6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (1)

6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (1)

6 Ciri Orang Beriman dalam Al Quran (1)

Iman merupakan aset yang sangat berharga bagi seorang mukmin. Pemiliknya akan melahirkan kesalehan dalam pribadinya. Sebenarnya jika kita menggali ayat-ayat dalam Al Quran maupun Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kita dapati banyak ciri-ciri orang beriman. Namun terdapat 6 (enam) ciri yang Allah sebutkan secara khusus dan beriringan dalam sebuah surat yang juga dinamakan Surat Al-Mukminun (Orang-orang beriman). Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ  ۝ إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ۝ فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ ۝ وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ۝

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam solatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang selain itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara solatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (Q.S. Al Mukminun 23: 1-11)

Allah sebutkan di ayat yang pertama bahwa orang-orang berimanlah yang mendapatkan keberuntungan. Kemudian Allah sebutkan ciri-ciri mereka dan Allah jelaskan keberuntungan yang akan mereka dapatkan yaitu Surga Firdaus. Karenanya sangat layak bagi kita untuk mengetahui lebih dalam ciri-ciri mereka kemudian berusaha mengamalkannya.

Pertama, Khusyuk dalam Sholatnya

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya (Q.S. Al-Mukminun 23: 2)

Perkara shalat adalah perkara yang sangat penting. Bahkan Allah menyebutkan shalat dan mengaitkannya dengan iman. Sehingga shalat sama saja dengan iman. Sebagaimana ketika Allah membantah anggapan orang-orang kafir dan munafik bahwa shalat Nabi Muhammad sia-sia sebelum kiblat shalat dipindahkan dari arah Baitul Maqdis ke arah Masjidil Haram. Maka Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan keimananmu (Q.S. Al-Baqarah 2: 143)

Ketika Allah menyebutkan ciri yang pertama ini yaitu shalat. Allah tidak sekedar menyebutkan “mengerjakan shalat” saja namun yaitu orang yang khusyuk di dalam shalatnya. Karena orang yang khusyuk dalam shalatnya pasti dia mengerjakan shalat, namun orang yang mengerjakan sholat belum tentu dia khusyuk dalam shalatnya.

Apa yang dimaksud khusyuk dalam shalat? Imam As Sa’di menjelaskan dalam tafsirnya, “Khusyuk dalam sholat yaitu hadirnya hati ketika berada di hadapan Allah Ta’ala, merasakan kedekatanNya sehingga hati dan jiwa merasa tenang, gerakan shalat pun teratur dan sedikit bergerak-gerak (di luar gerakan sholat, -pent). Orang yang khusyuk berusaha senantiasa memelihara adab di hadapan Rabbnya. Dia menghayati seluruh yang dibaca dan dilakukannya dalam shalat dari awal hingga akhir, sehingga hilang rasa was-was dan lintasan-lintasan pikiran buruk dalam shalatnya. Khusyuk itulah yang menjadi ruh dalam sholat.”

Poin pertama ini sekaligus menunjukkan kepada kita pentingnya belajar Bahasa Arab. Mengapa? Karena seseorang bisa khusyuk dalam shalatnya ketika di memahami apa yang dia baca dalam shalat sehingga hatinya bisa hadir dan turut merenungkan isi bacaan shalatnya. Sedangkan kita ketahui, bacaan-bacaan shalat adalah dalam Bahasa Arab. Bagaimana bisa memahami bacaan shalat jika tidak memahami Bahasa Arab?!

Kedua, Menjauhkan Diri dari Hal yang Sia-sia

Allah Ta’ala berfirman,

 وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia. (Q.S. Al-Mukminun 23: 3)

Hal yang sia-sia (al Laghwu) yaitu setiap perkataan dan perbuatan yang tidak punya manfaat kebaikan. Maka ciri orang-orang yang beriman adalah mereka yang meninggalkan perkara yang sia-sia baik dalam perkataan maupun perbuatan, sekaligus mereka semangat untuk berkata dan berbuat yang memberikan manfaat.

Imam As Sa’di menceritakan bagaimana para Sahabat dahulu memperbaharui keimanan mereka, “Para sahabat Nabi dan orang setelah mereka dahulu, ketika merasa lalai atau merasa ada kekacauan dalam imannya, mereka akan saling berkata, “Ayo mari duduk bersama kami, kita beriman dulu sebentar”. Mereka pun mengingat Allah dan mengingat nikmat seputar agama dan dunia yang Allah berikan kepada mereka dalam majelis tersebut sehingga keimanan merekapun terbarukan kembali.” (Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dari sahabat Muadz bin Jabal, At Taudhih wal Bayan/61)

Bagaimana dengan hal-hal yang diharamkan? Apakah mereka menjauhinya? Kata Imam As Sa’di, “Dengan hal yang sia-sia saja mereka tak mau melakukan, maka tentu lebih-lebih lagi pada perkara-perkara yang haram” (Taisir Kalimirrahman, Tafsir al Mukminun: 3)

Maka jika kita mau meniru ciri orang-orang beriman yang Allah janjikan dengan surga Firdaus, kita mesti berusaha menahan diri kita untuk berkata dan berbuat yang sia-sia apalagi yang haram. Misalnya ketika berselancar (browsing) di dunia maya, pikirkan dulu apakah hal ini bisa menjerumuskan kita kepada yang haram? Kalau tidak, pikirkan lagi apakah ini bisa menjerumuskan kita ke dalam perbuatan yang sia-sia? Jika tidak, maka silakan lakukan. Namun jika hal tersebut membuat kita melakukan hal yang sia-sia, maka lakukan hal lain yang lebih bermanfaat.

Ketiga, Menunaikan Zakat

Allah Ta’ala berfirman,

 وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

dan orang-orang yang menunaikan zakat (QS al Mukminun: 4)

Makna menunaikan zakat di sini baik zakat yang wajib mereka tunaikan ataupun yang sunnah seperti sedekah, infaq, dan yang lainnya. Orang-orang beriman hendaknya menunaikan kewajiban dan ibadah yang terkait harta ini dengan ikhlas untuk membersihkan harta dan menyucikan jiwa mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan bahwa sedekah adalah di antara bukti keimanan,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Shalat adalah cahaya dan sedekah adalah bukti (HR. Muslim no. 223)

Tiga ciri yang pertama ini saja sudah menunjukkan bahwa memang layak orang beriman itu masuk surga Firdaus, surga yang tertinggi. Karena dia telah berbuat yang terbaik untuk Allah dengan khusyuk dalam sholat, berbuat yang terbaik untuk dirinya sendiri dengan menjauh dari hal-hal yang haram dan sia-sia serta berbuat yang terbaik untuk sesama makhluk dengan ringannya dia mengeluarkan zakat dan sedekah.

Bersambung . . .

Ditulis Oleh:
Ustadz Amrullah Akadhinta
(Kontributor Bimbinganislam.com)

CATEGORIES
Share This

COMMENTS