Bolehkah Suami Bekerja Jauh dari Istri Selama Berbulan-bulan bimbingan islam
Bolehkah Suami Bekerja Jauh dari Istri Selama Berbulan-bulan bimbingan islam

Bolehkah Suami Bekerja Jauh dari Istri Selama Berbulan-bulan?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki adab dan akhlak yang luhur berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah suami bekerja jauh dari istri selama berbulan-bulan?
Silahkan membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah Azza wa Jalla selalu menjaga Ustadz & keluarga.

Afwan Ustadz izin bertanya.
Bagaimana jika istri baru melahirkan beberapa hari, lalu sang suami ada tawaran pekerjaan ke luar kota selama berbulan bulan. Apa hukum nya?
Apakah salah jika suami menerima pekerjaan tersebut karena meninggalkan anak dan istri di rumah selama berbulan bulan?
Jazakallahu Khairan Ustadz.

(Disampaikan oleh Fulanah, Member grup WA BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du

Suami Itu Tinggal Satu Atap Dengan Istrinya

Ketika seorang istri dan suami harus berpisah tempat tinggal, karena suatu pekerjaan, maka hal ini dikembalikan kepada maslahat dan mudharat dalam rumah tangga tersebut. Pada asalnya suami dan istri itu hidup berdekatan, dan harus menghindari LDR (hubungan jarak jauh), inilah pesan secara tersirat dari firman Allah Ta’ala,

…هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ…

“…Mereka (para istri) adalah pakaian bagi kalian (para suami), dan kalian adalah pakaian bagi mereka … “
(QS. al-Baqarah: 187)

Ibarat pakaian sangat dekat dan melekat pada tubuh, bersentuhan langsung dengan kulit. Demikian dekatnya. Suami istri pun seharusnya demikian. Ada kedekatan fisik dan kedekatan batin dengan tinggal bersama. Kalau bisa istri ikut suami, maka istri ikut suami dan tinggal bersama dimana suaminya bekerja di kota tersebut.

Menimbang Maslahat Dan Mudharat

Jika suami dan istri mengharuskan tinggal berjauhan untuk beberapa waktu, maka hal ini kembali kepada kerelaan istri, dan ingat kerelaan manusia itu tidak bisa diukur, bisa berbeda-beda. Apatah lagi istri baru melahirkan, di tengah situasi pandemi virus secara global, maka segala sesuatu harus dipikirkan secara matang dan komprehensif (lengkap dan menyeluruh) dengan menimbang maslahat mudharat ketika pasangan suami istri harus memilih hidup terpisah untuk sementara.

Batas Waktu Suami Dibolehkan Meninggalkan Istri

Dalam sejarah Islam, batas seorang suami meninggalkan istri itu adalah 6 bulan, ini adalah ijtihadnya Khalifah Amirul Mukminin Umar Bin Khatthab radhiallahu ‘anhu, beliau bertanya kepada putrinya Ummul Mukminin Hafshah radhiallahu ‘anha,

كَمْ أَكْثَرُ مَا تَصْبِرُ الْمَرْأَةُ عَنْ زَوْجِهَا؟

Berapa lama seorang wanita sanggup bersabar untuk tidak kumpul dengan suaminya?

Jawab Hafshah radhiallahu ‘anha,

“Enam atau empat bulan.”

Maksudnya adalah Perjalanan berangkat 1 bulan, di lokasi perbatasan 4 bulan, dan perjalanan pulang 1 bulan (perang terdahulu). Hal ini berdasarkan penjelasan ulama kaum muslimin.

Oleh karena itu, Kemudian Umar Bin Khaththab radhiallahu ‘anhu berkomitmen,

لاَ أَحْبِسُ الْجَيْشَ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا

“Saya tidak akan menahan pasukan lebih dari batas ini (6 bulan).”
(HR. Baihaqi, dalam Sunanul al-Kubro no. 18307).

Maka Para suami harus memperhatikan istrinya masing-masing, pergauli mereka dengan cara yang baik, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Pergaulilah istri kalian dengan cara yang makruf.”
(QS. an-Nisa: 19)

Dan bagian dari pergaulan yang baik terhadap istri adalah memberi perhatian kepada istri. Karena itu, meninggalkan istri dalam waktu yang cukup lama (lebih dari enam bulan), termasuk pelanggaran dalam rumah tangga, karena bertentangan dengan perintah untuk mempergauli istri dengan benar.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan urusan kaum muslimin, aamiin.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Rabu, 27 Muharram 1442 H / 16 September 2020 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini