Apakah Muntah Termasuk Najis Menurut Islam?
Apakah Muntah Termasuk Najis Menurut Islam?
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apakah Muntah Termasuk Najis Menurut Islam, selamat membaca.
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Afwan ustadz. Izin bertanya. Apakah muhtahan termasuk najis?
جزاك اللهُ خيراً
(Ditanyakan Oleh Mahad Bimbingan Islam)
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
Ludah yang dikeluarkan dari mulut tidak terhitung najis. Adapun muntahan yang berasal dari dalam perut dan dimuntahkan ke luar, maka dianggap najis karena sudah melalui proses metabolisme dalam tubuh, inilah pendapat kebanyakan ulama Islam.
Di antara dalil yang disampaikan Ibnu Hazm Rahimahullah dalam Al-Muhalla (1/191) adalah hadits,
الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْعَائِدِ فِي قَيْئِه
“Orang yang meminta kembali hadiahnya seperti anjing muntah lalu menelan muntahannya sendiri.” (HR. Bukhari, no. 2589 dan Muslim, no. 1622)
Ibnu Hazm Rahimahullah mengatakan,
وَالْقَيْءُ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ أَوْ كَافِرٍ حَرَامٌ يَجِبُ اجْتِنَابُهُ
“Muntah dari seorang muslim maupun kafir, dihukumi haram dan wajib dijauhi.” (Al-Muhalla, 1/191).
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Najisnya muntah itu telah disepakati, baik itu muntah dari manusia maupun hewan. Juga termasuk najis, muntah yang berubah atau tidak berubah dari bentuk makanan. Ada juga yang berpendapat bahwa jika keluar tidak berubah dari bentuk makanan, tetap dianggap suci, inilah pendapat dari madzhab Imam Malik.” (Demikian disebutkan dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (2:551)).
Syaikh Ibnu Baz pernah berfatwa “Muntah yang sedikit dimaafkan, adapun muntah yang banyak sudah selayaknya dicuci. Karena kebanyakan ulama menganggap najisnya muntah dan disamakan dengan kencing. Sehingga jika muntah tadi mengenai pakaian atau badan, sudah sepatutnya dicuci. Adapun muntah yang sedikit, maka dimaafkan sebagaimana darah, nanah, dan najis yang sedikit dimaafkan. Permasalahan muntah ini berlaku pada orang orang dewasa maupun anak-anak, dihukumi sama.” (Fatawa Nur ‘ala Ad-Darb, 5:379).
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul, S.Ag. حافظه الله