Adab Menasehati di Dunia Maya

Adab Menasehati di Dunia Maya

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Afwan, Ustadz izin bertanya.
Bagaimanakah adab menasehati sesama yang sesuai syari’at, apakah boleh dengan sindiran- sindiran yang mungkin akan menambah kerasnya hati atau ungkapan- ungkapan. kepada orang lain yang sejatinya ditujukan kepada seseorang ?

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti memerlukan nasehat atau terkadang memberikan nasehat.

Jadi bagaimana cara yang paling ahsan menasehati seseorang bila di dalam forum sosmed seperti ini karena kita tidak bisa bertemu langsung dengan orang tersebut.
Ditelpon direject dan di pm juga ga dibalas.

Mohon penjelasannya Ustadz, Jazaakallahu khayran.

( Dari Ratna, Admin T05)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajmain.

Pertanyaan yang menarik. Insya Alloh ana jawab dari sisi Naqli dan ‘Aqli, dalil dan juga logika.
Pertama, yang perlu dibedakan adalah sindiran dengan celaan, karena memang keduanya jauh berbeda, dan ana husnudzon antunna pasti sudah tau bahwa yang namanya celaan pasti buruk.
Adapun sindiran, pembeda utamanya adalah niat, kondisi, dan stigma seseorang.

Ada dalil dari hadits yang melarang tentang sindiran,

إنّ في المعاريض لمندوحةً عن الكذب

_”Sesungguhnya dalam ucapan tidak terang-terangan (sindiran) terdapat kedustaan”_ [HR Abu Sa’id bin Al-A’robi dalam Mu’jam I/97 & Bukhori dalam Adabul Mufrod 885]
Namun hadits diatas dhoif, karena dalam sanadnya ada Daud bin Az-Zabarqon yang menurut para ‘ulama hadits adalah pendusta.
Sehingga dari sisi dalil tidak ada nash tegas tentang sindirian, karena sekali lagi, pembeda utamanya niat, kondisi dan stigma seseorang.

Karenanya, sindiran itu tergantung niat kita. Jikalau kita menyindir teman dan orang lain dengan tujuan yang baik yaitu agar merubah sikap dan akhlaknya, atau minimal menyadarkan kesalahannya, sebab seseorang yang tidak mau disalahkan atau tidak pernah menyadari dirinya salah akan susah menerima nasihat, maka hal yang demikian justru dianjurkan oleh agama. Akan tetapi dengan metode yang baik dan tidak menyakitkan hati seseorang.

Pun, kaitannya dengan menyakiti hati seseorang perlu diperjelas lagi, sebab berkaitan hal berikutnya yaitu stigma atau pola pikir seseorang.

Contoh,
jika kita bertemu dengan kawan yang masih membujang sampai saat ini, padahal usianya sudah berumur, lalu saat kita ada di forum diskusi atau kajian yang qoddarulloh di forum tersebut ada kawan kita si bujang tadi, kita sampaikan bahwa orang yang belum nikah-nikah itu biasanya karena lemah syahwat atau ahli maksiat.

Apa yang terjadi? Disini peran stigma berperan.
Jika kawan kita itu justru _ngepul ndase_, panas atau emosi, maka pilihannya 2, pertama ia orang yang mudah suudzon, atau yang kedua ia termasuk diantara yang disampaikan, yakni pihak yang merasa lemah syahwat atau ahli maksiat.

Maka mungkin ia akan marah-marah secara langsung, atau meminta salah satu kawannya untuk pura-pura bertanya dan menasihati agar usah nyindir-nyindir, dll.

Padahal apa?
Padahal kita saat mengatakan demikian itu murni sebagai nasihat yang tulus dari hati, serta tasyji’ untuk segera menikah, tidak menunda-nunda atau memperlama masa bujang.

Padahal kita tatkala menasihati itu berlandaskan sesuatu yang benar, kita hanya mengemas ulang perkataan ulama dengan bahasa percakapan, sebagaimana perkataan masyhur dari ‘Umar ibn Khottob rodhiallohu ‘anhu

ما يمنعك من النكاح إلا عجز أو فجور

_“Tidak ada yang menghalangimu menikah kecuali kelemahan (lemah syahwat) atau kemaksiatan (ahli maksiat)”_

Atau contoh sindiran yang lain,
Dikisahkan ketika Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam berjalan melewati pasar bersama para sahabat yang lain dan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Lantas beliau sholallohu ‘alaihi wasallam menyindir dan memberi petuah/nasihat kepada para sahabat yang dari
tadi terus melihat ke arah bangkai anak kambing tersebut, Beliau bersabda, “Mau kah salah seorang dari kalian membeli bangkai ini seharga satu dirham?” Para sahabat menjawab, “Kami tidak tertarik kepadanya, apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam kembali bertanya, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Namun para sahabat tetap menolak menjawab, Beliau pun akhirnya bersabda:

فوالله للدّنيا أَهْون على الله منْ هذا عليكم

_”Demi Alloh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Alloh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian”_ [HR Muslim 2957]

See? Coba liat, bisa saja Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam langsung memberikan poin penting dari hadits itu bahwa dunia ini lebih hina dari bangkai kambing, tapi tidak beliau lakukan. Para sahabat juga ketika terus melihat ke arah bangkai, lalu ditawarkan oleh Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam untuk membelinya tidak marah, para sahabat tidak mengatakan, engkau menyindir kami Yaa Rosululloh??

Disinilah keterkaitan antara niat dan stigma seseorang itu terkorelasikan, karena kondisi seseorang bergantung pada hati, ilmu dan latar belakangnya. Bisa saja ia mudah tersindir karena sedang labil, sensitif, atau jika perempuan sedang haid, atau dia belum faham tentang hakikat dan perintah husnudzon, atau ia tidak terbiasa dilukai, ia bergaul hanya dengan orang yang terus membenarkannya dan ia pun juga tidak biasa disalahkan.

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri rohimahulloh juga menuturkan, “Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” (Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44)

Sekali lagi, bedakan antara sindiran dengan celaan.
Banyak diantara kita yang tergelincir kedalam suatu keributan karena salah mendefinisikan sutu permasalahan.

Namun juga jangan lupa, bila kita menasihati dengan bahasa tidak terbuka (sindiran) itu dengan tujuan atau maksud yang hina yaitu; agar kekurangannya terbuka, ingin membalas dendam dan kedengkian yang tinggi terhadap orang yang kita sindir, atau dengan menyebut nama seseorang yang kita maksud.
Maka hal yang seperti inilah yang tidak dibolehkan agama. Sebagaimana Firman Allah:
_“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..”_ (QS al-Hujurat 11).

Makanya agar kehidupan kita lebih tenang dan nyaman marilah kita saling menjaga lisan dengan sebaik mungkin, serta saling memahami posisi masing-masing sesama kita.

Wallohu A’lam
Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

Tanya Jawab
Grup Admin Bimbingan Islam
Kamis, 23 Rajab 1438H / 20 April 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS