Tiga Kiat Istiqamah

Tiga Kiat Istiqamah

Tiga Kiat Istiqamah

Umat Islam saat ini hidup dalam banyak ujian, baik ujian syahwat maupun syubhat. Degradasi moral, rusaknya pergaulan, dan lemahnya kontrol sosial menjadi tantangan berat bagi tiap individu umat Islam. Kasus murtad bukan lagi menjadi berita aneh, tindakan amoral menjadi tontonan tiap hari. Bahkan umat Islam sendiri serasa hidup dalam keterasingan. Orang yang memiliki komitmen yang kuat dalam berislam justru dipandang sebagai orang yang aneh mendapatkan tindakan yang represif. Dalam sebuah hadits disebutkan,

الْمُتَمَسِّكُ يَوْمَئِذٍ بِدِينِهِ، كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

“Orang yang berpegang teguh terhadap agamanya seperti orang yang memegang bara api.” (HR. Ahmad no. 9073)

Kaum muslimin saat ini sangat membutuhkan perkara-perkara yang bisa menjadikan mereka tetap tegar dan istiqamah. Di antara bentuk kasih sayang Allah kepada kita adalah Allah menjelaskan di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Nabi-Nya banyak cara agar bisa tetap istiqamah di atas jalan-Nya. Di antara perkara-perkara yang membantu seseorang untuk istiqamah adalah sebagai berikut:

[1] Banyak berinteraksi dengan Al Quran

Berinteraksi dengan Al Quran adalah dengan membaca, menghapal, memahami dan merenungkan maknanya. Al Quran adalah pintu pertama untuk istiqamah. Al Quran adalah tali Allah yang kokoh. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan nya maka akan dijaga Allah. Siapapun yang mengikutinya, akan diselamatkan-Nya. Bahkan Allah menegaskan bahwa di antara tujuan Al Quran diturunkan adalah agar umat Islam hatinya kuat dan tegar. Ketika membantah syubhat orang kafir, Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا ۝ وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا ۝

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan : 32-33)

Berinteraksi dengan Al Quran akan menumbuhkan keimanan dan membersihkan hati karena senantiasa berinteraksi dengan kalam Allah. Al Quran turun sebagai penyejuk dan keselamatan. Hembusan fitnah tidak akan menggoyahkannya. Hati pun menjadi tenang dengan senantiasa mengingat Allah.

[2] Senantiasa beramal saleh

Allah Taala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)

Terkait ayat di atas, Qatadah menjelaskan bahwa di dunia, Allah akan meneguhkan orang-orang beriman dengan kebaikan dan amal saleh. Bagaimana mungkin orang yang malas untuk beramal saleh bisa teguh keimanannya manakala datang fitnah? Hanyalah orang-orang beriman yang akan diberi petunjuk dengan jalan yang lurus.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beramal saleh bahkan amal yang lebih beliau sukai adalah amal yang kontinyu akan meskipun hanya sedikit saja. Begitu pula para sahabat, mereka ketika beramal maka melakukannya dengan kontinyu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى فِي يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ 

“Barangsiapa membiasakan diri dengan salat rawatib dua belas rekaat dalam sehari semalam, maka Allah bangunkan rumah baginya di surga.” (HR. Muslim no. 728, At-Tirmidzi no. 415, dan lainnya)

Bahkan dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan amalan sunah, sehingga aku pun mencintainya.” (HR. Al-Bukhari no. 6502)

[3] Mempelajari kisah para nabi dan meneladani kehidupan mereka

Allah Taala berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud : 120)

Ayat di atas turun pada jaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan tanpa alasan akan tetapi untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin yang bersama beliau. Berkenaan dengan kisah nabi Ibrahim, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa perkataan Ibrahim yang terakhir ketika dilempar ke dalam api adalah, “Cukuplah bagiku Allah. Dia adalah sebaik-baik Penolong.” Tatkala membaca kisah Ibrahim, maka rasakanlah bagaimana teguhnya keimanan beliau dalam menghadapi kezaliman penguasa dengan siksaannya.

Ketika merenungkan firman Allah Ta’ala tatkala menceritakan kisah Musa,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ ۝ قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ ۝

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab, “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy Syuara : 61-62)

Rasakanlah bagaimana teguhnya hati Musa ketika hampir terkejar oleh Firaun dan pasukannya sementara dia berada di tengah-tengah orang-orang yang berteriak putus asa. Camkanlah bagaimana pula dengan keteguhan hati para tukang sihir Firaun yang telah beriman kepada Musa di bawah ancaman keras Firaun di kala itu.

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى

Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” (Thaha: 71)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Dan semoga Allah masukkan kita ke dalam hamba-hambaNya yang istiqomah.

Referensi: Wasailul Tsabat karya Syaikh Shalih Al Munajjid

Ditulis Oleh:
Ustadz Eko Haryono, ST., M.Eng. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Beliau adalah Pembina Yayasan Ibnu Umar Boyolali

CATEGORIES
Share This

COMMENTS