Bolehkah Bersedekah Atas Nama Orang Tua atau Orang Lain bimbingan islam
Bolehkah Bersedekah Atas Nama Orang Tua atau Orang Lain bimbingan islam

Bolehkah Bersedekah Atas Nama Orang Tua atau Orang Lain?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah bersedekah atas nama orang tua atau Lain?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga.

Ustadz, saya mohon izin bertanya.. Apakah boleh saya bersedekah setiap bulan dengan ikut mengatasnamakan istri, ibu, dan bapak (orang tua) saya sekaligus?

(Disampaikan oleh Sahabat Bimbingan Islam)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Yang perlu dipahami pertama kali adalah bab shodaqoh ini luas, lebih luas daripada zakat. Siapapun bisa bershodaqoh dan siapapun bisa menerima shodaqoh, berbeda dengan zakat yang muzakki dan mustahiqnya terbatas pada kalangan tertentu. Demikian pula dalam hal penyertaan niat serta pahala shodaqoh, sangat luas dan tidak ada batasan sebagaimana penyertaan niat dalam Qurban.

Disebutkan dalam hadits bahwa Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalam tidak mengatasnamakan untuk diri Beliau saja ketika berqurban

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Bismillah Wallohu Akbar (dengan nama Alloh dan Alloh Maha Besar), ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berqurban”
[HR Ahmad 14837, Abu Daud 2810]

Dalam lafal yang lain,

بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Bismillah, Ya Alloh terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad – sholallohu ‘alaihi wassalam – ”
[HR Muslim 1967]

Begitupula kebiasaan para sahabat yang berqurban dengan mengatasnamakan dirinya serta seluruh anggota keluarganya

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ، وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ

“Pada masa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam, seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan seluruh anggota keluarganya”
[HR Tirmidzi 1505, Ibnu Majah 3125]

Kenapa dikaitkan dengan Qurban? Karena Qurban merupakan salah satu bentuk dari Shodaqoh, jika qurban diperbolehkan berdasarkan Nash dan Ijma’ para ulama untuk menyertakan orang lain baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dalam hal niat, maka demikian pula dengan shodaqoh.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh menjelaskan:

أَنَّ الْمَيِّتَ يَنْتَفِعُ بِالصَّدَقَةِ عَنْهُ وَبِالْعِتْقِ بِنَصِّ السُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ

“Sejatinya mayit mendapatkan manfaat dengan shodaqoh atas namanya dan juga memerdekakan budak atas namanya, berdasarkan Nash dari Sunnah Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam dan Ijma’”
(Jaami’ Al-Masaail 5/204)

Syeikh Binbaz rohimahulloh dalam Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi juga menerangkan tentang bolehnya menyertakan banyak niat dalam 1 shodaqoh, tidak terbatas 1 shodaqoh untuk 1 niat saja;

لا مانع من إشراكهما في مشروع واحد وأنت معهم أيضاً … الحمد لله الأمر واسع وفضل الله واسع، فلا مانع أن يكون المشروع لأبيك أو أمك أو لهما جميعاً أولك معهما أيضاً كله طيب

“Tidak ada larangan untuk menyertakan 2 niat dalam 1 shodaqoh, dan engkaupun bisa bersama mereka (dalam niat shodaqoh) … Alhamdulillah segala puji bagi Alloh yang telah menjadikan perkara ini luas, dan karunia Alloh sangat luas, tidak terlarang untuk menjadikan shodaqoh atas nama bapakmu, ibumu, atau keduanya secara bersamaan, atau atas namamu bersama keduanya, semuanya baik”

Karenanya ikhwatal iman ahabbakumulloh, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla.. Bersegeralah dan bersikap cerdaslah dalam bershodaqoh, sebab diantara amal sholih yang paling diinginkan anak adam jika telah tiba ajalnya adalah shodaqoh. Alloh Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Alloh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Robb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian/ajal) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?”
(QS Al-Munafiqun 9-10)

Sungguh, orang yang paling cerdas dalam kacamata ekonomi akhirat adalah orang yang menitipkan hartanya kepada Dzat yang telah memberikannya harta, dengan bershodaqoh. Semoga Alloh menggolongkan kita semua menjadi orang yang peka untuk selalu bershodaqoh.

Wallohu A’lam

Referensi: fatwa Syaikh Bin Baz tentang حكم-اهداء-الصدقة-الواحدة-لاكثر-من-ميت

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Rabu, 29 Dzulhijjah 1441 H/ 19 Agustus 2020 M



Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI IMAM SYAFI’I Kulliyyatul Hadits, dan Dewan konsultasi Bimbingan Islam,
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله  
klik disini