Keluarga

Istri Minta Pisah Rumah Dengan Mertua, Berdosakah?

Pendaftaran Mahad Bimbingan Islam

Istri Minta Pisah Rumah Dengan Mertua, Berdosakah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Istri Minta Pisah Rumah Dengan Mertua, Berdosakah? selamat membaca.

Pertanyaan:

Bismillah. Assalamu’alaikum Ustadz, saya mau tanya. Bagaimana hukumnya meminta tempat tinggal sendiri (kos/kontrak) kepada suami.? Yang sebelumnya tinggal jadi satu bersama mertua.

Disisi lain kondisi keuangan suami belum mapan. Tetapi kondisi istri baru berhijrah setelah menikah. Apakah berdosa kalau istri meminta suami untuk pindah? Ataukah sang istri harus tetap bersabar? Jazaakumullahu khairan wa barakallahu fiik Ustadz.

Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Menjadi sesuatu yang diimpikan oleh suami istri untuk bisa mandiri,menjalani hidup dengan bahagia dengan tetap berhubungan dengan keluarga besar dari keluarga suami atau istri secara baik dan harmonis.

Namun bukan hal yang mudah untuk mewujudkannya bila ternyata tujuan dan cara pandang dalam sikap dan prinsip berbeda antara satu dengan yang lain, baik antar suami dan istri atau antar anggota keluarga yang lainnya.

Hal yang mendasar yang harus dilakukan dengan setiap kesulitan yang kita hadapi di dalam kehidupan kita tentunya terus berdoa dan bersabar dengan setiap ujian.

Selalu perbanyak bermunajat kepada Allah terutama pada shalat malam kita, dan selalu meyakinkan diri pada saatnya nanti Allah akan berikan kemudahan untuk bisa mewujudkan apa yang diinginkan.

Tetap husnudzan/berbaik sangka kepada Allah dan terus berharap pahala dari Allah dari setiap kesulitan, karena dunia tampat ujian bagi mereka yang beriman, baik ujian berupa kenikmatan ataupun ujian berupa kesulitan hidup, semua adalah ujian dari Allah kepada setiap hambaNya, maka tetaplah optimis dan bersemangat serta banyak berdizikir kepadaNya untuk menenangkan dan menguatkan diri kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).

Hal lain yang perlu dilakukan juga, tentunya berusaha untuk berkomunikasi dan berbicara kepada semua , terutama kepada suami. Menjelaskan apa yang kita ketahui sebisanya dengan cara yang baik, walaupun tentunya hidayah dan perubahan semuanya ada di tangan Allah.

Kita menginginkan solusi terbaik dan bukan keributan yang menjadikan semua berantakan. Doakanlah suami untuk bisa mengerti dengan keinginan baik kita. Suami yang baik akan mencoba mengerti perasan dan keinginan baik istrinya, insyaallah.

Bila keadaan suami atau keluarga belum bisa berubah maka tetaplah bersabar dan terus berdoalah, sambil mencari alternative lain mendekati keluarga suami dengan cara yang baik dan tegas.

Tegas artinya bila sudah diingatkan dan belum bisa berubah dengan kemungkaran yang ada, maka tidak ada salahnya menjauh diri sementara dengan berada di kamar misalnya atau keluar rumah, selama kemungkaran tersebut , dan kembali mendekat bila kemungkaran tidak lagi dilakukan atau terdengar.

Ini semua sebagai tanda dan bukti bahwa ada iman ada di dalam diri kita untuk berusaha menjauhi kemungkaran yang belum kita bisa rubah dengan tangan kita. sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

Artinya: “Jika di antara kamu melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu, dan jika kamu tidak cukup kuat untuk melakukannya, maka gunakanlah lisan, namun jika kamu masih tidak cukup kuat, maka ingkarilah dengan hatimu karena itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Baca Juga:  Suami Selingkuh Dan Berzina, Begini Sikap Istri!

Bila ternyata suami mengizinkan dan menyetujui untuk pindah dan kontrak rumah, maka ini pilihan terbaik. Dan tidak berdosa bagi seorang istri untuk meminta hal ini, karena ini adalah pilihan yang terbaik untuk di lakukan suami istri yang telah berkeluarga.

Mencoba mandiri dan tidak satu atap dengan orang tua/keluarga, kecuali ada alasan tertentu untuk berkhidmah kepada orang tua bila memang kondisi memungkinkan serta konflik perasaan dan syariat tidak banyak didapatkan.

Bila ternyata didapatkan banyak konflik dan sulit diwujudkan maka pilihan utama adalah dengan berpisah dari orang tua/keluarga secara badan, setelah suami mengizinkannya.

Semoga dengan komunikasi yang baik, dengan selalu menjaga syariat islam yang telah dihidayahkan kepada kita, dan niat untuk berdakwah dan mendapatkan pahala dari setiap kejadian, insyaallah diri akan terus semangat dan tidak mudah putus asa, insyaallah Allah akan berikan kemudahan dan jalan keluar yang terbaik buat semua.

Begitupula dengan ekonomi yang dirasa menghimpit, bila memang bisa berpindah dan kontrak sendiri dengan persetujuan suami pastinya, insyaallah Allah juga akan berikan jalan keluar dan rezki yang bertambah dan dari arah atau cara yang tidak disangka sangka karena ketakwaan kita untuk selalu menjaga agama Allah dalam kehidupan kita, Sebagaimana firman Allah ta`ala:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaaq: 2-3).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4).

Semoga Allah berikan kebahagian kepada kita semua.

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 10 Dzulqa’dah 1444H / 30 Mei 2023 M 


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik di

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button