Kisah Tawakal Nabi Musa dalam Al-Qur’an dan Hikmahnya

(Tadabbur Doa di Tengah Perjalanan Menuju Madyan)
Di antara potongan kisah paling menyentuh dalam Al-Qur’an adalah perjalanan Nabi Musa ‘alaihis salam menuju negeri Madyan, sebagaimana disebutkan dalam surat Surah Al-Qasas.
Beliau keluar dari Mesir dalam keadaan takut, sendirian, tanpa bekal, tanpa arah yang jelas. Di awal perjalanan itu beliau berdoa dengan penuh harap:
عسى ربي أن يهديني سواء السبيل
“Semoga Rabbku menunjukkan ke jalan yang lurus”. (QS. Al-Qashash : 22)
Lalu ketika rasa lapar dan letih memuncak, beliau kembali bermunajat:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Rabbku, sungguh aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash : 24)
Inilah doa seorang nabi, di saat dunia seakan menutup semua pintunya.
Penjelasan Ringkas
Ayat ini datang dalam suasana yang sangat manusiawi. Musa ‘alaihis salam dalam keadaan lapar, letih, dan asing. Para ahli tafsir menyebutkan bahwa saat itu beliau belum merasakan makanan selama tujuh hari. Betapa berat ujian itu, padahal beliau adalah manusia paling mulia di zamannya.
Namun Lihatlah Bagaimana Al-Qur’an Mengajarkan Adab Dalam Meminta.
Beliau tidak mengeluh. Tidak menyebut rasa laparnya secara langsung. Tidak merinci kebutuhannya. Beliau hanya berkata bahwa dirinya fakir terhadap kebaikan yang Allah turunkan.
Kata “khair” (خَيْرٍ) dalam ayat ini adalah kata yang luas.
Ia mencakup segala yang dibutuhkan manusia, baik yang bersifat materi seperti makanan dan tempat tinggal, maupun yang bersifat maknawi seperti ketenangan dan pendamping hidup.
Dan perhatikan ungkapan “anzalta” (أَنْزَلْتَ) Engkau turunkan.
Seakan Musa mengisyaratkan bahwa segala kebaikan datang dari tempat yang tinggi, dari Dzat Yang Maha Tinggi. Ini sekaligus pujian tersirat kepada Allah, bahwa Dia-lah Pemilik karunia yang agung.
Maknanya adalah: Ya Rabb, aku membutuhkan apa saja dari kebaikan yang Engkau berikan. Aku tidak memilih, aku tidak menentukan. Apa pun dari-Mu adalah kebaikan bagiku.
Inilah Puncak Penghambaan. Lalu Bagaimana Jawaban Allah?
Allah tidak sekadar memberi makanan. Allah memberi yang jauh lebih besar. Di Madyan, Musa mendapatkan tempat berteduh, makanan, keamanan, pekerjaan, bahkan istri yang menentramkan hatinya. Semua kebutuhan duniawinya tercukupi melalui sebuah rumah yang shaleh.
Seakan Allah mengajarkan bahwa ketika seorang hamba menyerahkan seluruh kebutuhannya kepada-Nya, Allah memberi bukan sekadar yang diminta, tetapi yang terbaik.
Dan disana terdapat isyarat halus tentang hinanya dunia di sisi Allah. Musa yang kelaparan tujuh hari tidak direndahkan derajatnya. Justru dalam kefakirannya itulah Allah memuliakannya dengan limpahan karunia.
Pelajaran Yang Bisa Dipetik:
Pertama, kefakiran di hadapan Allah adalah kemuliaan, bukan kehinaan.
Kedua, doa terbaik adalah doa yang lahir dari hati yang benar-benar merasa butuh.
Ketiga, kebaikan Allah lebih luas dari yang kita bayangkan. Kita mungkin meminta makanan, tetapi Allah memberi keluarga, keamanan, dan masa depan.
Keempat, dunia di sisi Allah sangat ringan. Kelaparan tujuh hari bagi seorang nabi bukan tanda kehinaan, melainkan bagian dari tarbiyah Ilahi.
Penutup
Setiap kita pernah berada di persimpangan hidup. Bingung arah, lelah dalam perjuangan, atau merasa sendirian di tengah perjalanan.
Di saat itulah, bacalah doa Musa dengan kesadaran penuh:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Wahai Rabb-ku, sungguh aku sangat membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”
Akui kefakiran kita. Serahkan pilihan kepada Allah. Karena bisa jadi, di balik rasa lapar hari ini, Allah sedang menyiapkan rumah yang teduh dan masa depan yang penuh keberkahan.
Wallahu a’lam.
Ditulis Oleh Ustadz Nurhadi Nugroho