Adakah Kurban di Bulan Rajab?
Adakah Kurban di Bulan Rajab?

Adakah Kurban di Bulan Rajab?

Ada satu permasalahan tersisa yang ingin kami sampaikan tentang hukum berkurban. Yaitu tentang hukum Atirah atau kurban di bulan Rajab. Sebagian ulama menyatakan bahwa Atirah ini haram secara mutlak berdasarkan riwayat sebagai berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لا فَرَعَ وَلا عَتِيرَةَ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhua dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Tidak ada Far’un tidak ada pula atirah.”
(HR Bukhari : 5474, Muslim : 1976).

Syaikh Muhammad bin Ibrahim termasuk ulama yang menyatakan haramnya Atirah ini beliau berkata :

قوله صلى الله عليه وسلم لا فرع ولا عتيرة فيما أفهم الآن أنه أقرب إلى التحريم

“Ucapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ; Tidak ada Far’un, tidak pula ada Atiratun Yang saya fahami saat ini bahwasanya hukum Atirah ini lebih dekat kepada haram.”
(Majmu’ Fatawa Syaikh Muhamad bin Ibrahim : 6/165).

Dan sebagian ulama menyatakan bahwa Atirah ini tidak haram, tidak pula makruh, akan tetapi sunnah. Yang demikian karena nasakh/penghapusan hukum yang dilakukan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bukan penghapusan secara total terhadap hukum Atirah. Akan tetapi hanya penghapusan dari hukum wajibnya saja. Adapun pensyariatannya masih tetap berlaku. Tentang hadits penghapusan atirah di atas, sebagian ulama telah memberikan jawabannya di antaranya adalah :

1.Bahwa maksud dari hadits tersebut yang dihapus adalah kewajiban Atirah. Sehingga pensyariatannya masih tetap berlaku namun tidak diwajibkan.

2.Bahwa Atirah yang dilarang adalah Atirah yang dilakukan sebagai bentuk peribadahan terhadap berhala.

3.Bahwa maksud dari hadits tersebut hendak menerangkan bahwa Atirah itu tidak sama dengan Udhiyah di dalam kesunnahannya atau di dalam pahala menumpahkan darah. Adapun sekedar membagikan daging kepada orang-orang miskin maka boleh.
(Lihat ketiga jawaban ini di dalam kitab Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab : 8/ 428 oleh Imam An-Nawawi, Fathul Mun’im Syarah Shahih Muslim : 8/101 oleh Syaikh Musa Syahin, Ad-Dinul Khalish : 2/42 oleh Syaikh Mahmud As-Subki).

Alasan lain yang juga dijadikan argument oleh para ulama bahwa Atirah masih disyariatkan adalah riwayat sebagai berikut ;

يا رسول الله إنا كنا نذبح في الجاهلية ذبائح في رجب فنأكل منها ونطعم, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا بأس بذلك

“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dahulu menyembelih di masa jahiliyah sembelihan di bulan Rajab. Kami memakannya dan mensedekahkannya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Tidak mengapa yang demikian itu.”
(HR An-Nasa’i dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Shahih Wa Dhaif Sunan An-Nasai : 4233, lihat pula Shihahul Ahadits Fima Ittafaqa Alaihi Ahlul Hadits : 8/518 hadits no. 33971 oleh Dhiya’ Al-Maqdisi).

Pendapat akan sunnahnya Atirah ini dipilih oleh Imam Asy-Syafi’i, demikian pula Imam An-Nawawi beliau menyatakan :

الصحيح الذي نص عليه الشافعي, واقتضته الأحاديث: أنها لا تكره, بل تستحب, هذا مذهبنا

“Pendapat yang benar adalah yang dinyatakan oleh Asy-Syafii dan apa yang menjadi kosekuensi banyak hadits bahwasanya ia tidak makruh akan tetapi sunnah dan ini adalah madzhab kami.”
(Majmu’ Syarah Al-Muhadzab : 8/446 oleh Imam An-Nawawi).

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga menyatakan bahwa Atirah ini bukan sesuatu yang makruh ataupun haram, beliau menyatakan :

فإذا ثبت هذا فإن المراد بالخبر نفي كونها سنة لا تحريم فعلها ولا كراهته فلو ذبح إنسان ذبيحة في رجب أو ذبح ولد الناقة لحاجته إلى ذلك أو للصدقة به أو إطعامه لم يكن ذلك مكروها

“Apabila telah sah perkara ini maka yang dimaksud dengan khabar adalah penafian hukum sunnah dari atirah. Bukan pengharaman bukan pula pemakruhan. Seandainya seseorang menyembelih di bulan Rajab atau menyembelih anak pertama onta karena kebutuhan atau ingin bersedekah atau untuk memberi makan hal itu tidak makruh sama sekali.”
(Stema komentar beliau tehadap Sunan Abu Dauwd, lihat Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud : 7/486 oleh Imam Syamsul Haq Al-Adzim Abadi).

Adapun tentang detail hari pelaksanaan Atirah adalah seperti keterangan Imam Ibnul Mulaqqin sebagai berikut :

العَتيرة بفتح العين المهملة: ذبيحة كانوا يذبحونها في العشرة الأُول من شهر رجب, ويسمونها الرجبية أيضًا.

“Atirah dengan memfathah huruf ‘ain maknanya adalah sembelihan yang dilakukan oleh orang arab pada sepuluh hari pertama dari bulan Rajab, maka dari itu disebut pula sebagai Ar-Rajabiyah.”
(Al-Badrul Munir : 9/449 oleh Imam Ibnul Mulaqqin, bahkan Imam An-Nawawi menyatakan para ulama sepakat akan definisi Atirah yang seperti ini, lihat Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab : 8/435 oleh Imam An-Nawawi).

Semoga bermanfaat,
Wallahu ta’ala a’lam.

Ditulis oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
Rabu, 01 Dzulhijjah 1441 H/ 22 Juli 2020 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله  
klik disini