Artikel

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 5)

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 5)

Baca artikel sebelumnya: Kiat Sukses Memahami Ilmu (Bagian 4)

Kiat Ketujuhbelas: Menjaga Serta Membela Kehormatan Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Sejatinya ilmu memiliki kehormatan yang wajib dibela ketika ada yang merusaknya. Pembelaan ini sungguh terlihat pada apa yang telah dilakukan oleh para ulama, seperti: membantah orang yang menyimpang. Siapa saja yang terbukti menyelisihi syariat maka harus dibantah demi menjaga agama dan sebagai bentuk nasihat untuk kaum muslimin.

Diantara bentuk pembelaan ilmu yang lainnya adalah memboikot para ahlul bid’ah, dan ini sudah menjadi konsensus para ulama sebagaimana yang disebutkan Abu Ya’la Al-Farra’. Sehingga tidak diperkenankan untuk mengambil ilmu dari para ahlul bid’ah, kecuali dalam kondisi darurat, sebagaimana para ahli hadits dahulu meriwayatkan hadits dari ahlul bid’ah.

Begitu pula, termasuk pembelaan terhadap ilmu: memberi peringatan kepada seorang murid jika ia melampaui batas saat berdiskusi dengan gurunya atau bersikap kurang ajar. Bahkan jika memang diperlukan, hendaklah seorang guru mengusir murid tersebut dari majelis sebagai bentuk peringatan untuknya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Syu’bah –rahimahullah kepada ‘Affan bin Muslim pada saat pelajarannya.

Bisa juga memberi peringatan kepada seorang murid dengan cara tidak memperhatikannya dan tidak menjawab pertanyaannya, karena diam juga merupakan jawaban, sebagaimana yang dikatakan A’masy.
Kami sering melihat praktek tersebut dari guru-guru kami, diantaranya Syaikh bin Baz –rahimahullah, terkadang ada yang bertanya kepada beliau tentang suatu hal yang tidak bermanfaat, syaikh pun enggan menjawabnya dan menyuruh muridnya yang bertugas untuk membaca agar melanjutkan bacaannya, atau beliau memberikan jawaban yang bertentangan dengan maksud si penanya.

Kiat Kedelapanbelas: Tidak Sembarangan Dalam Bertanya

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Hal ini harus diperhatikan agar bisa terhindar dari permasalahan yang bisa menimbulkan fitnah dan juga demi menjaga kewibawaan seorang ‘alim. Karena sebagian pertanyaan dimaksudkan untuk memancing keributan, menyulut api fitnah dan keburukan.

Siapa yang memperhatikan sikap ulama saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan semisal, maka dia akan mendapati ketidaksukaan pada diri mereka, sebagaimana telah disebutkan dalam pembahasan tentang memberikan peringatan kepada seorang murid. Sehingga seorang murid diharuskan untuk berhati-hati saat bertanya. Dan hal tersebut bisa terwujud dengan memperhatikan 4 prinsip:

  1. Memikirkan tujuan untuk apa dia bertanya? Tujuan bertanya haruslah untuk belajar dan memahami agama bukan untuk mendebat dan menjatuhkan. Sungguh siapa yang jelek tujuannya, dia akan terhalang dari keberkahan dan manfaat ilmu.
  2. Cerdas dalam memilih pertanyaan. Jangan menanyakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya, baik dari sudut pandang diri sendiri ataupun dilihat dari permasalahan tersebut. Termasuk dalam hal ini bertanya tentang suatu hal yang belum terjadi atau permasalahan yang bukan untuk konsumsi publik.
  3. Melihat kesiapan seorang guru untuk menjawab pertanyaan. Jangan bertanya pada kondisi yang tidak tepat, seperti ketika guru sedang bersedih, banyak pikiran, sedang berada di jalan atau sedang menyetir mobil. Tunggulah sampai kondisi guru siap untuk menjawab pertanyaan.
  4. Memperhatikan metode bertanya kepada seorang guru, dengan menunjukkan sikap bertanya yang penuh adab: mendoakan guru sebelum bertanya dan memuliakannya ketika berbicara, jangan sampai dia berbicara dengan seorang guru seperti dia bicara dengan orang-orang di pasar maupun orang awam.

Kiat Kesembilanbelas: Mencintai Ilmu dengan Segenap Hati

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Keseriusan dalam mencari ilmu akan menghadirkan kecintaan dan keterikatan hati dengannya. Seorang hamba tidak akan mendapatkan derajat yang tinggi dalam ilmu sampai dia menjadikan ilmu tersebut sebagai kelezatan terbesarnya.

Lezatnya ilmu, sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Abdillah Ibnul Qayyim, akan dirasakan dengan memperhatikan 3 hal:

1. Mengerahkan seluruh daya dan upaya.
2. Keseriusan dalam mencarinya.
3. Benar dan ikhlasnya sebuah niat.

Dan ketiga hal ini tidak akan sempurna kecuali dengan menghalau segala yang dapat menyibukkan hati.

Sesungguhnya kelezatan ilmu jauh lebih nikmat daripada sebuah jabatan kekuasaan yang biasanya diincar oleh kebanyakan orang dengan mengucurkan dana yang begitu banyak, bahkan banyak darah yang tertumpahkan.

Oleh sebab itu, para raja dahulu merindukan kelezatan ilmu, mereka merasakan ada sesuatu yang hilang sehingga mereka pun ingin mendapatkannya.

Abu Ja’far Al-Manshur, seorang khalifah bani Abbasiyah yang terkenal, yang mana kerajaaanya meliputi timur dan barat – pernah ditanya:  “Masih adakah kelezatan dunia yang belum engkau dapatkan?”

Beliau pun menjawab – sambil duduk diatas singgasananya : “Ada satu hal, yaitu bisa duduk di atas sebuah kursi dan di sekelilingku ada para pencari hadits.”

Kemudian berkatalah seorang mustamli’: “Tolong sebutkan sanad hadits Anda – semoga Allah merahmatimu.

Maksudnya adalah ia ingin sekali bisa untuk mengatakan : telah mengabarkan kepada kami fulan, dia berkata telah mengabarkan kepada kami fulan, dan menyebutkan sebuah hadits lengkap dengan sanadnya.

Ketika hati seseorang sudah dipenuhi dengan kelezatan ilmu, gugurlah kelezatan lainnya dan jiwa pun melupakannya, bahkan rasa sakitpun bisa berubah menjadi kenikmatan dikarenakan lezatnya ilmu.

Ketika hati seseorang sudah dipenuhi dengan kelezatan ilmu, gugurlah kelezatan lainnya dan jiwa pun melupakannya, bahkan rasa sakitpun bisa berubah menjadi kenikmatan dikarenakan lezatnya ilmu.

Kiat Keduapuluh: Menjaga Waktu demi Ilmu

Cara Belajar Islam: Kiat Sukses Memahami Ilmu

Ibnul Jauzi berkata di dalam kitab (Shoidul Khotir): Seorang itu haruslah mengetahui betapa mulia dan berharganya waktu yang dia miliki, jangan sampai dia biarkan waktunya berlalu tanpa sebuah ketaatan dan hendaklah dia mendahulukan amalan yang paling afdhol, baik berupa perkataan maupun perbuatan.

Didasari hal tersebut, para ulama sangat memperhatikan waktu, sampai-sampai Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzaz berkata: Aku tidak pernah membiarkan sesaat dari waktuku berlalu untuk perkara yang sia-sia.

Abul Wafa bin ‘Uqail – penulis kitab (Al-Funun) sebanyak 800 jilid pernah berkata: Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat pun dari waktuku. Saking mereka memuliakan waktu, mereka menyuruh orang lain membacakan ilmu ketika waktu makan, bahkan ketika mereka sedang berada di dalam toilet. Maka wahai para penuntut ilmu jagalah waktumu, sungguh sangat indah apa yang dikatakan Ibnu Hubairah Al-Hanbaly:

“Waktu adalah harta paling berharga yang hendaknya kau jaga.
Akan tetapi aku melihatmu sangat mudah membuangnya.”

Demikianlah 20 kiat memahami ilmu yang dijelaskan oleh Syaikh Sholih Al-‘Ushoimy di dalam Kitab Ta’zhimul ‘Ilmi, yang beliau rangkum dari penjelasan-penjelasan ulama terdahulu yang telah sukses memahami ilmu dan menjadi imam dalam setiap cabang ilmu.

Oleh karenanya, sebagaimana kita berusaha mencontoh orang-orang sukses dalam urusan dunia agar kita bisa mengikuti jejak kesuksesan mereka, begitu pula dalam proses memahami ilmu, hendaklah kita mencontoh dan menapaki jalan para ulama yang telah lebih dahulu mempelajari ilmu.

Wallahu waliyyut taufiq.


Disusun oleh:
USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.  حفظه الله
Rabu, 30 Muharram 1443 H/ 8 September 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI. حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى 
klik disini

Baca Juga :  Janganlah Penuntut Ilmu Seperti Abu Syibrin

USTADZ MUHAMMAD IHSAN, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button