Musibah yang Datang, Karena Dosa atau Karena Allah Ingin Mengangkat Derajat bimbingan islam
Musibah yang Datang, Karena Dosa atau Karena Allah Ingin Mengangkat Derajat bimbingan islam

Musibah yang Datang, Karena Dosa atau Karena Allah Ingin Mengangkat Derajat?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang musibah yang datang, karena dosa atau karena Allah ingin mengangkat derajat?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga Allah selalu menjaga Ustadz dan keluarga. Izin bertanya ustadz.
Apakah musibah/cobaan itu karena dosa-dosa yang kita lakukan atau karena Allah ingin mengangkat derajat kita?

jazakumullahu khairan ustadz dan tim bimbingan islam semuanya.

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh
Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du
Ayyuhal ikhwan Baarakallah fiikum

Musibah itu turun dan cobaan yang menimpa seseorang adalah sebab dosa yang pernah ia perbuat.
Allah Ta’ala berfirman :

 وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy Syura: 30).

Dan ketika seseorang tertimpa musibah, kemudian dia bersabar, ridha akan ketetapan Allah Ta’ala, atas dirinya, dan juga semakin memperbanyak permohonan ampun dari Allah Ta’ala yang maha pengampun  serta bertaubat kepadaNya.
Maka hal ini dapat menghapus kesalahan dan dosa dan boleh jadi, jika amalan shaleh ini dilakukan terus-menerus maka boleh jadi menjadi sebab terangkat derajatnya di sisi Allah Ta’ala, jikalau dosanya telah terampuni karena banyaknya istighfar dan taubat Nasuhah.

Dari sahabat Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma, mereka mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni”
(HR. Muslim, no. 2573).

Dan jika karena sebab musibah dan ujian ini, orang ini semakin kufur, tidak mengintrospeksi dirinya atas kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat, serta jauh dari ketaatan, maka dosa yang dipikulnya akan semakin banyak, dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat nasuha.

Dahulu seorang sahabat Ali Bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan ;

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.”
(lihat kitab Al Jawabul Kaafi, hal. 87).

Wallahu Ta’ala A’lam.

 

Disusun oleh:
Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Kamis, 29 Rabbi’ul Akhir 1441 H/ 26 Desember 2019 M



Ustadz Fadly Gugul S.Ag. حفظه الله
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam

Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini