Nasehat Untuk Suami Yang Berkonflik Dengan Mertua

Nasehat Untuk Suami Yang Berkonflik Dengan Mertua

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, bagaimana ana harus bersikap terhadap suami dan ibu ana ?

Ibu ana pernah membuat kesalahan,  membuat suami sangat kesal dan sangat sakit hati sehingga suami tidak mau tersenyum, tidak suka dengan ibu ana.

Ana sudah menjelaskan tentang perangai ibu ana tapi suami tetap menginginkan ibu ana harus minta maaf ke suami dan mertua ana.

Mohon pencerahannya ustadz. Jazakallahu khairan

(Fulanah, sahabat BiAS T06 G-12)

Note : Keluarga kami telah mengenal sunnah.

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Washshalātu wassalāmu ‘alā Rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Keliru sikap suami seperti itu, dengan demikian ia telah berbuat durhaka kepada orang tua meskipun sebatas mertua. Terutama untuk orang Indonesia, saya ingin memberikan satu ungkapan tentang bagaimana kita sebagai kaum anak bergaul dengan kaum tua terutama orang tua dan mertua kita.

Secara umum karakter dan sifat orang tua itu adalah sangat sensitif perasaannya, ingin menang meskipun salah. Ini karakter rata-rata orang yang sudah tua. Dan kita sebagai orang Islam dituntut untuk bersabar ketika berinteraksi dengan mereka, kita buat mereka ridha dengan mengalah dalam hal teknis, menuruti apa kemauan mereka selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Simak ayat berikut ini, singkirkan sejenak ego kita :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Isra’ : 23-24)

Maafkan semua kesalahan mereka karena kemurkaan Allah akan menimpa kita manakala kita membuat mereka murka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua. Dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua.”

(HR Bukhari dalam Adabul Mufrad : 2 dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad : 2).

Jika orang tua kita salah, itu urusan mereka dengan Allah, kita doakan agar Allah mengampuni mereka. Namun kita tidak boleh membuat mereka murka karena itu berarti kita berhadapan dengan kemurkaan Allah ta’ala. Dan ingatlah bahwa syurga itu tidak mudah, diantara jalan tercepat menuju syurga adalah dengan berbakti kepada orang tua. Jika kita sabar menghadapi mereka dan mereka wafat dalam keadaan mereka ridha kepada kita, insyaAllah itu merupakan bentuk bakti kita yang akan kita nikmati hasilnya kelak di dunia dan akhirat.

Di dunia kita akan diberikan oleh Allah anak-anak yang juga akan berbakti kepada kita, sabar terhadap sifat kekanak-kanakan kita nanti ketika kita tua. Dan kelak kita dimasukkan ke dalam syurga Allah.

Apa untungnya kita bermuka masam dan membenci orang tua kita, bukankah hal tersebut akan mempersempit hati kita ? Bukankah membuat hidup kita tidak tenang ? Bukankah silaturrahim kita terputus yang otomatis doa-doa kita tidak akan diijabah oleh Allah ?

Bukankah kelak ketika kita tua kita juga akan didiamkan oleh anak-anak kita ? Didurhakai anak-anak kita ?

Siapkah kita menanggung akibat buruk ini di dunia ? Siapkah kita menanggung akibat maha dahsyat berupa siksa neraka kelak ?

Dekati orang tua kita, buanglah egoisme syaithan dalam hati, ucapkan permintaan maaf pada orang tua sembari mempersembahkan hadiah kepada beliau. Benar beliau yang salah kita yang benar, tapi tunjukkan bahwa kita anak yang berbakti yang siap menyongsong syurga ! Yakinlah setelah itu hati kita akan bahagia, lega, nyaman dengan amal shalih kita meski terasa berat di awal.

Kesabaran itu pahit di awal, manis di akhir, sedangkan kemurkaan itu manis di awal, namun pahit di akhir. Jangan mencari benar salah ketika berhadapan dengan orang tua. Kita hanya bisa sabar, sabar, sabar dan mengalah serta memberikan masukan dengan santun tanpa ada kesan menggurui, demikianlah Islam mengajarkan kita seni bergaul dengan orang tua. Karena kita pun kelak akan menjadi orang tua.

Wallahu a’lam.

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Bimbingan Islam T06
Kamis, 09 Rajab 1438H / 06 April 2017M

CATEGORIES
Share This

COMMENTS