Penjelasan Mengenai Hajr

Penjelasan Mengenai Hajr

Penjelasan Mengenai Hajr

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan Ustadz, izin bertanya. Ada saudara kandung saya melakukan kesalahan (menjadi seorang Pelakor). Sudah dinasehatin, beliau menyatakan sudah bertaubat, tapi malah melangsungkan pernikahan dengan laki-laki tersebut.

Bagaimana seharusnya sikap saya?

Apakah diperbolehkan saya meng’hajrnya dengan tidak berkomunikasi sementara waktu, untuk bersikap dan ingkar mungkar?

Atau bagaimana ahsan nya (baiknya)?

(Disampaikan oleh Fulanah BiAS  T05 G-03)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Pelaksanaan Hajr atau ingkarul munkar harus menimbang maslahat dan madharat. Dan harus menimbang posisi kita terhadap obyek yang akan kita Hajr.

Jika kerusakan yang timbul justru lebih besar dari manfaatnya maka  saat itu ditunda aksi inkarul munkar demi mencegah timbulnya kerusakan yang lebih besar. Demikian pula saat posisi kita berada di bawah obyek yang akan kita hajr maka tidak boleh proses Hajr dilakukan. Seperti seorang anak meng-Hajr ayahnya/ ibunya dan seterusnya.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyatakan :

وَسَمِعْت شَيْخَ الْإِسْلَامِ بن تَيْمِيَّةَ قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ وَنَوَّرَ ضَرِيحَهُ يقول مَرَرْت أنا وَبَعْضُ أَصْحَابِي في زَمَنِ التَّتَارِ بِقَوْمٍ منهم يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ فَأَنْكَرَ عليهم من كان مَعِي فَأَنْكَرْت عليه وَقُلْت له إنَّمَا حَرَّمَ اللَّهُ الْخَمْرَ لِأَنَّهَا تَصُدُّ عن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنْ الصَّلَاةِ وَهَؤُلَاءِ يَصُدُّهُمْ الْخَمْرُ عن قَتْلِ النُّفُوسِ وَسَبْيِ الذُّرِّيَّةِ وَأَخْذِ الْأَمْوَالِ فَدَعْهُمْ)[59] وهذا من عظيم فقهه، فقد نظر فوجد أن المصلحة المجتباة من منعهم تتعارض بمفسدة قتل المسلمين وسلبهم، فقدم درء المفسدة على جلب المصلحة

”Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah mensucikan ruh beliau dan menerangi kuburnya- , beliau berkata : Aku dan sebagian sahabatku di zaman Tar Tar melewati sebagian tentara Tar Tar sedang minum Khomr.

Orang yang bersama aku mengingkari mereka, maka akupun mengingkari perbuatan sahabatku ini, aku katakan kepada mereka : Bahwa Allah mengharamkan Khomr karena ia menghalangi manusia dari dzikir dan shalat. Sedangkan para tentara Tar Tar ini, mereka dihalangi oleh Khomr dari membunuh manusia dan memperbudak wanita serta merampas harta, jadi biarkan saja mereka.

Ini menunjukkan betapa besarnya pemahaman beliau (Syaikhul Islam), beliau melihat dan mendapatkan bahwa manfaat terbesar yang didapatkan dengan cara menghalangi tentara Tar Tar minum Khamr, berbenturan dengan musibah akan terbunuhnya kaum muslimin. Sehingga beliau mendahulukan untuk menolak kerusakan dari pada mengambil manfaat.”
(I’maul Muwaqi’in : 3/12-13).

Sekiranya posisi penanya lebih tinggi dari kerabatnya tersebut, dan diperkirakan kuat dengan di-Hajr ia akan rujuk dari kesalahannya, bertaubat serta menyesali perbuatannya maka tidak mengapa meng-Hajr nya sebagaimana hal ini juga pernah dilakukan oleh salah seorang salaf dalam riwayat sebagai berikut :

أَنَّ قَريباً لابْنِ مُغَفَّلٍ خَذَفَ، فَنَهَاهُ وَقالَ: إِنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم نَهَى عَن الخَذْفِ وقَالَ: “إِنَّهَا لاَ تَصِيدُ صَيْداً”ثُمَّ عادَ فقالَ: أُحَدِّثُكَ أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم، نَهَى عَنْهُ، ثُمَّ عُدْتَ تَخْذِفُ،؟ لا أُكَلِّمُكَ أَبداً.

“Bahwa salah satu kerabat Ibnu Mughaffal bermain ketapel, beliau lantas melarangnya dan berkata ; Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari ketapel. Beliau berkata lagi ; Ketapel itu tidak bisa membunuh buruan (hanya melukai-pent)
Kerabatnya ini mengulangi lagi bermain ketapel, beliau berkata kepada kerabatnya tadi : Aku sudah menyatakan kepada engkau bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari ketapel kemudian engkau bermain ketapel ? Aku tidak akan mengajak bicara engkau selamanya.”
(HR Bukhari : 122, Muslim : 54).

 

Wallahu a’lam
Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :
Ustadz Abul Aswad Al Bayati, حفظه الله تعالى
Kamis, 1 Dzulqodah 1440 H / 4 Juli 2019 M



Ustadz Abul Aswad Al-Bayati, BA.
Dewan konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), alumni MEDIU, dai asal klaten
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS