Kuliner Darah

Kuliner Darah

Kuliner Darah

السؤال : بعض الناس عندنا في أندونيسيا يحللون الطعام المصنوع من الدم ، لأن الذي حرمه الله هو الدم  المسفوح أي الجاري كما هو المقرر في سورة الأنعام 145  أما الطعام المصنوع من الدم لم يكن مسفوحا فيجوز أكله حينئذ …. ما هو الحكم الشرعي في تناول مثل هذا الطعام … ؟

Pertanyaan : Sebagian manusia dinegara kami di Indonesia, menghalalkan makanan yang terbuat dari darah, karena yang diharamkan oleh Allah adalah damman masfuuhan/darah yang mengalir sebagaimana tercantum dalam surat Al An’am 145. Adapun makanan yang terbuat dari darah kan tidak mengalir maka boleh dikonsumsi ketika itu. Apa sebenarnya hukum syar’i mengkonsumsi makanan seperti ini ?

الجواب :

الحمد لله

نعم ، الدم المحرم أكله هو الدم المسفوح ، لقول الله تعالى : (قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ) الأنعام/145 .

والدم المسفوح هو الذي يسيل ، كالدم الخارج من الذبيحة بعد ذبحها ، فهو دم مسفوح نجس، حرام أكله .

فلو أُخذ هذا الدم وجُمِّد وصنع منه طعامٌ فإنه حرام ، لأن تجمده وتصنيعه لا يخرجه عن كونه مسفوحاً في الأصل .

إلا إذا تغيرت صفاته بالكامل نتيجة لعملية التصنيع ، وتحول إلى مادة أخرى غير الدم ، لها صفاتها المختلفة عن صفات الدم .

فهنا يرد فيه خلاف بين العلماء : هل تَحَوُّل المادة الخبيثة النجسة المحرمة إلى مادة أخرى ليست خبيثة ، هل هذا التحول يطهرها ويحلها أم لا ؟ وهي مسألة خلافية عند العلماء ، والصحيح من أقوالهم أنها تطهر وتحل ، لأن المادة المحكوم عليها بالخبث والنجاسة والتحريم قد زالت ولم تعد موجودة ، إلا إذا كان استعمال هذه المادة في الطعام يسبب أضراراً للإنسان ، فتحرم بسبب الضرر لا بسبب النجاسة .

أما الدم غير المسفوح فهو الذي يسيل ولا يراق ، كالكبد ، والطحال ، وكذلك الدم الباقي في عروق الذبيحة وقلبها بعد الذبح ، فإنه لا حرج في أكله لأنه ليس مسفوحاً ، ولهذا لو طبخ اللحم وخرج ما فيه من دم وطاف على وجه المرق لم يحرم شربه ، وقد ورد عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت : كنا نأكل اللحم والدم خطوط على القدر .

والله أعلم .

كتبه : سامح عباس الغنيمي .

الأحد 17 من ذي الحجة 1432 هـ ، الموافق : 13 من نوفمبر 2011 م .

Jawaban : Alhamdulillah, Iya darah yang haram adalah darah yang mengalir berdasarkan firman Allah ta’ala, “Katakanlah : “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi  karena sesungguhnya semua itu kotor”.  (QS Al-An’am : 145).

Dammun masfuh adalah darah yang mengalir seperti darah yang keluar dari hewan yang disembelih, maka ia adalah darah yang masfuh yang haram untuk dimakan.

Seandainya darah ini diambil lalu dipadatkan dan dibuat makanan maka ia haram, karena pemadatannya dan proses pembuatannya tidak mengeluarkannya dari kategori darah yang mengalir secara asal.

Kecuali jika sifat darah ini berubah secara total dikarenakan sebuah proses, lalu berubah menjadi zat lain yang bukan darah yang memiliki sifat yang berbeda dengan sifat darah, kalau seperti ini keadaanya maka ada perbedaan dikalangan para ulama : apakah zat yang kotor, najis dan haram bisa berubah menjadi zat yang tidak kotor, apakah perubahan ini menyebabkannya menjadi halal dan suci ataukah tidak ? ini adalah permasalahan yang diperselisihkan para ulama.

Dan yang benar adalah perubahan zat tersebut (perubahan yang total yang membuat suatu zat berubah menjadi zat lain) bisa membuat halal dan suci, karena zat yang dihukumi najis dan kotor tersebut sudah hilang, kecuali jika mengkonsumsi zat ini mengakibatkan adanya madhorot pada manusia maka ia menjadi haram karena kemadhorotannya bukan karena kenajisannya.

Adapun dammun ghoiru masfuh/darah yang tidak mengalir adalah darah yang mengalir akan tetapi tidak ditumpahkan (dengan cara isembelih)seperti hati dan limpa, demikian pula darah yang tersisa pada urat hewan sembelihan maupun pada jantung setelah disembelih. Yang seperti ini tidak apa-apa dimakan karena ia bukan darah yang masfuh, oleh karenanya seadainya daging dimasak lalu keluar darah yang bercampur pada kuah maka tidak diharamkan meminumnya dan telah diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata, “Dahulu kami memakan daging dan sisa darah yang ada pada kuali”. Wallahu a’lam

Referensi :

Tulisan Samih Abbas Al Ghunaimy

Disusun oleh:
Ustadz Abul Aswad al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)



Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
Beliau adalah Alumni Mediu, Dewan konsultasi Bimbingan Islam, dan da’i di kota Klaten.
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad al Bayati, BA حفظه الله
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS