Audio Kajian

Ustadz Ammi Nur Baits – Kami Dengar Kami Taat

Bismillāhirrahmānirrahīm
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh
Alhamdulillāh, washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in. ‘Amma ba’d

Alhamdulillāh, Berikut link download audio dan ringkasan kajian Sami’na wa atho’na bersama oleh Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah pada Hari Rabu, 3 Dzulqo’dah 1438 H | 29 Juli 2017 pada pukul 20.00 WIB sd selesai bertempat di Masjid Al Muhibbah Wonocatur Jogjakarta ( https://goo.gl/maps/p8aQUYhS74t ) dan disiarkan langsung di bimbinganislam.com.

Silakan Download audio kajian di atas pada tombol di bawah ini

Berikut poin-poin ringkasan kajian yang disampaikan :
1.    Ketika penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam, Allāh Subhānahu wa Ta’ālā telah menguji para makhluknya, untuk membuktikan  siapa dari makhluk Nya yang dia pasrah dan siapa yang durhaka. Allāh Subhānahu wa Ta’ālā perintahkan  para makhluk sujud kepada Adam ‘alaihis salam.Makhluk yang lulus adalah para malaikat, sementara Iblis tidak bersedia sujud karena merasa lebih baik dari Adam.Iblis diciptakan dari api sedangkan Adam ‘alaihis salam dari tanah. Iblis beranggapan sesuai dengan logikanya, padahal tidak setiap pendapat sesuai logika makhluk Nya adalah kebenaran.
2.    Ujian bagi Nabi Adam ‘alaihis salam agar tidak mendekati 1 pohon di surga, namun karena ketamakannya Adam ‘alaihis salam untuk kekal di surga, menyebabkan dia tidak lulus dan bermaksiat. Hal ini menunjukkan bahwasanya Nabi tidak maksum dari dosa (kecil).
3.    Prinsip sami’na wa atho’na, ialah lebih mengedepankan aturan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  walaupun bertentangan dengan logika, kepentingan pribadi, dan hawa nafsu. Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [QS al-‘Ankabût/29:2] 4.    Berikut macam – macam ujian ;
a. Ujian kauniyah ; ujian dalam bentuk takdir (musibah) yang tidak dapat dielakkan, semisal :  sakit, miskin dan sebagainya. Manusia tidak punya pilihan apapun, selain harus bersabar.

b. Ujian syar’iyah ; ujian dalam aturan syariat dan dikembalikan kepada  pilihan manusia (bisa jadi lebih berat). Semisal ; ujian di medan dakwah. Ada 5 Nabi Ulul Azmi yang diuji dengan ujian syar’iyah, yakni ujian di medan dakwah, hal tersebut yang membedakan dengan nabi-nabi lainnya  Contoh : Nabi Ayyub yang diuji dengan sakit dan miskin.

5.    Tidak semua hukum Allāh Subhānahu wa Ta’ālā berpihak dengan kepentingan pribadi
–    Bisa jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, atau sebaliknya, bisa jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu.

Baca Juga :  Download Rekaman Audio Tematik

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā telah berfirman,

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“ Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  menutup ayat di atas dengan firman-Nya (yang artinya), “Allah mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui.” Di antara rahasia di balik penyebutan keterangan di atas oleh Allah, setelah menyatakan bahwa hukum-Nya terkadang tidak sesuai dengan selera manusia, adalah untuk menunjukkan bahwa sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  lebih mengetahui hal yang terbaik untuk kita daripada diri kita sendiri.

–    Allāh Subhānahu wa Ta’ālā lebih mengetahui tentang kebutuhan hidup kita daripada kita sendiri. Karena itu, yang dijadikan tolak ukur baik dan buruk dalam kehidupan manusia bukanlah kecenderungan dan selera hati manusia. Namun, yang menjadi tolak ukur adalah pilihan Allah Ta’ala*. Demikian keterangan dari Ibnul Qayyim, sebagaimana termuat dalam al-Fawaid, hlm. 91.

–    Yahudi dan Nasrani mengubah ajaran nabinya dengan konsensus pemuka agamanya. Aturan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā murni untuk kepentingan hambaNya serta demi kemaslahatan hamba Nya. Allāh Subhānahu wa Ta’ālā sama sekali tidak memilliki kepentingan terhadap hukum yang Allāh Subhānahu wa Ta’ālā tetapkan.

–    Allāh Subhānahu wa Ta’ālā Maha Kaya tidak tergantung hamba Nya, tidak dirugikan dengan perbuatan Hamba Nya namun justru sebaliknya yang paling membutuhkan adalah hamba. Apabila Manusia tidak mau mengikuti aturan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā maka Allāh Subhānahu wa Ta’ālā membuat orang tersebut tidak tahu apa yang paling dibutuhkannya, namun jika seseorang taat maka akan diberikan petunjuk oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Salah satu tanda seseorang jauh dari petunjuk oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā adalah disibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat (rugi).

6.    Syariat tidak merepotkan makhluknya.

Allāh Subhānahu wa Ta’ālā tegaskan melalui firman-Nya,

طه . مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى. إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى . تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَى

Thaahaa.  Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah . Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yang  diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (QS. Thaha: 1 – 4)

–    Orang munafik menyangka aturan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā merepotkan hamba-Nya. Padahal Allāh Subhānahu wa Ta’ālā janjikan kemudahan bukan kesulitan.
–    Mukmin sejati menerima ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’ālā sepenuh hati.

7.    Konsekuensi beriman kepada Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah menjadikan Beliau sebagai penentu keputusan dan pasrah.

Al Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa manusia dianggap beriman apabila terpenuhi 3 hal ;
a.    Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  dan Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai hakim ketika terjadi sengketa antar manusia dalam masalah agama.
b.    Tidak ada perasaan berat menerima aturan/keputusan dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  dan Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
c.    Pasrah terhadap keputusan yg diberikan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  dan Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam..

8.    Contoh ketaatan para Sahabat, ialah ketika mentaatti dalam pelarangan Khamr. Fase pelarangan masalah khamr adalah sebagai berikut ;
a. Khamr sebagai bagian dari nikmat (QS. an-Nahl: 67)
b. Pertimbangan manfaat dan mudharat (QS. al-Baqarah: 219)
c. Melarang minum khamr ketika mendekati sholat (QS. an-Nisa: 43)
d. Dilarang secara mutlak (QS. al-Maidah: 90)

9.    Beberapa kisah ketaatan para salafush sholih
–    Kisah Abu Thalhah
Beliau suka mengasuh anak yatim dan sering dititipi harta warisan milik anak yatim, kemudian harta tersebut digunakan untuk berniaga khamr. Ketika Khamr tersebut akan dijual ke Syam, kemudian turun larangan khamr dari Allāh Subhānahu wa Ta’ālā. Beban berat diemban oleh Abu Thalhah karena harta titipan milik anak yatim tersebut telah dibelikan khamr untuk dijual kembali, lalu beliau bertanya kepada Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan diperintahkan kepada Abu Thalhah untuk membuang khamr tersebut. Dan beliau pun membuangnya, sebagai wujud ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālā  dan Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
–    Kisah pernikahan Zaenab.
Zaenab didatangi oleh Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maksud kedatangan beliau adalah ingin melamarkan. Ketika itu Zaenab mengira akan dinikahi Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam tapi ternyata akan dinikahkan dengan Zaid, seorang bekas budak. Zaenab menolak karena berbeda nasab namun turun perintah Allāh Subhānahu wa Ta’ālā untuk menaati Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam sehingga Zaenab taat kepada Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk menikah dengan Zaid.
–    Kisah Bariroh dengan Mughits Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yang bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah ke mana ia pergi sambil menangis (karena mengharapkan cinta Barirah, -pent). Air matanya mengalir membasahi jenggotnya.

Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada pamannya, Abbas, “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kepada Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kepada Mughits.”

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada Barirah, “Andai engkau mau kembali kepada Mughits?!”
Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara (syafi’).” Barirah mengatakan, “Aku sudah tidak lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283).

Keduanya adalah budak yang menikah, namun keduanya harus berpisah karena Barirah telah merdeka sedangkan Mughits masih berstatus sebagai budak. Rasulullah kemudian menanyakan kepada Barirah kenapa tidak rujuk. Kemudian Bariroh bertanya jika itu adalah perintah maka Bariroh akan taat, namun karena pilihan maka Bariroh tidak bersedia rujuk.
Barirah bersedia rujuk jika memang itu perintah Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Perkataan beliau inilah yang mencerminkan ketaatan beliau kepada Rasūlullāh Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Allohu A’lam

Semoga bermanfaat.

“Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala sebagaimana orang yang melakukan. [HR. Muslim, 3509]

Jazakumullohu Khoiron wa Barokallohu Fiikum

——————————

Dukung terus dakwah sunah Bimbingan Islam!!!

Salurkan donasi terbaik Anda di :

| Bank Mandiri Syariah | Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ;  0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)
——————————
Dukung terus dakwah sunah Bimbingan Islam!!!
Salurkan donasi terbaik Anda di :
| Bank Mandiri Syariah | Kode Bank : 451
| No. Rek : 710-3000-507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
Konfirmasi Transfer Via WA/SMS & Informasi ; 0811-280-0606 (BIAS CENTER 06)

AKUN SOSIAL MEDIA BIMBINGAN ISLAM (BiAS)
Klik di bawah ini untuk mengikuti akun Sosial Madia BiAS

Youtube
Facebook
Twitter
Instagram

 

 

Baca Juga :  Download Rekaman Audio Kajian Sirah Nabawiyah

Related Articles

Back to top button