadi Tabir: Bahaya Ujub dan Pentingnya Taubat 

Bismillah…

Seringkali kita terjebak dalam sangkaan bahwa surga adalah upah atas deretan sujud yang panjang atau lembaran sedekah yang kita tunaikan. Kita merasa aman dengan timbangan yang seolah sudah penuh, lalu tanpa sadar, hati mulai mendongak. Kita merasa lebih “suci” dibanding mereka yang masih bergelimang peluh maksiat. Padahal, di situlah letak ujian yang paling halus: Ujub.

Itulah suatu penyakit hati yang secara tegas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan:

ثَلاَثُ مُهْلِكَاتٍ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. At-Thobroni dalam Al-Awshoth no. 5452 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 1802)

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Jika kalian tidak berdosa, maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub! ujub!” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 6868, hadits ini dinyatakan oleh Al-Munaawi bahwasanya isnadnya jayyid (baik) dalam at-Taisiir, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’ no. 5303)

Penyakit hati mematikan yang banyak menyerang orang-orang baik dan shalih. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Abdullah bin Al-Mubarak -rahimahullah-

 وَلاَ أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّيْنَ شَيْئًا شَرٌّ مِنَ الْعُجْبِ

“Aku tidak mengetahui pada orang-orang yang shalat perkara yang lebih buruk daripada ujub.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 8260)

Pelajaran dari Timbangan Amal: Antara Ihsan dan Khauf

Mari kita sejenak bertamu pada detik-detik akhir kehidupan Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah lelaki yang setan pun tak berani meniti jalan yang dilalui Umar. Namun, saat luka di perutnya menganga dan maut kian mendekat, seorang pemuda datang memujinya dengan segala kabar gembira tentang persahabatannya dengan Nabi ﷺ, keislamannya yang senior, keadilannya saat memimpin, hingga anugerah mati syahid.

Apa jawab Umar? Beliau tidak tersenyum bangga. Beliau justru berbisik lirih:

وَدِدْتُ أَنَّ ذَلِكَ كَفَافٌ لَا عَلَيَّ وَلَا لِي

“Aku berharap semua itu impas (kaffaf); tidak menjadi beban bagiku, dan tidak pula menjadi pahala untukku…” [HR. Bukhari].

Lihatlah generasi yang tiada bandingnya ini. Beliau dipuji atas amal nyata yang dikerjakannya, namun beliau sendiri enggan mengklaimnya. Beliau adalah orang yang paling berhak atas kabar gembira itu untuk membaguskan sangka kepada Tuhannya, namun beliau justru memilih tawadhu yang menakjubkan. Beliau hanya ingin pulang dalam keadaan bersih, tanpa beban, namun juga tanpa merasa telah berjasa.

Keteladanan serupa kita dapati pada Abdurrahman bin ‘Auf. Suatu hari, saat beliau sedang berpuasa dan dihidangkan makanan kepadanya, beliau justru menangis. Beliau teringat Mush’ab bin Umair dan Hamzah yang beliau nilai lebih baik darinya namun gugur dalam keadaan miskin harta, hingga kain kafannya pun tak cukup menutupi seluruh tubuh. Beliau bergetar seraya berucap:

لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يَكُونَ قَدْ عُجِّلَتْ لَنَا طَيِّبَاتُنَا فِي حَيَاتِنَا الدُّنْيَا

“Aku takut jika kenikmatan-kenikmatan kita telah disegerakan di kehidupan dunia ini.” 

Beliau menangis hingga makanan itu disingkirkan. Padahal, beliau adalah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam-, sejatinya lebih mulia daripada Mush’ab bin Umair dan Hamzah. Inilah sifat penduduk surga: mereka memadukan puncak amal (ihsan) dengan puncak kekhawatiran (khauf).

Rahasia Hati yang Bergetar

Inilah yang pernah ditanyakan oleh Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada Rasulullah ﷺ mengenai ayat,

الَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا أَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut…” (QS. Al-Mu’minun: 60).

Aisyah bertanya, “Apakah mereka itu orang yang berzina, mencuri, dan meminum khamr?”

Rasulullah ﷺ menjawab dengan lembut:

لَا يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ، أَوْ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْه

“Tidak, wahai putri As-Siddiq. Namun mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka takut amalannya tidak diterima.” [HR. Ahmad & Al-Hakim].

Bahkan Nabi Ibrahim Al-Khalil ‘alaihissalam, saat membangun Ka’bah; sebuah kemuliaan yang tiada tara beliau tetap memohon dengan penuh harap:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيم

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi-fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.” (Al-Baqarah: 127)

Simaklah sejenak, wahai hamba Allah…

Tafakkurilah dalam-dalam keadaan ayah dan anak yang mulia itu. Padahal keduanya sedang menunaikan amal yang paling agung, kedudukan yang paling tinggi, langsung di bawah titah dan bimbingan Rabb-nya. Namun lihatlah, lisan mereka tetap basah merintih:

“Wahai Rabb kami, sudilah kiranya Engkau menerima amal dari kami.”

Maka, selamilah bagaimana getar batin mereka; perpaduan antara rasa takut (khauf) yang menghujam dan harapan (raja’) yang membumbung, kalau-kalau persembahan mereka tak layak di sisi-Nya.

Jika demikian rupa keadaan Sang Imam bagi orang-orang yang lurus, teladan bagi mereka yang bertauhid sejati… lantas bagaimanakah dengan keadaan kita? Bagaimanakah dengan ibadah kita yang masih sering compang-camping dan hati yang kerap berpaling?

Saat Allah Menghendaki Kebaikan

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Thariq al-Hijratain, hlm. 270, membukakan tabir hikmah ini bagi kita. Beliau mengingatkan bahwa jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan mencabut rasa bangga terhadap amal shalih dari hatinya. Lisan kita dibungkam dari menceritakannya, dan hati kita dibuat sibuk meratapi cacatnya amal tersebut.

Ada sebuah paradoks yang menggetarkan: Seorang hamba bisa masuk surga karena dosanya, dan bisa masuk neraka karena amal baiknya.

Bagaimana mungkin?

  • Dosa yang Membawa ke Surga: Adalah dosa yang membuahkan rasa hancur (inkisar), penyesalan yang jujur, dan perasaan rendah di hadapan Rabbul ‘Alamin. Dosa itu membuatnya terus bersimpuh, sehingga ia masuk surga bukan karena maksiatnya, melainkan karena taubat dan hancurnya kesombongan setelahnya.
  • Amal yang Membawa ke Neraka: Adalah amal shalih yang membuahkan rasa besar diri, merasa telah memberi “piutang” kepada Allah, dan memandang remeh sesama. Ia masuk neraka bukan karena shalat atau puasa, melainkan karena kesombongan yang tumbuh di sela-sela sujudnya.

Maka bertawaduklah, wahai jiwa-jiwa yang merindu ridha-Nya. Lihatlah lembaran amal para Salafush Shalih agar kita tahu di mana posisi kita berdiri. Agar kita sadar, bahwa kita masih sangat butuh pada ampunan-Nya, bahkan di tengah amal-amal terbaik kita.

Semoga Allah menyelamatkan kita dari tipu daya perasaan telah menjadi orang baik, dan mengaruniakan kita akhir hidup yang kaffah dalam ridha-Nya.

Wallohu a’lam

Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. M.Pd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. حفظه الله Alumni Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia (S1) & Manajemen Pendidikan UNY (S2). Pembina di Rumuz for Islamic School Managers, Diniyyah Gistrav Islamia School dan Direktur PP Darussalam Tanjung Telang, dai dari Jogjakarta.
Back to top button