Adakah Sholat Iftitah Sebelum Sholat Tarawih?
Adakah Sholat Iftitah Sebelum Sholat Tarawih?
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Adakah Sholat Iftitah Sebelum Sholat Tarawih?. selamat membaca.
Pertanyaan:
Assalamualikum Ustadz, Semoga diberikan kemudahan dan sehat amin. Di tempat masjid ana sebelum sholat taraweh melakukan sholat sunnah iftitah 2 rakaat apakah ada dalilnya ustadz? Syukron Jazakumullah Khairan
Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh
Terkait dengan Shalat Iftitah , diantara dalil shalat iftitah mengacu kepada riwayat Aisyah berikut di mana disebutkan,”
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ لِيُصَلِّيَ افْتَتَحَ صَلاَتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ [رواه مسلم].
“Dari ‘Aisyah (diriwayatkan) ia berkata, adalah Rasulullah saw apabila akan melaksanakan shalat lail, beliau memulai (membuka) shalatnya dengan (shalat) dua rakaat yang ringan-ringan” [HR. Muslim].
Apakah bisa langsung diterapkan pada permulaan shalat tarawih, sebagai shalat pembuka?
Ada perbedaan penafsiran dalam memahami dua rakaat hadist tersebut, antara yang mengatakan bahwa ia ada shalat sunnah setelah wudhu dan ada juga yang menjelaskan keduanya bagian dari shalat tahajjud.
Berkata al Qari Mula di dalam syarh Muslim ketika menjelaskan maksud dari hadist di atas, diantaranya beliau menjelaskan bahwa shalat malam di atas maksudnya adalah shalat tahajjud, dimana beliau shallallahu alaihi wasallam membuka shalatnya dengan dua rakaat ringan.
Kemudian beliau menyebutkan di dalam kitab Al azhar bahwa,” maksud dari dua rakaat tersebut adalah dua rakaat wudhu, sehingga di sunnahkan untuk meringankan kedua rakaatnya, sebagaimana riwayat riwayat lain yang memerintahkan untuk meringankan shalat keduanya baik dengan perkataan dan amalan.
Dan yang lebih nampak bahwa dua rakaat tersebut adalah bagian dari shalat tahajjud yang menempati posisi shalat tahiyatul wudhu, karena wudhu bukanlah shalat yang dikhususkan, sehingga seakan ia sebagai isyarat bahwa seseorang yang ingin memulai suatu perkara biasanya akan melakukan secara perlahan dan bertahap.
Berkata Attibi,” supaya dengan keduanya menjadikan shalat lebih bersemangat dan terbiasa dengannya, kemudian ia tambah lagi (dengan rakaat) setelahnya. (Mirqhotul mafaatih syarh Misykah almashabih: 3/903)
Dimana ada perbedaan dalam memaknai dua rakaat yang ringan tersebut, antara dua rakaat tersebut adalah shalat setelah wudhu atau keduanya dianggap sebagai rakaat malam yang di sunnah untuk dilakukan.
Yang lebih kuat, ia adalah bagian dari sunnah shalat malam, baik ia lakukan sebagai shalat setelah wudhu atau ia anggap sebagai suatu kesatuan pada shalat malam yang di anggap sebagai shalat iftitah.
Namun, bila melihat sifat shalat yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau melakukan shalat ringan tersebut pada shalat tahajjud atau shalat malam setelah beliau tidur.
Sehingga lebih tepat ketika akan melakukan sunnah iftitah sebaiknya dilakukan setelah seseorang tidur dan akan melakukan shalat malam, bukan ketika pada shalat tarawih walaupun shalat tarawih memang bagian dari shalat malam.
Syekh Utsaimin ketika ditanya terkait shalat iftitah beliau menjelaskan,”
فعله هذا ليس بصحيح، افتتاح القيام الذي هو التراويح بركعتين خفيفتين غير صحيح؛ لأن افتتاح قيام الليل بركعتين خفيفتين إنما يكون لمن نام، ووجه ذلك أن الإنسان إذا نام عقد الشيطان على قافيته ثلاث عقد، فإذا قام وذكر الله انحلت عقدة، فإذا تطهر انحلت العقدة الثانية، فإذا صلى انحلت العقدة الثالثة، ولهذا صار الأفضل لمن قام الليل بعد النوم، أن يفتتح قيام الليل بركعتين خفيفتين، ثبتت بذلك السنة من قول النبي صلى الله عليه وآله وسلم، وفعله. أما التراويح فإنها تفعل قبل النوم فلا تفتتح بركعتين خفيفتين.
“Bahwa perbuatannya tidaklah tepat, membuka shalat tarawih dengan shalat dua rakaat ringan tidaklah benar, karena membuka shalat malam dengan dua rakaat ringan hanya di lakukan buat orang yang telah tidur. Alasannya ketika manusia tidur syaitan mengikat tengkukknya dengan tiga ikatan, maka bila ia bangun dan berdzikir/berdoa kepada Allah maka terbuka salah satu ikatannya, dan bila kemudian ia bersuci maka terurai ikatan yang kedua, dan bila melakukan shalat lagi maka terurailah ikatan yang ketiga, sehingga menjadilah ia ( dua rakaat ringan) di jalankan bagi orang yang shalat malam setelah tidur untuk membuka shalat malamya dengan dua rakaat yang ringan. Dengan demikian penetapan sunnah tersebut adalah dari perkataan rasulullah shallallahu alaihi wasallam.dan perbuatannya. Adapun pada shalat tarawih yang dilakukan sebelum tidur maka hendaknya tidak dibuka dengan shalat dua rakaat ringan.” (liqa syahri ke 8, https://binothaimeen.net/content/301).
Wallahu a`lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Rabu, 21 Ramadhan 1444H / 12 April 2023 M
Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik