Keluarga

Kemelut Hidup Seorang Menantu Dengan Mertua

Kemelut Hidup Seorang Menantu Dengan Mertua

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Kemelut Hidup Seorang Menantu Dengan Mertua, selamat membaca.


Pertanyaan:

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya menikah 1 tahun yang lalu, suami saya seorang anak tunggal, saya bekerja dan suami juga bekerja. Ada beberapa permasalahan:

1. Minggu lalu mertua saya kecelakaan, saya sudah izin 2 hari tidak masuk kerja karena mertua saya harus dioperasi. Saya diomeli habis-habisan sama atasan saya dengan alasan beliau “Yang sakit kan mertua bukan orang tua kandung saya”. Jadinya, selama mertua saya masih di RS saudara lain yang bantu menjaganya, saya dan suami kerja.

Sampai saat ini pun, setelah mertua sudah pulang dari RS dirawat di rumah kakak mertua saya, setiap hari saya dan suami ke sana untuk menengok mertua, dan saya merasa keluarga suami pun memojokkan saya seperti “mertuanya sakit kok gak dirawat baik², malah kerja dll” padahal kondisi keuangan kami sekarang ini sedang naik turun/labil. Menurut ustadz apa yang harus saya lakukan?

2. Mertua saya juga bekerja, saat ini masih belum bisa masuk kerja, berencana untuk resign dan meminta suami saya menggantikannya, sedangkan suami saya tidak mau karena dulu pernah ditolak sama kantornya karena ada yang iri dengannya dan karena dia lebih nyaman dengan pekerjaannya sekarang. Sampai mamanya berucap “kamu nurut saja sama mama, jangan membantah nanti hidupmu sengsara” dari kecil hingga kini suami saya sudah menurut apa kata orang tua. Saya tahu bakti suami ke orang tua nomor satu, sekarang kita sudah punya keluarga kecil apakah kita tidak bisa memilih hidup kita harus bagaimana? Apakah selalu menurut orang tua?

Atas jawabannya saya ucapkan

(Dari Fulanah Anggota Grup Whatsapp Sahabat BiAS)


Jawaban:

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Wa’alaikumussalam Warahmatullah Wabarakatuh

Kemelut Hidup Seorang Menantu Dengan Mertua

1. Seorang istri itu pada asalnya di rumah saja, suaminyalah yang berkewajiban memberi nafkah, jika telah mencukupi maka itu adalah terbaik bagi seorang istri dengan tidak perlu bekerja. Sehingga jika ada kejadian semisal mertua butuh perhatian, dia bisa secara maksimal dapat memberikan perhatiannya. Dan hubungan baik serta istimewa dengan mertua akan lebih langgeng dan utuh.

Kalau soal keadaan ekonomi lagi labil, maka sederhanakan gaya hidup, sehingga kebutuhan yang tidak penting, sekadar kebutuhan tersier/gaya-gayaan tidak perlu dilihat dan menjadi sebuah beban pikiran.

Jika memang terpaksa seorang istri bekerja karena kebutuhan mendesak, maka sampaikan alasannya kepada mertua dengan cara yang patut, dan bagi mereka harap memakluminya dengan baik. Syukur Alhamdulillah, jika diberikan nasihat dan arahan yang berharga dari mereka.

Setiap orang punya masalah hidup yang berbeda-beda, tingkat kesukaran dan keruwetannya juga tidak sama. Maka hadapi dengan ilmu akal yang lurus, dan kepala dingin, semoga Allah Yang Maha Pemurah memberikan jalan keluar terbaik.

2. Orang tua tidak berhak menentukan pekerjaan sang anak, karena hal ini di luar kapasitasnya, berbuat baik kepada orang tua bagi anak adalah kewajiban, dan ini adalah persoalan yang berbeda. menyamakan keduanya adalah kekeliruan, pun menolak ide jenis pekerjaan yang ditawarkan orang tua tersebut haruslah penuh adab dan kesantunan.

Jika bisa menuruti kemauan orang tua dengan bekerja sesuai dengan keinginan mereka ini adalah hal yang diharapkan dan diutamakan, tapi tidak sampai pada tahap kewajiban yang harus diambil.

Perintah Berbakti Kepada Orang Tua

Jalan untuk menggapai ridha Allah ‘Azza wa Jalla melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Qur’an, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan untuk berbakti kepada orang tuanya. Seperti tersurat dalam surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (QS. Al-Israa’ : 23-24).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Kamis, 21 Rabiul Awal 1443 H/ 28 Oktober 2021 M


Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Suami Tidak Memberi Nafkah Lahir Batin, Bolehkah Minta Cerai?

Ustadz Fadly Gugul, S.Ag

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2012 – 2016 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Takhosus Ilmi di PP Al-Furqon Gresik Jawa Timur | Beliau juga pernah mengikuti Pengabdian santri selama satu tahun di kantor utama ICBB Yogyakarta (sebagai guru praktek tingkat SMP & SMA) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Dakwah masyarakat (kajian kitab), Kajian tematik offline & Khotib Jum’at

Related Articles

Back to top button