Sikap Istri Dalam Menghadapi Suami

Sikap Istri Dalam Menghadapi Suami

Sikap Istri Dalam Menghadapi Suami

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Fulanah 25 tahun berumah tangga, 10 tahun kedua ia yang menanggung biaya rumah tangganya, dengan dua orang anak, Perempuan (sudah menikah) dan laki-laki kelas 6 SD.

Suaminya sudah tidak perduli urusan di rumah. Kami sudah mencoba mendatangkan keluarga/sesepuh dua belah pihak, namun selalu menghindar. Hingga Fulanah pun telah diusirnya, berulang-ulang dipersilahkan pergi. Selain karena suami pun sudah selingkuh dengan wanita lain. Katanya akan diuruskan cerai, tetapi hingga sekarang belum, digantung tanpa kejelasan, tanpa nafkah lahir bathin.

Fulanah berniat akan mengajukan khulu’ dan segera pulang ke orangtuanya, dengan meninggalkan Putranya, karena belum siap untuk membiayai. Mohon nasehat atas keputusan akhir fulanah ini, Ustadz?

جَزَاك الله خَيْرًا

(Disampaikan: Ummi Attin, admin BiAS T08)


Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين

Semoga Alloh memberi kesabaran, ketabahan, keteguhan, serta menganugerahkan ganjaran pahala yang besar atas ujian yang dialami.

Benarkah sikap fulanah?
Jika yang dimaksud sikap ini adalah Khulu’, maka ini ranah pribadi yang bisa diistikhirohkan dan ditimbang antara mashlahat serta batasan diri.
Kalau yang bersangkutan merasa berat menjalani, tidak bisa menasehati, bahkan sudah dimudahkan oleh Alloh untuk khulu’ setelah istikhoroh, maka itulah yang terbaik, InsyaAlloh.

Hal yang bisa jadi catatan selain menguatkan taqwa & tawakkal pada Alloh adalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar pada suami, sampaikan bahwa ia tetap akan dibebani tanggung jawab atas nafkah anak dan akan dihisab Alloh tentang hal itu. Sebab sudah menjadi kewajiban seorang Ayah untuk membiayai dan memenuhi kebutuhan pokok anak.

Jangan lupa pula untuk senantiasa berdoa meminta ganjaran dan ganti yang lebih baik lagi, perbanyak mengucapkan kalimat Istirja’, sebagaimana disebutkan dalam Hadits Ummu Salamah rodhiallohu ‘anha :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ: *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ، اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا*، إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Apabila ada seorang muslim yang mengalami musibah, lalu dia mengucapkan kalimat seperti yang Alloh perintahkan, ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’, ya Allah berikanlah pahala untuk musibahku dan gantikan untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Maka Allah akan memberikan ganti untuknya dengan yang lebih baik“.
[HR Muslim 918]

Wallohu a’lam, wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
📆 Senin, 06 Jumādā Ats-Tsānī 1440 H / 11 Februari 2019 M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS