8 Cara Menyikapi Saudara Kandunga Yang Murtad
8 Cara Menyikapi Saudara Kandunga Yang Murtad
Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang 8 Cara Menyikapi Saudara Kandunga Yang Murtad, selamat membaca.
Pertanyaan:
بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz Ijin bertanya :
1. Bagaimana cara mengajak adek perempuan yang murtad (karena perkawinan) kembali kepada Islam? Beberapa kali sudah diajak untuk kembali pada Islam tapi sepertinya adek saya belum mau kembali pada Islam.
2. Sampai sekarang saya masih jengkel dan marah dengan suami adek saya yang mengajak murtad. Meski dia berusaha baik dengan keluarga kami Berdosa kah saya pak ustadz?
Ditanyakan oleh Sahabat AISHAH (Akademi Shalihah)
Jawaban:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ
Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.
- Apabila ada di antara saudara kita yang murtad, maka hendaklah kita bersikap sebagai berikut:
- Berlepas diri dari kekufuran dan kemurtadannya.
- Berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengembalikan mereka kepada Islam.
- Mendakwahkan Islam kepada mereka dengan menyampaikan nasihat dengan cara terbaik, agar mau kembali ke agama Islam, lihat sikon.
Allah ‘azza wa jalla berfirman,
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik. Dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat hidayah.” (QS. an-Nahl: 125)
Maksud jidal (berdebat) dalam ayat di atas adalah menyampaikan kebenaran dan mematahkan kebatilan. Hukumnya bisa jadi wajib atau sunnah, tergantung tuntutan situasi dan kondisi. (lihat penjelasan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 160)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثُمَّ اْدُعُهُمْ إِلىَ الْإِسْلاَمِ وَأَخْبِرْهُم بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِم مِنْ حَقِّ اللهِ فِيْهِ، فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِداً خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ
“Kemudian ajaklah mereka kepada Islam. Jelaskan kepada mereka tentang hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, bilamana Allah ‘azza wa jalla memberi hidayah kepada satu orang melalui dirimu, sungguh itu lebih berharga bagimu daripada seekor unta betina merah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu)
Setelah segala upaya dicurahkan dan tidak tampak membuahkan hasil, kita pasrahkan semuanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Dialah ‘azza wa jalla yang telah berfirman,
لَيۡسَ لَكَ مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٌ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ أَوۡ يُعَذِّبَهُمۡ فَإِنَّهُمۡ ظَٰلِمُونَ
“Bukan menjadi urusanmu, apakah Allah menakdirkan untuk mereka bertobat atau Dia mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Ali ‘Imran: 128).
Dalam ayat lain;
إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ
“Engkau tidaklah dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, namun Allah sajalah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Qashash: 56).
- Tidak loyal, mendukung dan mencintainya dalam hal yang ada sangkut pautnya dengan ajaran yang ia anut.
- Diperbolehkan mengunjunginya dalam rangka menasehatinya dan terus berharap ia mendapat hidayah.
- Boleh memberikan ia hadiah untuk menarik hatinya pada Islam.
- Berpaling atau memboikotnya jika ia terus dalam kesesatan, apalagi bila ia membela aksi dan perbuatannya. Jika mendiamkannya lebih bermanfaat, maka diamkan. Semoga bermanfaat. Hanya Allah Ta’ala yang memberi hidayah dan taufiq.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله