Adab & AkhlakKonsultasi

Tanda Kebaikan: Mengingat Dosa-Dosa

Tanda Kebaikan: Mengingat Dosa-Dosa

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Tanda Kebaikan: Mengingat Dosa-Dosa. Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ustadz izin bertanya, jika seseorang sering mengingat dosa-dosanya lalu dia bertaubat. Dan sebagian dosanya sudah tidak dia ingat lagi dan masih ada sebagian dosa yang masih dia ingat-ingat.

Apakah sisa dosa yang dia ingat tersebut termasuk tanda-tanda dari Allah untuk bertaubat dan membersihkan dosa-dosanya yang masih dia ingat, jazakallah khairan katsiran.

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullah wabarokatuh

Dengan sikap sering mengingat dosa, tidak mudah melupakannya dan sering menganggap bahwa dosa tidak diampuni bila tidak terus memperbaiki diri, bukan untuk menjadikan asa sirna, namun akan memunculkan motivasi diri untuk terus memperbaiki diri dan tidak mudah membanggakan diri dengan sedikit kebaikan yang telah dilakukan, berharap itu sebagai tanda kebaikan yang Allah berikan kepada dirinya.

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99).

Al Hasan Al Bashri mengatakan,

المؤمن يعمل بالطاعات وهو مُشْفِق وَجِل خائف، والفاجر يعمل بالمعاصي وهو آمن

Seorang mukmin beramal taat dan ia dalam keadaan takut (akan siksa Allah). Sedangkan ahli maksiat melakukan maksiat dan selalu merasa aman (dari murka Allah).” (Ibnu Katsir pada tafsir surat Al A’raf ayat 99.)

Seorang ‘ibadurrahman (hamba Allah yang sejati) harus memiliki rasa takut dan khawatir dengan siksa neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan: 65-66)

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”(QS. Al-Mukminuun: 60

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ‘Aisyah mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna ayat,

وَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ

Aku mengira bahwasannya mereka adalah orang-orang yang meminum khamr dan mencuri.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

لا يا بنت الصديق، و لكنّهم الذين يـصومون ويصلّون ويتصدّقون، وهُم يخافون أن لا تُقبَلَ منهم

Bukan itu, wahai bintu Shiddiq. Namun mereka adalah orang-orang yang (rajin) berpuasa, (rajin) shalat, dan (rajin) sedekah, namun mereka khawatir amal mereka tidak diterima.” (HR. Tirmidzi no. 3175, dinilai shahih oleh Al-Albani dalam As-Silsilatu Ash-Shahihahno. 162)

Sebagaimana perkataan Hasan Al-Bashri rahimahullah,

المؤمنُ جَمَعَ إِحسانًا وشَفَقَـةً، والمنافقُ جَمَعَ إساءةً وأمنًا، ثم تلا الحسن: إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ

“Seorang mukmin (adalah orang) yang mengumpulkan (dua hal dalam dirinya, yaitu): beramal yang berkualitas, dan (di sisi lain) khawatir (amalnya tidak diterima). (Sedangkan) orang munafik menggabungkan (dua hal pada dirinya, yaitu): buruk (amalannya) dan merasa aman (dari siksa Allah). Kemudian Hasan Al-Bashri membacakan (ayat), “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (Tafsir Ath-Athabari, 68: 17)

Dengan pertanyaan serupa, syekh Bin Baz rahimahullah ta`ala di dalam fatwanya memberikan nasihat,” ini menunjukkan dengan besarnya ketakutan anda kepada Allah dan rasa pengagungan terhadap kemulianNya. Anda di atas kebaikan insyaallah. ….Dan anda dengan mengingat dosa yang anda sebutkan, dengan taubat dan berusaha menjalankan amal shalih dan iman dengan penuh kejujuran, serta berharap dengan apa yang ada dari sisi Allah ( dari ampunan dan pahalaNy) maka Allah akan menggantikan keburukan yang pernah dilakukan berupa kebaikan ( dengan taubat dan amal shalih). Begitupula dengan segala kejelakan yang seorang hamba telah bertaubat darinya, yang ia ikuti dengan iman dan amal shalih, Allah akan menggantikannya dengan kebaikan, anugran dan kebaikan dari Allah. (Fatawa Binbaz no 7490)

Karenanya, jaga perasaan itu, hanya saja jangan sampai menjadikan perasaan itu sebagai sumber keputusasaan, hendaknya bisa dijadikan sebagai cambuk pelecut untuk terus bergerak, tidak terlena dan puas dengan sedikit kebaikan yang pernah dilakukan, yang belum tentu kebaikan itu di terima oleh Allah, terlebih masih banyak dosa dosa yang pernah kita lakukan.

Sambil berusaha, maka perbanyak berdoa supaya Allah menetapkan hati kita semua,” sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengajarkankannya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan doa,

اللّهمّ إٍني أَسْأَلُكَ الْجَنَّـةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِن قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ النَّارِ، وَمَا قَـرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قولٍ أَوْ عَمَلٍ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga, dan apa-apa yang mendekatkan aku kepadanya (surga) baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya (neraka), baik berupa perkataan maupun perbuatan.” (HR. Ibnu Majah no. 3846, dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilatu Ash-Shahiihahno. 1542)

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 13 Shafar 1443 H/ 21 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Nasehat Untukmu yang Takut Dengan Kematian

USTADZ MU’TASIM, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button