Adab & AkhlakArtikel

Kiat Menumbuhkan Cinta Dalam Syariat Islam

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Kiat Menumbuhkan Cinta Dalam Syariat Islam

Cinta merupakan sebuah kata yang menyimpan berjuta makna, sebuah eksistensi yang bisa dirasakan namun sulit untuk dididefinisikan. Imam Ibnul Qayyim pernah berkata tentang definisi “mahabbah” kata cinta dalam bahasa arab:

لا تحد المحبة بحد أوضح منها، فالحدود لا تزيدها إلا خفاء وجفاء، فحدها وجودها. ولا توصف المحبة بوصف أظهر من المحبة.

“Cinta tidak bisa didefinisikan dengan sesuatu yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri. Mendefinisikannya hanya membuat kata cinta lebih tersamarkan. Definisi yang pas adalah kata cinta itu sendiri. Kata cinta tidak bisa disifati dengan sifat yang lebih jelas dari kata sifat itu sendiri.” (Madarijus salikin : 3/11).

Jika disebutkan kata cinta, kita akan mendengar ungkapan yang berbeda-beda ketika membahasnya. Beda orang beda pula cara mengupasnya, karena orang hanya bisa menggambarkan cinta yang ia rasakan.

Dalam agama islam perkara cinta memiliki kedudukan yang sangat tinggi, karena memang agama islam yang dibawa oleh rasulullah ﷺ ini adalah agama rahmat, agama yang penuh cinta dan kasih sayang, Allah ﷻ berfirman:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’ : 107).

Islam mengajarkan bahwa cinta yang tulus dan murni hanya pantas diberikan kepada Allah ﷻ, Sang pencipta, Dzat pemiliki langit dan bumi, sedangkan cinta lainnya sifatnya hanya mengikuti cinta kepada Allah ﷻ. Oleh karenanya Allah ﷻ mengabarkan korelasi antara iman dengan kecintaan dalam firmanNya:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah…..” (Al Baqarah:165).

Bagaimana pada ayat tersebut Allah ﷻ menggambarkan bahwa orang beriman mempersembahkan cinta terbesarnya kepada Allah ﷻ berkebalikan dengan orang kafir, musyrik, tidak beriman kepada Allah ﷻ.

Mereka menyamakan kadar cinta yang mereka persembahkan untuk Allah ﷻ dan selainNya, sehingga orang yang beriman kepada Allah ﷻ, mereka memiliki kaedah dalam mencintai, yaitu mereka akan mencintai apapun yang Allah ﷻ cintai dan siap untuk membenci apapun yang Allah benci. Hal ini tergambarkan dalam hadits rasulullah ﷺ:

ثَلاَثٌ مَن كُنَّ فِيهِ وجَدَ حَلاَوَةَ الإيمانِ: مَن كانَ اللَّهُ ورَسُولُهُ أحَبَّ إلَيْهِ مِمّا سِواهُما، ومَن أحَبَّ عَبْدًا لاَ يُحِبُّهُ إلّا لِلَّهِ ﷿، ومَن يَكْرَهُ أنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ، بَعْدَ إذْ أنْقَذَهُ اللَّهُ، مِنهُ كَما يَكْرَهُ أنْ يُلْقى فِي النّارِ

“Tiga perkara yang apabila terkumpul pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya keimanan; mencintai Allah dan rasulNya lebih dari yang lain, mencintai seorang hamba hanya karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari no. 21 & Muslim no. 68).

Intinya, orang yang beriman kepada Allah ﷻ akan totalitas mencintai Allah ﷻ yang mana konsekuensinya adalah dia akan mencintai segala sesuatu yang Allah cintai. Termasuk disini mencintai manusia yang Allah cintai, seperti nabi dan orang-orang sholih. Dia akan mengusahakan untuk mencintai orang yang Allah cintai, dan membuat orang tersebut cinta kepadanya.

Tentu tidak masuk dalam pembahasan ini cinta terlarang antara laki-laki dan perempuan sebelum pernikahan, karena ini merupakan cinta yang diharamkan oleh Allah ﷻ, karena itu rasulullah ﷺ bersabda:

Baca Juga:  Kaidah-Kaidah Fiqih Terkait Halal Haram Makanan (Bagian 2)

لَمْ نَرَ لِلْمُتَحابَّيْنِ مِثْلُ النِّكاحِ

“Kami tidak melihat adanya solusi untuk dua orang insan yang saling mencintai selain pernikahan”. (HR. Ibnu Majah : 1847).

Kiat menumbuhkan cinta diantara orang beriman

Banyak cara untuk menumbuhkan rasa cinta dengan sesama, islam pun mengajarkan bagaimana cara untuk menumbuhkan dan memperkuat cinta diatas keimanan, diantaranya:

1. Memberi hadiah.

Memberi hadiah terbukti ampuh untuk menumbuhkan cinta dari orang lain. Rasulullah ﷺ pun menganjurkan kita untuk saling memberi untuk memperkuat kecintaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

تهادوا تحابُّوا

“Saling memberi hadiahlah, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam kitab adabul mufrad no. 594).

2. Menebarkan salam.

Saling mengucapkan salam dengan sesama orang yang beriman juga dapat menimbulkan kecintaan, rasulullah ﷺ bersabda:

لا تَدْخُلُونَ الجَنَّةَ حَتّى تُؤْمِنُوا، ولا تُؤْمِنُوا حَتّى تَحابُّوا، أوَلا أدُلُّكُمْ عَلى شَيْءٍ إذا فَعَلْتُمُوهُ تَحابَبْتُمْ؟ أفْشُوا السَّلامَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman sampai kalian saling mencintai. Tidakkah kalian mau aku tunjukkan suatu amalan jika kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai? tebarkanlah salam diantara kalian.” (HR. Muslim no. 93).

3. Menahan diri dari meminta kepada orang lain.

Bersikap zuhud dan menahan diri dari meminta-minta akan menumbuhkan cinta dari manusia, karena pada asalnya manusia tidak suka diminta hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

ازْهَدْ فِي الدُّنْيا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وازْهَدْ فِيما فِي أيْدِي النّاسِ يُحِبُّكَ النّاسُ

“Bersikap zuhudlah di dunia, niscara Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah dari sesuatu yang dimiliki manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 4102).

4. Berakhlak mulia.

Bermuamalah dengan manusia dengan akhlak yang mulia termasuk sebab tumbuhnya rasa cinta. Memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, rasulullah ﷺ bersabda:

لا يُؤْمِنُ أحَدُكُمْ حَتّى يُحِبَّ لِأخِيهِ ما يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang, sampai dia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Muslim no. 71).

Imam Ghazali berkata:

اعلم أن الألفة ثمرة حسن الخلق، والتفرق ثمرة سوء الخلق

“Ketahuilah bahwa kasih sayang adalah buah dari akhlak yang baik, dan perpecahan adalah buah dari akhlak yang buruk.” (Ihya ‘ulumuddin : 2/157).

5. Tidak berkata kasar.

Berkata kasar seringkali menjadi penyebab utama permusuhan dan pertengkaran, dan sebaliknya berkata baik dan lembut seringkali sanggup meredam emosi. Karena itulah islam selalu mengajarkan umatnya untuk menjaga perkataan, karena sejatinya perkataan buruk dan kasar berasal dari syaithon. Allah ﷻ berfirman:

وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينٗا

“Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (Al Isra’:53).

Wallahu a’lam

Disusun oleh :
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 29 Syawwal 1442 H / 10 Juni 2021 M



Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

 

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button