AqidahArtikel

Apakah Berlaku Analogi dalam Pembahasan Akidah? (Bagian 2)

Apakah Berlaku Analogi dalam Pembahasan Akidah? (Bagian 2)

Pada pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa analogi yang benar merupakan hujjah atau argumentasi yang diakui dalam syariat Islam, dan itu juga berlaku dalam pembahasan akidah, walaupun ada sebagian pembahasan akidah yang tidak mungkin menggunakan analogi di pembahasan tersebut.

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang rincian permasalahan akidah yang mungkin ataupun tidak dalam penggunaan analogi.


1. Analogi dalam Bahasan Teologi

Dalam pembahasan teologi atau ketuhanan yang mana berkaitan dengan wujud Allah, nama dan sifat-sifatNya, hanya analogi lebih utama (qiyas aulawi) yang dibolehkan di sini, yaitu: penganalogian di mana sesuatu yang dianalogikan lebih utama akan sebuah hukum dari pada pembandingnya.

Allah banyak berargumentasi dengan metode analogi ini dalam menetapkan sifatNya, seperti yang terdapat dalam firrmanNya:

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَالْأَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَىٰۚ بَلَىٰۚ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٣٣)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahqaf: 33).

Pada ayat tersebut Allah membawakan sebuah analogi, yaitu: jika Allah mampu menciptakan langit dan bumi termasuk makhluk lainnya dari sebelumnya tiada, tentu mengembalikan kehidupan kepada sesuatu yang sudah ada lebih mudah bagi Allah .

Dalam ayat lainnya, Allah juga berfirman:

﴿أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنثَىٰ (٢١) تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ (٢٢)

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?”

Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.”

Sebuah analogi yang Allah jadikan sebagai bantahan kepada orang-orang musyrik dahulu saat mereka mengatakan bahwa Allah memiliki anak perempuan. Jika kalian tidak ridha memiliki anak perempuan (ini adalah keyakinan orang jahiliyah dahulu), lalu bagaimana mungkin kalian menisbatkan anak perempuan kepada Allah ?

Begitu pula perkataan Imam Ahmad yang sudah kami nukilkan tadi, yang menunjukkan analogi yang lebih kuat (qiyas aulawi) bisa digunakan dalam pembahasan yang berkaitan dengan Dzat dan sifat-sifat Allah .

Ibnu Taimiyyah berkata:

العِلْمَ الإلَهِيَّ لا يَجُوزُ أنْ يُسْتَدَلَّ فِيهِ بِقِياسِ تَمْثِيلٍ يَسْتَوِي فِيهِ الأصْلُ والفَرْعُ ولا بِقِياسِ شُمُولِيٍّ تَسْتَوِي أفْرادُهُ؛ فَإنَّ اللَّهَ سُبْحانَهُ وتَعالى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ فَلا يَجُوزُ أنْ يُمَثِّلَ بِغَيْرِهِ ولا يَجُوزُ أنْ يَدْخُلَ هُوَ وغَيْرُهُ تَحْتَ قَضِيَّةٍ كُلِّيَّةٍ تَسْتَوِي أفْرادُها

“Argumentasi dalam menetapkan ilmu Allah tidak boleh menggunakan analogi permisalan (qiyas tamtsil) yang pokok dan yang dianalogikan sama tingkatannya dan tidak boleh juga dengan analogi keumuman (qiyas syumuli) yang setiap bagian dalam keumuman tersebut sama tingkatannya. Karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada yang serupa denganNya, sehingga tidak boleh disamakan dengan selainNya dan tidak boleh juga masuk dalam keumuman yang setiap bagiannya sama dalam tingkatan.”

Kemudian beliau berkata:

ولَكِنْ يُسْتَعْمَلُ فِي ذَلِكَ قِياسُ الأوْلى سَواءٌ كانَ تَمْثِيلًا أوْ شُمُولًا كَما قالَ تَعالى: ﴿ولِلَّهِ المَثَلُ الأعْلى﴾

Akan tetapi yang digunakan dalam pembahasan ini adalah analagi yang lebih utama (qiyas aulawi) baik berupa permisalan ataupun keumuman, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Allah memiliki permisalan yang tinggi” (QS. An-Nahl: 60).

(Majmu’ Fatawa: 3/297).

Namun yang harus diperhatikan bahwa analogi permisalan (qiyas tamtsil) yang terlarang dalam pembahasan nama dan sifat Allah ada dua:

1. Menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
2. Menetapkan nama dan sifat Allah dengan penganalogian terhadap nama dan sifatNya yang lain. Seperti menetapkan sifat wawasan (ma’rifah) bagi Allah yang dianalogikan dengan sifat ilmu yang Allah miliki. (Qanun Ta’sis ‘Aqdy, Hal. 301).

2. Analogi dalam Pembahasan Ghaib

Salah satu pembahasan akidah adalah iman kepada hal yang ghaib, yaitu: informasi dari Allah yang berkaitan dengan sesuatu yang tidak bisa kita ketahui dengan panca indera, seperti alam malaikat, jin, surga, neraka, begitu pula kejadian masa lalu dan yang akan datang.

Dalam pembahasan ini, ada dua kaidah yang berlaku:

Pertama: Analogi tidak berlaku pada pembahasan yang hanya bisa diketahui lewat informasi dari orang lain.

Kedua: Sesuatu yang tidak diketahui hakikat dan sebab tujuannya, tidak bisa dianalogikan.

Berdasarkan kaidah tersebut, tidak mungkin analogi bisa masuk dalam pembahasan ghaib. Seseorang tidak boleh menganalogikan alam jin dengan alam malaikat, karena hakikat kedua alam tersebut tidak kita ketahui, sebagaimana tidak boleh menganalogikan bentuk timbangan di hari akhir dengan timbangan yang ada di dunia. (Lihat: Qanun Ta’sis ‘Aqdy, Hal. 303).

Assyirazi berkata:

ما طريقه الرواية والسماع كقران النبي ﷺ وإفراده ودخوله إلى مكة صلحا أو عنوة فهذا كله لا مجال للقياس فيه.

“Sesuatu yang hanya diketahui dengan cara riwayat dan mendengar kabar dari orang lain, seperti: nabi berhaji dengan qiran atau ifrad, atau bagaimana beliau masuk kota Mekah, secara damai atau peperangan, pembahasan semisal ini tidak bisa dimasuki oleh analogi.” (Al-Luma’ Fii Ushul Fikih: 1/98).

3. Analogi dalam Bahasan Akidah yang Bersifat Amalan

Dalam pembahasan akidah yang berkaitan dengan amalan seorang hamba, boleh menggunakan argumentasi dengan analogi, jika amalan tersebut diketahui maksud dari perintah dan larangannya.

Ibnu Taimiyyah berkata:

فإن القياس يستدل به في العقليات كما يستدل به في الشرعيات فإنه إذا ثبت أن الوصف المشترك مستلزم للحكم كان هذا دليلا في جميع العلوم.

“analogi bisa dijadikan dalil dalam masalah logika sebagaimana bisa dijadikan dalil dalam pembahasan syar’i. Apabila ditemukan ada kesamaan sifat (antara pembanding dan yang dianalogikan) yang memunculkan sebuah hukum, maka ini bisa menjadi dalil di setiap pembahasan ilmu.” (Majmu’ Fatawa: 9/117-118).

Jadi, selama diketahui maksud dan tujuan yang para ulama menamakannya sebagai illat (sebab hukum) pada suatu perintah ataupun larangan, maka memungkinkan di situ untuk menggunakan analogi.

Di antara contohnya adalah perkataan Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin ketika menjelaskan argumentasi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab saat membahas syiriknya menggantungkan tamimah, beliau berdalil dengan firman Allah :

﴿…. أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ…. (٣٨)

“….Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu….” (QS. Az-Zumar: 38).

Syaikh ‘Utsaimin berkata:

والشاهد من هذه الآية: أن هذه الأصنام لا تنفع أصحابها لا بجلب نفع ولا بدفع ضر؛ فليست أسبابا لذلك، فيقاس عليها كل ما ليس بسبب شرعي أو قدري؛ فيعتبر اتخاذه سببا إشراكا بالله. وهذا يدل على حذق المؤلف  وقوة استنباطه، وإلا؛ فالآية بلا شك في الشرك الأكبر الذي تعبد فيه الأصنام، ولكن القياس واضح جدا؛ لأن هذه الأصنام ليست أسبابا تنفع، فيقاس عليها كل ما ليس بسبب، فيعتبر إشراكا بالله.

“poin dari ayat ini adalah bahwa berhala-berhala ini tidak akan memberikan kemanfaatan kepada penyembahnya, baik dalam mendatangkan kemaslahatan maupun menolak kemudharatan, bukan pula sebagai sebab. Sehingga hal ini dianalogikan dengan semua yang bukan merupakan sebab secara syar’i maupun qadary, menjadikan hal tersebut sebagai sebab terhitung tindakan kesyirikan kepada Allah.

Ini menunjukan kehebatan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) dan kuatnya argumen beliau. Padahal ayat ini sedang membahas syirik besar berupa penyembahan terhadap berhala. Akan tetapi penganalogian dalam masalah ini sangat jelas, dikarenakan berhala tersebut bukanlah sebab yang bisa memberikan manfaat, maka dianalogikan dengan semua yang bukan sebab, menjadikannya sebab merupakan kesyirikan kepada Allah.” (Al-Qaulul Mufid: 1/168).

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pembahasan akidah, ada yang bisa dianalogikan dan ada juga yang tidak, ada permasalahan yang berlaku padanya setiap jenis analogi dan ada juga yang hanya berlaku sebagian jenisnya.

Permasalahan yang berkaitan dengan Dzat Allah dan sifat-sifat yang sudah dikabarkan olehNya, hanya boleh menggunakan analogi utama (qiyas aulawi). Pembahasan akidah yang berkaitan dengan perintah dan larangan yang diketahui maksud dan tujuannya (illat), berlaku di situ analogi setara (qiyas musawi) atau analogi utama (qiyas aulawi), sedangkan permasalahan ghaib, tidak bisa dianalogikan, karena hanya bisa diketahui melalui informasi dari orang lain.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Rabu, 25 Jumadil Awwal 1443 H/29 Desember 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Masker Ketika Shalat

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button