Zakat

Nishob Zakat Maal Ikut Nishob Emas Atau Perak?

Nishob Zakat Maal Ikut Nishob Emas Atau Perak?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan nishob zakat maal ikut nishob emas atau perak? Selamat membaca.


Pertanyaan:

Assalammualaikum Ustadz, ijin bertanya:

1. Nisab zakat maal ikut nisab EMAS atau Perak?

2. Apakah untuk menghitung nisab zakat maal boleh digabung simpanan emas, perak, tabungan, saham? Ataukah dipisah sesuai jenis dahulu, baru dihitung masing-masing nishabnya, demikian pertanyaan ana, jazakumullahu khairan, barakallahu fiikum.

(Ditanyakan oleh Santri Akademi Shalihah)


Jawaban:

Wa alaikumussalaam warahmatullah.

Terkait nishab zakat maal apakah dikembalikan ke ukuran emas ataukah perak, ulama berbeda pendapat. Karena nilai emas dan perak di era sekarang jauh berbeda ketika di zaman Nabi sallallahu alaihi wa sallam.

20 dinar di zaman Nabi itu hampir sama dengan 200 dirham di kala itu. Sedangkan 20 dinar (85 gram) emas di era sekarang sangat jauh selisihnya dengan 200 dirham (595 gram) perak sekarang.

Pendapat yang kami pilih adalah nishab zakat mal dikembalikan kepada nishab emas, karena dari sisi kestabilan harga lebih stabil nilainya semenjak zaman Nabi sampai sekarang. dan juga bahwa seorang yang memiliki tabungan minimal seukuran 85 gram emas, itu lebih layak dikatakan kaya daripada yang hanya memiliki sekitar 595 gram perak.

Dan zakat maal adalah zakat yang diwajibkan atas orang kaya, sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

“Shadaqah (zakat) itu diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang faqir mereka.” (HR. al-Bukhari no. 1395 dan Muslim no. 19. Redaksi di atas adalah redaksi al-Bukhari)

Adapun jika Anda mau mengeluarkan zakat maal dengan standar perak, boleh-boleh saja, sebagian ulama ada yang berpendapat demikian, seperti dalam pendapat dari lembaga fatwa saudi lajnah al-daimah, yang demikian juga lebih memberikan kegembiraan dan manfaat pada fakir miskin, karena standar nishob perak lebih kecil dari emas.

Baca Juga:  Wudhu Dari Air Dalam Bejana Emas/Perak, Bolehkah?

Namun sekali lagi, untuk hukum zakat maal menjadi wajib dikeluarkan oleh seorang muslim, kami lebih condong pada penggunaan nishab emas.

Adapun terkait perhitungan nishab dari simpanan emas, perak, tabungan, saham, perlu perincian. untuk emas & perak tidak bisa digabung, mereka memiliki nishab sendiri-sendiri, karena dalam hadist Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan.

Untuk saham, tabungan maka bisa digabungkan dengan salah satunya, tergantung anda memilih standar apa dalam nishab, adapun kami sebagaimana di atas kami jelaskan, kami memilih standar emas. Jadi tabungan, saham itu digabungkan dengan nishab emas.

Disebutkan dalam fatwa Islamweb di bawah Kementerian Wakaf Qatar:

[TS_Poll id="2"]

فإن الذهب المذكور تضمه إلى مالك إن كان نقودا, أو عروضا تجارية ثم تزكي الجميع إذا مضت عليه سنة قمرية ابتداء من تملكه.

“Emas yang disebutkan engkau gabungkan dengan hartamu yang berupa uang, atau barang perniagaan, kemudian engkau zakati semuanya jika telah berlalu 1 tahun qamariah dimulai dari awal memilikinya (awal mencapai nishab)”.

Lihat: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/291445/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%B6%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%87%D8

Demikian, wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Jumat, 18 Rabiul Awal 1444 H/ 13 Oktober 2022 M


Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله
Beliau adalah Alumnus S1 Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta dan S2 Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Setiawan Tugiyono, M.H.I حفظه الله klik di sini

Akademi Shalihah Menjadi Sebaik-baik Perhiasan Dunia Ads

Ustadz Setiawan Tugiyono, B.A., M.HI

Beliau adalah Alumni D2 Mahad Aly bin Abi Thalib Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bahasa Arab 2010 - 2012 , S1 LIPIA Jakarta Syariah 2012 - 2017, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2018 - 2020 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah, Dauroh Masyayikh Ummul Quro Mekkah di PP Riyadush-shalihin Banten, Daurah Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, Syaikh Musa Alu Nasr, Syaikh Ziyad, Dauroh-dauroh lain dengan beberapa masyayikh yaman dll | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Belajar bersama dengan kawan-kawan di kampuz jalanan Bantul

Related Articles

Back to top button