Apa Saja Yang Dibasuh Dan Diusap Saat Berwudhu?
Apa Saja Yang Dibasuh Dan Diusap Saat Berwudhu?
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang Apa Saja Yang Dibasuh Dan Diusap Saat Berwudhu? selamat membaca.
Pertanyaan:
Ahsanallahu ilaikum, Ustadz. Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dan keluarga. Afwan, ijin bertanya. mengenai mengusap dan membasuh pada saat berwudhu.
Bagaimana hukumnya jika kita mengusap anggota wudhu yang seharusnya dibasuh, contohnya mengusap muka bukan membasuh muka. Hal tersebut dikarenakan ketidak tahuan kita. Apakah wudhu kita batal selama ini? sehingga harus mengulang wudhu dan sholat yang kita tinggalkan. Baarakallahu fiik, ustadz.
Ditanyakan oleh Santri Mahad Bimbingan Islam
Jawaban:
Aamiin, semoga juga antum dan kita semua senantiasa dalam kebahagiaan dan penjagaanNya.
Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa dalam berwudhu ada ketentuan ketentuan yang telah Allah dan rasulNya ajarkan. Sebagaimana tatacara berwudhu telah diajarkan di dalam islam, sebagaimana yang telah disebutkankan di dalam Allah ta`ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah: 6)
Dan juga dalam hadist Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِهِ وَأَدْبَرَ ، وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ
Dari ‘Abdullah bin Zaid, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang, lalu kami mengeluarkan untuknya air dalam bejana dari kuningan, kemudian akhirnya beliau berwudhu. Beliau membasuh wajahnya tiga kali, membasuh tangannya dua kali dan mengusap kepalanya, dia menarik ke depan kemudian ditarik ke belakang, kemudian terakhir beliau membasuh kedua kakinya. (HR. Bukhari no. 197).
Ada tempat dan bagian anggota badan yang dicuci/dibasuh yaitu wajah, tangan dan kaki dan juga ada yang diusap yaitu kepala, yang hendaknya seseorang tidak membolak balikkan keadaan yang ada. Kecuali ada keadaan yang mendesak untuk mengusap yang seharusnya dicuci semisal ada luka atau perban yang menutupi luka, sehingga tidak memungkinkan untuk dicuci.
Bila ternyata memang tidak mengetahui tatacara tersebut dan setelah mengetahuinya ia berusaha menjalankannya sesuai sunnah, maka wudhu atau shalat yang pernah dilakukannya insyaallah tetap sah karena ia melakukannya sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Sebagaimana pada hadist seseorang yang tidak sempurna wudhu` nya, antara lain pada riwayat berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَرضي الله عنهم قَالُوا: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم-: وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ
Dari ‘Abullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, Abu Hurairah, dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah tumit yang tidak terbasuh air wudhu dengan api neraka.” (HR. Bukhari, no. 165 dan Muslim, no. 241)
Dan juga dari hadist yang terkait dengan orang yang jelek shalatnya, sebagaimana hadist Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya.
Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali.
Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Alquran yang mudah bagimu. Lalu rukuklah dan sertai thumakninah ketika rukuk.
Lalu bangkitlah dan beriktidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thumakninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thumakninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thumakninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari, no. 793 dan Muslim, no. 397).
Dalam dua hadist diatas Rasulullah menyuruh untuk mengulangi wudhu atau shalat yang tengah di lakukannya karena dianggap tidak sempurna, namun Rasulullah tidak menyuruhnya mengulang shalat shalat yang pernah dilakukannya dari wudhu atau shalat nya yang telah lampau.
Hal ini menunjukkan bahwa amaliyah ibadah yang dilakukan seseorang sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, setelah mendapatkan kesalahan atau kekurangan dengan apa yang pernah dilakukannya dan berusaha tidak mengulanginya maka amaliyah tersebut tidak perlu di ulang kembali, dan semoga Allah tetap menerima dan memaafkan kekurangan yang ada pada diri kita semua. juga hendaknya setiap kita berusaha melakukan dan mengikuti apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Wallahu a`lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Jum’at, 30 Ramadhan 1444H / 21 April 2023 M
Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi BimbinganIslam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله klik