
Sahabat yang semoga senantiasa dirahmati Allah,
Mari sejenak kita menanggalkan segala atribut duniawi, menjauh dari riuh perdebatan yang sering kali hanya memuaskan dahaga ego, untuk merenungi sebuah fragmen kehidupan yang amat menyentuh. Ini adalah kisah tentang penghujung jalan seorang raksasa ilmu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Beliau adalah sosok yang seluruh tarikan nafasnya seolah didedikasikan untuk ilmu, ibadah dan jihad. Jemarinya telah melahirkan ribuan lembar karya yang hingga hari ini menjadi pelita bagi umat. Namun, tahukah kita apa yang menjadi perbincangan batinnya saat raga mulai melemah di balik sesaknya ruang di balik jeruji besi, menjelang wafatnya beliau -rahimahullah-?
Inilah Penyesalan Beliau
Bayangkan seorang ulama yang lisannya tajam menghunus syubhat dan keberaniannya tak surut di medan tempur. Namun, di akhir hayatnya, Ibnu Taimiyah tidak lagi menyibukkan diri dengan bantahan-bantahan panjang atau risalah-risalah debat. Justru di kesunyian itu, sebuah kalimat haru terucap dari kedalaman jiwanya:
وَنَدِمْتُ عَلَى تَضْيِيْعِ أَوْقَاتِي فِي غَيْرِ مَعَانِي الْقُرْآنِ
“Dan aku menyesal karena telah menyia-nyiakan waktuku selain untuk mentadabburi dan mengkaji makna-makna Al-Qur’an.”.
Renungkanlah kalimat ini dengan hati yang bening. Beliau menyesal bukan karena berbuat maksiat. Beliau merasa “merugi” karena waktu yang digunakan untuk menulis buku, berfatwa, dan membela agama, terasa masih terlalu banyak jika dibandingkan dengan waktu untuk benar-benar tenggelam dalam samudera kalamullah. Di penjara itu, beliau mengakhiri perjalanannya dengan mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 80 kali. Beliau seolah ingin mengatakan pada kita bahwa setinggi apa pun puncak ilmu yang kau daki, Al-Qur’an adalah rumah tempatmu pulang.
Kesaksian Mereka Tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Meski beliau memandang rendah dirinya di hadapan Allah, dunia menangkap cahaya keagungan dari sosoknya. Mari kita simak penuturan jujur para ulama tentang beliau:
Imaduddin al-Wasithi rahimahullah memberikan pujian dengan mengatakan:
واللهِ ثُمَّ واللهِ، لم أرَ تحتَ أديم السماء مثلَه علمًا وعملاً، وجمالاً وخُلقًا، واتباعًا وكرمًا، وحلمًا في حقِّ نفسه، وقيامًا في حقِّ الله تعالى عند انتهاك حُرْمته
“Demi Allah, kemudian demi Allah, aku belum pernah melihat di bawah naungan langit ini sosok yang menyerupainya dalam hal ilmu, amal, keelokan rupa, akhlak, ketaatan pada sunnah, kedermawanan, serta kelapangan dada menyangkut hak pribadinya. Namun, ia adalah sosok yang paling teguh berdiri membela hak-hak Allah Ta’ala ketika kehormatan agama-Nya dilanggar.”
Bahkan, Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Id rahimahumullah setelah bertemu dan mendengar langsung tutur katanya, berkata kepada beliau:
ما كنتُ أظنُّ أنَّ الله بَقِي يخلُق مثلَك
Aku tidak menyangka bahwa Allah masih menciptakan sosok sepertimu.” (Diriwayatkan oleh adz-Dzahabi).
Tentang produktivitas dan kedalaman ilmu, Imam adz-Dzahabi menyatakan:
ولا أعلم أحدًا من المتقدِّمين ولا مِن المتأخِّرين جمَع مثل ما جمَع، ولا صنَّف نحوَ ما صنَّف، ولا قريبًا من ذلك، مع أنَّ تصانيفه كان يكتبها مِن حفظه، وكتب كثيرًا منها في الحبْس، وليس عنده ما يحتاج إليه ويراجعه من الكُتب
“Aku tidak mengetahui seorang pun, baik dari kalangan terdahulu maupun belakangan, yang mampu menghimpun ilmu sebanyak yang ia himpun, atau menyusun karya tulis sebanyak dan sebaik karyanya. Padahal, karya-karya tersebut ia tulis berdasarkan hafalannya saja. Banyak diantaranya ditulis di dalam penjara tanpa referensi kitab yang bisa dirujuk.”
Mengenai keberaniannya, hal itu telah menjadi perumpamaan yang masyhur, bahkan para pahlawan besar pun meneladani ketangguhannya.
Khalil as-Shafadi (wafat 764 H) berujar:
لم أرَ أنا ولا غيري مثلَ استحضاره، ولا مثلَ سبْقه إلى الشواهد وسُرعة إحْضاره، ولا مثل عزْوِه الحديثَ إلى أصله الذي فيه نُقطة مداره، وأمَّا علم الأصلَيْن فقهًا وكلامًا، وفَهْمًا وإعلامًا، فكان عجبًا لمن يسمعه، ومعجزًا لم يعدَّ ما يأتي به أو يجمعه
“Baik aku maupun orang lain belum pernah melihat orang dengan daya ingat (hadirnya ilmu) seperti beliau. Beliau sangat cepat dalam menghadirkan dalil pendukung serta sangat mahir dalam menyandarkan sebuah hadis ke sumber aslinya. Adapun dalam ilmu ushul (Ushuluddin dan Ushul Fiqh), baik secara pemahaman maupun penyampaian, beliau adalah keajaiban bagi siapapun yang mendengarnya.”
Beliau juga menambahkan:
وكان ذا قلمٍ يُسابق البَرْق إذا لمع، والودقَ إذا همَع، يُملي على المسألة الواحدة ما شاء مِن رأس القلم، ويكتب الكرَّاسين والثلاثة في قعدة
“Pena beliau berlari lebih cepat dari kilat yang menyambar dan hujan yang lebat. Beliau mampu mendiktekan jawaban atas satu masalah sekehendak hatinya dan menyelesaikan dua hingga tiga buku kecil (kurras) dalam sekali duduk.”
Al-Hafiz al-Mizzi juga pernah bersaksi:
لم يُرَ مثله منذ أربعمائة سَنَة.
“Belum pernah terlihat sosok seperti dirinya sejak empat ratus tahun yang lalu.”
Mengenai wafatnya beliau, Imam Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan bahwa ketika Syaikhul Islam wafat, gubernur setempat sedang tidak berada di tempat. Sebagian besar ahli fiqih di kota tersebut sebelumnya memusuhi beliau hingga beliau wafat dalam keadaan tertahan di benteng (penjara).
Meskipun demikian, tidak ada satupun dari mereka yang tidak menghadiri jenazahnya, mendoakan rahmat untuknya, dan merasa kehilangan, kecuali tiga orang saja yang tidak hadir karena khawatir akan kemarahan masyarakat umum.
Ini hanyalah sekilas isyarat mengenai keagungan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Cukuplah menjadi bukti keutamaan dan kebanggaan bagi beliau bahwa imam besar seperti Ibnu al-Qayyim adalah murid sekaligus hasil didikannya.
Untuk pembahasan yang lebih mendalam, silakan merujuk pada kitab: “Al-Jami’ li Sirat Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah” yang disusun di bawah pengawasan Syaikh Dr. Bakr Abu Zaid rahimahumullah. (Dikuti dari: https://saaid.org/Doat/nashmi/26.htm)
Nasehat Untuk Diri
Jika seorang Ibnu Taimiyah yang menghabiskan malamnya dengan sujud dan siangnya dengan ilmu saja masih merasa menyesal, lantas di mana posisi kita? Kita yang waktunya sering habis untuk menggulirkan layar gawai, yang bibirnya lebih lincah membicarakan urusan orang lain daripada mengeja ayat-ayat cinta dari Sang Khaliq. Penyesalan beliau adalah sebuah alarm. Beliau ingin memberitahu kita bahwa semua kesibukan, bahkan kesibukan atas nama agama sekalipun, akan terasa gersang jika tidak bersumber dari tadabbur Al-Qur’an. Beliau menutup usianya dengan seuntai ayat yang begitu damai, seolah menjadi jawaban atas seluruh perjuangan hidupnya:
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ . فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55).
Sahabat, mari kita bertanya pada diri sendiri: Jika esok adalah hari terakhir kita, bagian mana dari hidup kita yang paling kita sesali?
Apakah kita akan menyesal karena kurang mengejar materi, ataukah kita akan merasa pilu karena Al-Qur’an hanya menjadi pajangan berdebu di sudut lemari?
Wallahu Ta’ala A’lam.
Ditulis oleh: Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.