Manhaj

Apa Perbedaan Sunni dan Salafy?

Apa Perbedaaan Sunni dan Salafy?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan Apa Perbedaan Sunni dan Salafy? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Bismillāh. Assalāmu’alaikum ustadz. Semoga Allāh selalu merahmati ustadz dan seluruh umat muslim. Ustadz apa perbedaan Sunni dan Salafy? Jazākallāhu khairan

(Ditanyakan oleh Santri Mahad BIAS)


Jawaban:

Perbedaan antara Sunni dan Salafy

Waalaikum salam warahmatullah wabarokatuh

Aamiin, terimakasih atas doanya dan semoga juga Allah senantiasa memberikan kebahagian kepada kita semua.

Tidak ada perbedaan antara sunni dengan salafy bila dilihat dari asal kata dua kalimat tersebut dan dari prinsip dasar beragama dari apa yang diajarkan oleh masing-masing.

Perhatikanlah beberapa hadits berikut yang menyebutkan tentang golongan yang selamat, ahlussunnah wal jamaah dan penafsiran makna yang telah dijelaskan di dalamnya. Semua menunjukkan, bahwa kata sunni (ahlussunnah wal jamaah) menunjukkan kepada kuatnya berpegang teguhnya mereka terhadap ajaran Rasulullah (), tanpa harus melenceng dari apa yang telah diajarkan, sehingga mereka disebut dan diberikan label ahlun (pengikut atau pemilik). Karenanya Rasulullah () menafsirkan golongan yang selamat dengan penafsiran ,”

كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.”

Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.”Perbedaan antara Sunni dan Salafy

Jelas pemahaman dari kalimat ahlussunnah adalah para pengikut sunnah Rasulullah maksudnya adalah golongan yang berjalan di atas petunjuk Rasulullah () dan para sahabatnya.

Dan bila melihat dari kata salaf yang artinya terdahulu, adalah jalan yang mencoba mengikuti apa yang telah dijalankan dan diajarkan oleh orang terdahulu yang jauh lebih paham, lebih selamat yaitu jalannya ahlussunnah (Rasulullah, para sahabat dan orang orang yang mengikutinya).

Kalau kita memperhatikan dalil-dalil syar’i, istilah “al-jama’ah” itu kembali kepada dua makna:

Al-jama’ah dalam makna “bersatu karena berpegang teguh dengan kebenaran”. Inilah makna al-jama’ah dalam istilah “ahlus sunnah wal jama’ah”. Yang dimaksud dengan “kebenaran” itu adalah mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga mengikuti kesepakatan (ijma’) para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Inilah makna al-jama’ah yang diisyaratkan dalam hadits di atas, yaitu bersatu dalam kebenaran.

Artinya, al-jama’ah adalah sifat orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, yaitu ijma’ salaf. Dengan kata lain, al-jama’ah itu tidak identik dengan kelompok, organisasi, yayasan, atau partai tertentu. Karena al-jama’ah itu adalah sifat, siapa saja yang bersifat dengan al-jama’ah, maka dia adalah al-jama’ah.

Dari situ, maka kita mengatakan tidak ada perbedaan antara salaf, ahlussunnah atau bahkan islam itu sendiri…bila kebenaran islam dicoba untuk dicari bukan ego untuk mengedepankan tradisi yang tidak pernah diajarkan oleh agama ini.

Hanya saja kemudian telah dibelokkan kepada sifat dan pemahaman tertentu yang tidak menentu sesuai dengan kemauan dan kebiasaannya masing masing yang ketika dikaitkan dengan kelompok dan individu tertentu. Karenanya, siapa yang benar dalam pengakuannya mengikuti ushul/prinsip pokok dari apa yang diajarkan maka tidak ada perbedaan dengan itu semua.

Maka tinggal bukti yang menyatakan, siapakah mereka yang mengaku sebenar-benarnya sunni atau ahlussunnah wal jamaah? Apakah mereka yang banyak melenceng dari apa yang telah diajarkan oleh Nabi dan sahabatnya apakah yang benar benar mencoba ingin mennegakkan ajaran yang sesuai dengan risalah nabinya?

Semua butuh bukti dengan apa yang dilakukan bukan dengan apa yang disuarakan hanya dengan lisan. Hendaknya masing masing mencoba mengaca untuk terus mewujudkan apa yang telah di wasiatkan oleh nabi kita yang sama, nabi Muhammad sallahu alaihi wasallam.

Berikut beberapa dasar yang perlu diperhatikan untuk mencoba menyadarkan dan menyatukan apa yang masing masing diprasangkakan dan diaku-akukan. Semoga Allah berikan hidayah kepada kita semua untuk selalu bersatu dalam kebenaran mengikuti jalan yang benar, jalan yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah sallahu alaihi wasallam yaitu jalan salaf, jalan ahlussunnah wal jamaah.

Dalam riwayat At-Tirmidzi, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Pasti akan datang kepada umatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal. Sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan, maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. Sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka. kecuali satu golongan.”

Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku.” (HR. Tirmidzi no. 2641, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Hal ini sebagaimana kata sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

إنما الجماعة ما وافق الحق وإن كنت وحدك

Al-jama’ah itu hanyalah yang mencocoki kebenaran, meskipun Engkau seorang diri.” (Al-hawaadits wal bida’, karya Abu Syaamah, hal. 22)

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Wallahu a`lam .

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Mu’tashim, Lc. MA. حفظه الله
Selasa, 13 Shafar 1443 H/ 21 September 2021 M


Ustadz Mu’tashim Lc., M.A.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumus Universitas Islam Madinah kuliah Syariah dan MEDIU
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Mu’tashim Lc., M.A. حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Apakah Boleh Wanita Menjadi Pemimpin?

Ustadz Mu’tasim, Lc. MA.

Beliau adalah Alumni S1 Universitas Islam Madinah Syariah 2000 – 2005, S2 MEDIU Syariah 2010 – 2012 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Syu’bah Takmili (LIPIA), Syu’bah Lughoh (Universitas Islam Madinah) | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Taklim di beberapa Lembaga dan Masjid

Related Articles

Back to top button