Sikap Yang Seharusnya Dilakukan Ketika Berbeda Prinsip Beragama

Sikap Yang Seharusnya Dilakukan Ketika Berbeda Prinsip Beragama

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan ustadz, selama ini ana ikut liqo pada halaqah sebuah partai islam. Sejak kejadian di ibukota pada bulan Nopember dan Desember 2016 kemarin, makin kelihatan perbedaannya dengan salafiyyun. Ana jadi sering berbeda pendapat dengan teman-teman liqo.

1. Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini ustadz?
2. Apakah tepat bila ana meninggalkan liqo tersebut?
3. Bagaimana memberikan pengertian kepada teman-teman liqo yang berbalik sikap memutuskan silaturrahmi terhadap ana ?

Mohon nasehat antum.
Jazaakallaahu khoiron.

(Sahabat BiAS T06 )

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Balaslah sikap mereka dengan sikap bijaksana, santun, beretika, murah senyum, selalu mendahului menyapa, menanyakan kabar, menanyakan anak dan lain-lain

Meski disikapi dengan muka masam, bersabarlah karena akhlak baik yang kita lakukan bukan karena mengharap tanggapan baik dari manusia, tapi karena Allah ta’ala.

Perilaku yang baik serta akhlak mulia itu jauh lebih mengena daripada sekian banyak ceramah yang disampaikan dalam keadaan hati mereka tidak suka kepada kita.

Doakan tambahan hidayah bagi diri sendiri dan juga bagi mereka dalam kesendirian kita. Kita menginginkan kebaikan untuk mereka, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata, “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.

(HR Bukhari : 13, Muslim : 45).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ.

‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang dido’akannya, adalah do’a yang akan dikabulkan.

Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdo’a untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata: ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”

(HR Muslim : 2733).

Tunjukkan pada manusia bahwa para pengikut sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang memiliki akhlak mulia, semakin mengenal sunnah semakin baik akhlaknya. Ini dilakukan dengan tetap menjaga prinsip, dengan tetap tidak bertoleransi atau bermudah-mudah dalam hal-hal yang menjadi prinsip sunnah.

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh :

 Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

 Rabu, 06 Rabi’ul Akhir 1438 H / 04 Januari 2017 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS