Apakah Tinta Yang Menghalangi Kulit Harus Dibersihkan Ketika Wudhu?

Apakah Tinta Yang Menghalangi Kulit Harus Dibersihkan Ketika Wudhu?

Apakah Tinta Yang Menghalangi Kulit Harus Dibersihkan Ketika Wudhu?

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Semoga Ustadz dan keluarga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Aamiin yaa Robbal alamiin.

Ustadz jika jari kita masih ada tinta pemilu, maka shalat tidak sah, harus dihilangkan dulu?

Jazaakallah khayran

(Disampaikan oleh ITA, Sahabat Bias T07 G-45)


Jawaban :

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Iya jika keberadaan tinta tersebut sampai menghalangi sampainya air wudhu ke permukaan kulit. Kita mencuci dan membersihkannya dengan air sabun jika tetap membandel maka bisa menggunakan bensin lalu dibilas air. Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menayatakan :

إن كان الحبر له جسم يمنع الماء فلابد تعيد الوضوء … في ذراعك أو في رجلك، لابد تعيد الوضوء، أما إن كان ما له جسم مجرد صفرة أو سواد صبغ ما يمنع الماء، فلا بأس ولا حرج، أما إذا كان له جسم يمنع الماء فهذا لابد من إزالته قبل الوضوء، وإذا نسيت ولم تزله تعيد الوضوء، وهكذا في الغسل، لابد أن تزيله عند غسل الجنابة، إذا كان له جسم، أما إذا كان ما له جسم، إنما هو مجرد صورة سواد، صورة حمرة، صورة شهبة، فهذا ما يضر ما يمنع؛ لأنه ما له جسم، نعم.

“Apabila tinta tersebut memiliki jisim yang menghalangi sampainya air maka engkau harus mengulangi wudhu. Apakah tinta itu ada di tanganmu atau kakimu engkau harus mengaulangi wudhumu.

Adapun jika tinta itu tak memiliki jisim, hanya sebersit warna kuning, atau hitam, sekedar warna yang tidak menghalangi sampainya air, maka tidak mengapa. Adapun jika tinta memiliki jisim yang menghalangi sampainya air maka harus dihilangkan sebelum wudhu.

Jika engkau lupa tidak membersihkannya maka engkau harus mengulangi wudhu. Demikian pula dalam kasus mandi, engkau harus menghilangkan tinta ini tatkala mandi janabah, jika tinta tersebut memiliki jisim.

Adapun jika tinta tak memiliki jisim hanya sekedar warna hitam, merah atau semburat yang samar, maka ini tidak memadharati sama sekali karena ia tidak menghalangi sampainya air, karena ia tidak memiliki jisim.”

(Fatawa Syaikh Bin Baz no. 13279).

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
📆 Kamis, 12 Sya’ban 1440 H / 18 April 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS