Sebab Kauni Dan Sebab Syar’i Datangnya Sakit

Sebab Kauni Dan Sebab Syar’i Datangnya Sakit

Sebab Kauni Dan Sebab Syar’i Datangnya Sakit

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, sakit dan sehat itu kan kehendak Allah, dan sekarang sedang musim hujan dan biasanya kan banyak yang sakit karena sering kehujanan. Apakah itu tidak tergolong syirik ustadz? Karena mempercayai bahwa sakit disebabkan oleh cuaca. Jazakallahu khoiron.

(Disampaikan Oleh Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Meyakini bahwa sakit itu disebabkan oleh cuaca atau cuaca sebagai penyebab dari suatu penyakit, tidaklah salah secara Mutlaq. Penyebab rancu nya hal ini karena adanya perbedaan persepsi dalam mengartikan kata sebab.
Tidak semua orang yang mengatakan sakit karena hujan itu berarti tidak paham tauhid dan taqdir, Insya Alloh banyak diantara kita yang mengatakan sakit demam karena kehujanan namun dengan keyakinan didalam hati bahwa itu sudah bagian dari taqdir Alloh. Walau dari sisi bahasa kata sebab memang sering dimaknai secara langsung.

Dalam kacamata syari’at, sebab itu ada 2; Sebab Kauni (Sebab – Akibat di Dunia) dan Sebab Syar’i (Sebab – Akibat kehendak Alloh). Contoh Sebab Kauni seperti makan menyebabkan kenyang, angkat beban bisa menguatkan otot, hujan-hujanan bisa menggigil kedinginan, dll. Dan contoh Sebab Syar’i seperti mendapatkan rumah di Surga bagi yang membangun Masjid di dunia, banyak Istighfar akan melapangkan rezeki, dll.

Maka saat ada orang yang mengatakan bahwa sakitnya karena sering kehujanan, sedangkan ia tahu bahwa Alloh lah yang memberi ia penyakit sebagaimana Alloh pula lah yang menurunkan hujan, Alloh Ta’ala berfiman;

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ

Sejatinya Alloh, hanya pada sisi-Nya lah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sejatinya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Luqman 34)

Orang seperti itu tidak bisa disebut syirik, ia hanya mengucapkan lafal -sebab- yang telah menjadi kebiasaan, cukup sampaikan padanya untuk membiasakan tambahan lafal Qoddarulloh. Apalagi jika ia tahu bahwa hujan merupakan salah satu kunci ilmu ghoib, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِفْتَاحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللَّهُ لاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى غَدٍ ، وَلاَ يَعْلَمُ أَحَدٌ مَا يَكُونُ فِى الأَرْحَامِ ، وَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ، وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ، وَمَا يَدْرِى أَحَدٌ مَتَى يَجِىءُ الْمَطَرُ

Kunci ilmu ghoib ada lima, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh Ta’ala. [1] Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yangg terjadi keesokan harinya. [2] Tidak ada seorang pun mengetahui apa yang terjadi dalam rahim. [3] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang ia lakukan besok. [4] Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui di manakah ia akan mati. [5] Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan turunnya hujan”. [HR Bukhori 1039]

Lain cerita jika ia berlebihan dalam Taqdir Kauni sehingga mencampuri Taqdir Syar’i, seperti ketika ada orang kehujanan lalu ia mengatakan ‘Wah besok PASTI demam nih’. Ia salah karena Hukum Sebab – Akibat dunia yang mestinya hanya sebagai salah satu indikator dikaitkan dengan kepastian dalam Hukum Sebab – Akibat Syari’at, padahal sangat mungkin bagi Alloh untuk menetapkan sehat walau orang tersebut baru saja kehujanan. Yang demikian ini salah karena telah memastikan lafal ‘sebab’ sebagai sebuah kepastian, hanya melihat dari sisi Sebab Kauni dan meninggalkan sisi Sebab Syar’i.

Wallahu a’lam, wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
📆 Rabu, 13 Rajab 1440 H / 20 Maret 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS