KonsultasiNikah

Bolehkah Memberi Nafkah Kepada Calon Istri?

Bolehkah Memberi Nafkah Kepada Calon Istri?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang bolehkah memberi nafkah kepada calon istri?
selamat membaca.


Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu menjaga ustadz dan keluarga. Saya mau bertanya ustadz.

Ustadz saya mau nanya, apakah menafkahi ‘yang belum sah’ (jadi suami/istri) itu boleh atau tidak?
Saya suka dengan perempuan dia tidak mau pacaran dan belum siap nikah, dia anak yatim yang ditinggal ayahnya, nah di situ saya berniat menafkahi tapi ‘yang belum sah’ (belum jadi suami istri).

(Disampaikan oleh Fulan, sahabat belajar grup WA Bimbingan Islam – BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Pertama, perlu diluruskan mengenai definisi yatim menurut pandangan anda, anak yatim itu adalah seorang anak yang ditinggal wafat ayahnya dikala kecil dan belum baligh, jika anak tersebut sudah baligh, perempuan dengan berhaid atau lelaki ketika sudah mimpi basah, sudah hilang darinya status sebagai yatim, karena sudah menjadi seorang yang baligh, tidak dinamakan yatim lagi.

Baca Juga :  Mahram Ibu Tiri

Kedua, makna nafkah adalah:
Sesuatu yang dikeluarkan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau orang lain, baik itu makanan, minuman dan lain-lain.
(Subulus Salâm, 3/414. Kutipan dari al-Mausû’ah al-Fiqhiyyatu al-Muyassarah fii Fiqhil Kitâbi was Sunnatil Muthahharah 5/180).

Dan nafkah wajib atas suami untuk keluarganya berdasarkan beberapa dalil berikut diantaranya:

1. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf”.
[Al-Baqarah/2:233]

2. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ

“Dan hak mereka (istri-istri) atas kalian adalah menafkahi mereka dan menyandangi mereka dengan cara-cara yang baik.”
[HR. Muslim, no.1218]

Kalau kita perhatikan, nafkah tersebut menjadi wajib atas seorang lelaki yaitu ketika dia sudah berhubungan sah sebagai suami atas seorang wanita yang menjadi istrinya. Jadi ketika belum menjadi pasangan yang sah, tidak ada kewajiban atas lelaki memberikan kecukupan atas perempuan lain, dan toh misalnya itu diberikan, penamaannya bukanlah nafkah, namun hanya sedekah biasa sebagai bentuk bantuan donasi kepada pihak yang dibantu.

Ketiga, kami nasehatkan kepada penanya, jika memang ada kecondongan perasaan dengan perempuan tersebut, maka lebih baiknya segera mengutarakan dengan baik kepada keluarga perempuan keinginan untuk meminangnya secara halal, sampaikan dengan baik niat dan tujuan, agar tidak tercebur dalam perbuatan dosa.

Dan jika ternyata pinangan belum diterima, sedangkan anda pribadi memang sudah mendesak untuk menikah, jangan berputus asa, saya sarankan untuk mencari calon pasangan yang baik agama dan akhlaknya, in sya Allah masih ada banyak yang Allah persiapkan untuk anda, semoga Allah memberi kemudahan.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Kamis, 25 Rabiul Akhir 1442 H/ 10 Desember 2020 M



Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله 
klik disini

Baca Juga :  Ketika Anak lebih Bahagia dengan Sang Nenek

Ustadz Setiawan Tugiyono, Lc., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button