Artikel

Krisis Moral Mahasiswa di Kampus: Pentingnya Adab dalam Menuntut Ilmu 

Kasus dugaan pelecehan seksual di ruang digital yang melibatkan mahasiswa baru-baru ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Tragedi ini membuktikan bahwa kecerdasan intelektual tidak berbanding lurus dengan kemuliaan akhlak. Bagi orang tua muslim, fenomena ini adalah alarm untuk kembali menengok bagaimana Islam mengatur batasan interaksi dan pentingnya menjaga kehormatan.

  1. Menjaga Kehormatan: Fondasi Utama Peradaban Islam

Islam hadir untuk menjaga lima perkara pokok (Al-Dharuriyat al-Khams), salah satunya adalah menjaga kehormatan (Hifzhun ‘Ardh). Pelecehan, baik secara fisik maupun verbal melalui media digital, adalah pelanggaran berat terhadap martabat manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam khutbah terakhir beliau:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram atas sesamamu sebagaimana haramnya hari ini, pada bulan ini, dan di negeri ini.” (HR. Bukhari & Muslim).

Merendahkan wanita dan menjadikannya objek candaan yang tidak senonoh bukan sekadar “kenakalan remaja”, melainkan bentuk kezaliman yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Ta’ala.

  1. Fitnah Lisan dan Jempol dalam Timbangan Syariat

Banyak pemuda merasa aman saat mengetik di balik layar ponsel karena merasa tidak ada yang melihat. Padahal setiap huruf yang diketik memiliki konsekuensi hukum yang sama dengan apa yang diucapkan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada satu katapun yang terucap melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18).

Seorang penuntut ilmu seharusnya menghiasi dirinya dengan wara’ (kehati-hatian). Jika seseorang tidak mampu menjaga tulisannya dari kata-kata kotor, maka ilmu yang dipelajarinya tidak akan membawa keberkahan.

  1. Solusi untuk yang kuliah di Kampus Umum: Membangun Ekosistem Kebaikan

Di kampus umum yang heterogen, mahasiswa harus cerdas melakukan filterisasi sosial. Lingkungan dan teman bergaul memiliki pengaruh besar terhadap agama seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat.” (HR. Abu Dawud).

Solusi Praktis di Kampus Umum:

  • Mencari Lingkungan Shalih: Bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam atau halaqah ilmu sebagai support system.
  • Keberanian Moral: Berani keluar dari grup chat atau lingkaran pertemanan yang mulai melanggar batasan syariat.
  • Menjaga Rasa Malu: Mengingat sabda Nabi ﷺ: 

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ 

“Rasa malu itu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan” (HR. Bukhari).

  1. Peran Orang Tua: Memilihkan Tempat Belajar sebagai Tanggung Jawab

Orang tua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya.

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari).

Orang tua perlu memprioritaskan pendidikan yang menjaga adab. Jika anak berada di kampus umum, orang tua harus menjadi penasihat strategis yang menanamkan nilai-nilai Muraqabatullah (merasa diawasi Allah). Pendidikan berbasis agama di masa awal (sebelum kuliah) bisa menjadi investasi terbaik agar anak memiliki imunitas moral yang kuat.

  1. Taubat dan Perbaikan Diri: Jalan Kembali Menuju Kemuliaan

Bagi mereka yang pernah tergelincir dalam pergaulan yang salah atau sempat ikut serta dalam lisan yang menyakiti orang lain, Islam tidak pernah menutup pintu harapan. Namun, taubat dalam masalah kehormatan bukan sekadar kata-kata, melainkan harus dibuktikan dengan berhentinya maksiat dan usaha memperbaiki kerusakan yang telah diperbuat.

Rasulullah ﷺ memberikan motivasi bagi setiap manusia yang pernah bersalah:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi & Ibnu Majah).

Dalam kasus pelecehan, taubat menjadi sempurna jika dibarengi dengan usaha meminta maaf kepada korban (jika memungkinkan dan tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar) serta berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut. Allah Ta’ala menjanjikan kasih sayang-Nya bagi mereka yang tulus kembali:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70).

Kesimpulan: Mengembalikan Marwah Pendidikan

Kasus pelecehan di kampus umum adalah pengingat keras bahwa musuh terbesar seorang penuntut ilmu bukanlah kesulitan materi kuliah atau ujian semester, melainkan kegagalan dalam mengendalikan syahwat dan lisan. Pendidikan yang tinggi tanpa pondasi takut kepada Allah (Khasyatullah) hanya akan melahirkan individu yang cerdas secara akal namun lumpuh secara nurani.

Mari kita kembalikan institusi pendidikan sebagai tempat lahirnya insan-insan yang tidak hanya menguasai hukum manusia, tetapi juga tunduk pada hukum Allah. Tugas kita bersama—orang tua, pendidik, dan mahasiswa—adalah memastikan bahwa adab selalu berdiri di depan ilmu. Sebagaimana pesan Imam Malik rahimahullah:

تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْم

“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu”.

Dengan adab yang terjaga, kampus akan kembali menjadi tempat yang aman bagi setiap jiwa, dan martabat setiap muslim akan senantiasa terlindungi di bawah naungan syariat.

Wallohu a’lam

Ditulis oleh Ustadz Nurhadi Nugroho, hafidzhohulloh

Back to top button