Selalu Bermuhasabah Akan Keadaan Hati

Selalu Bermuhasabah Akan Keadaan Hati

SELALU BERMUHASABAH AKAN KEADAAN HATI

Muhasabah (introspeksi diri) adalah ilmu yang banyak terlupakan padahal kita amat  membutuhkannya untuk mengevaluasi kehidupan kita ke depannya. Fase kehidupan manusia dalam perkembangannya tidak selalu linear. Pada fase-fase tertentu perkembangan kehidupan manusia kadang kala tenang, sedangkan pada fase lain kadang kala mengalami kegoncangan dan krisis. Kehidupan manusia memiliki irama (ritme), yakni harmonisnya hubungan antara yang satu dengan yang lainnya.

Maka melihat perkembangan hidup manusia yang begitu kompleks perlu kiranya sebuah evaluasi menyeluruh terhadap orientasi kehidupan seseorang dengan memperhatikan kondisi yang terjadi pada setiap fase perubahan hidup manusia.  Dalam sebuah kasus misalnya kita sering mendengar para dokter menganjurkan untuk melakukan pengecekan kesehatan secara berkala, maka demikian pula para ulama yang mereka adalah dokter rohani, menganjurkan untuk melakukan pengecekan kesehatan hati kita bukan bulanan atau mingguan tapi setiap saat harus dicek keadaan hati ini karena perubahannya sangat cepat bahkan dalam hitungan detik hati bisa berubah 180 derajat yang tadinya sehat tiba-tiba terjangkiti penyakit hati yang sangat berbahaya.

Perintah muhasabah diri pun banyak tertuang  dalam hadits, diantaranya yang diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” (HR. Tirmidzi no. 2459)

dan dari ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُواِ، وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Lakukanlah muhasabah pada jiwa kalian sebelum kalian dihisab,karena hisab pada hari kiamat nanti akan menjadi ringan bagi orang-orang yang telah memuhasabah dirinya ketika didunia”. (HR. At Tirmidzi no. 2459)

Introspeksi Sebelum dan Sesudah Beramal

Introspeksi diri dilakukan sebelum dan sesudah beramal. Sebelum beramal, hendaklah seseorang berhenti sejenak dan merenungkan sampai nampak baginya pilihan terbaik, antara yang dilakukan atau ditinggalkan. Perlu diketahui, introspeksi diri setelah beramal itu ada tiga jenis:

Pertama: Introspeksi diri atas ketaatan yang telah ia lakukan. Apakah ada kekurangannya? Apakah sudah sesuai keinginan Allah dan tuntunan Rasul-Nya?.

Misalnya, apakah shalat yang kita lakukan telah sesuai dengan tuntunan Rasulullah? Baik lahir maupun batin. Ataukah hanya sebatas lahiriyahnya saja? Jauh dari kekhusyu’an bahkan ada unsur dunia di dalamnya? Sejak takbiratul ihram sampai salam.

Kedua: Introspeksi diri atas setiap amalan yang sebaiknya ditinggalkan.

Misalnya adalah kebiasaan sebagian orang yang merayakan malam tahun baru dengan bergadang semalam suntuk, membuat gaduh dengan suara petasan, serta berbagai bentuk gangguan terhadap orang lain, sampai akhirnya tidak bisa melaksanakan shalat Shubuh, karena terlalu letih. Dengan perbuatan seperti ini, sang pelaku minimal melakukan dua jenis dosa. Pertama, dosa menzhalimi orang lain yaitu telah mengganggu orang lain. Dosa jenis ini tidak akan diampuni oleh Allah sampai orang yang terzhalimi memaafkannya. Kedua, dosa kepada Allah, karena meninggalkan suatu yang diwajibkan, yakni shalat Shubuh berjamaah pada waktunya.

Ketiga: Introspeksi diri atas setiap amalan yang mubah dan suatu kebiasaan. Kenapa dia melakukannya? Apakah demi mencapai kesuksesan akhirat? Kalau ya, berarti dia telah beruntung. Ataukah demi kenikmatan dunia yang sesaat? kalau ini yang memotivasinya, maka alangkah ruginya.

Misalnya, makan dan minum kita. Apakah hanya sekedar untuk memuaskan nafsu? Ataukah supaya berbadan kekar lalu bangga dan sombong karenanya? Semua ini akan sirna bersama dengan datangnya ajal. Ataukah makan dan minum itu kita lakukan demi menjaga stamina tubuh kita agar bisa beribadah dengan kuat dan khusyu’ hanya kepada Allah.

Bersungguh-sungguh dalam muhasabah diri akan mendatangkan banyak sekali manfaat, dengan manfaat tersebut seseorang akan mendapatkan banyak faedah. Al Harits Al Muhaisiby berkata:

مَن اجتهد في باطنه، ورَّثه الله حسنَ معاملة ظاهره، ومَن حسَّن معاملته في ظاهره مع جهْد باطنه، ورَّثه الله تعالى الهدايةَ إليه؛ لقوله – عزَّ وجل – : ﴿ وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh (meluruskan) batinnya maka Allah akan mewariskan baiknya muamalah lahiriyah pada dirinya. Barangsiapa yang berusaha memperbaiki muamalah lahiriyahnya yang diiringi dengan usaha memperbaiki batinnya maka Allah akan mewariskan hidayah menuju jalan Nya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh  dalam menempuh jalan Kami maka Kami akan memberikan petunjuk jalan lurus padanya. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Al-Ankabut 29: 69)

Manfaat Muhasabah

Muhasabah minimal akan mendatangkan dua manfaat. Pertama, tahu aib diri sendiri. Sehingga seseorang tergerak untuk memperbaiki diri, karena ada rasa malu. Muhammad bin Waasi’ memberikan sebuah perumpamaan tentang dosa-dosa, beliau berkata:

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ يَجْلِسُ إِلَيَّ

“Seandainya dosa itu ada baunya, niscaya tidak ada seorang pun sanggup duduk dan mendekat kepadaku.”

Manfaat yang kedua, jika kita muhasabah diri maka kita dapat mengenal hak Allah. Orang yang tidak mengenal Allah ‘Azza wa Jalla, maka ibadahnya tidak bermanfaat baginya. Kalaupun bermanfaat, maka sangat sedikit. Marilah kita berusaha untuk muhasabah diri kita semua, karena introspeksi diri itu sangat penting.

Wallahua’lam.


Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ Saryanto
(Kontributor Bimbinganislam.com)

 


Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya, Mahasiswa Pascasarjana Magister Hukum Islam Jurusan Fiqih dan Ushul Fiqih Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kampus Pascasarjana UMS, Surakarta,

CATEGORIES
Share This

COMMENTS