Fiqih

Buang Air Dalam Keadaan Berdiri, Bolehkah?

Buang Air Dalam Keadaan Berdiri, Bolehkah?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan pembahasan tentang buang air dalam keadaan berdiri, bolehkah? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Ustadz, semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu memberkahi ustadz.

Ana kebetulan memakai WC duduk di rumah, bagaimana hukumnya jika terpaksa buang hajat tidak bisa jongkok seperti yang disunahkan dikarenakan kondisi demikian?

Jazakallah khair ustadz atas ilmunya. Wassalamualaikum warahmatullah wa barakatuh.

(Ditanyakan oleh Santri Kuliah Islam Online Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabaarokatuh.

Bismillah.

Diperbolehkan dalam kondisi tertentu untuk melakukan buang air dalam keadaan berdiri, namun bila dibiasakan untuk jongkok/duduk maka itu adalah yang terbaik, di samping sunnah maka lebih bisa menghindari diri dari cipratan air kencing yang terjadi.

Hendaknya seseorang tetap berusaha untuk melakukan buang air dalam keadaan duduk/jongkok, sebagaimana perbuatan dan perintah Rasulullah dalam hal ini.

Di samping lebih bisa menghindari diri dari air kencing yang potensinya lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk/jongkok.

Ummul mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوْهُ مَا كَانَ يَبُوْلُ إِلَّا جَالِسًا

“Barangsiapa yang berkata bahwa Rasulullah kencing dengan berdiri, maka jangan kalian benarkan. Rasulullah tidak pernah kencing kecuali dengan duduk’.” (HR. An-Nasa’i)

Namun, bila tidak memungkinkan atau kesulitan untuk duduk/jongkok sebagian para ulama membolehkannya.

Sebagaimana pendapat yang dipilih oleh madzhab Hanabilah, qoul dari Madzhab Imam Malik dan sebagian Salaf, juga yang dipilih oleh Ibnul Mundzir, Syaukani, Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

Berdasarkan hadits Hudzaifah radhiallahu anhu,

، قَالَ أَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum. Lalu beliau buang air seni dengan berdiri di tempat tersebut. Kemudian beliau meminta diambilkan air. Aku bawakan untuk beliau air, lalu beliau berwudhu.” (Shohih Bukhari hadist no 220)

Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin menerangkan,

“Kencing sambil berdiri hukumnya boleh. Terlebih bila ada kebutuhan. Akan tetapi dengan dua syarat; pertama aman dari terkena najis, kedua aman dari pandangan orang lain.” (Syarah al Mumti’ 1/115-116).

Wallahu a`lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Senin, 2 Safar 1443 H/ 29 Agustus 2022 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik disini

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid
Back to top button