Bagaimana Cara Taubat dari Maksiat yang Terus Menerus Dilakukan?

Bagaimana Cara Taubat dari Maksiat yang Terus Menerus Dilakukan?

Bagaimana Cara Taubat dari Maksiat yang Terus Menerus Dilakukan?

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Semoga Allah senantiasa merahmati ustadz dan kaum muslimin.

Ustadz saya sering melakukan maksiat pada Allah, dan saya merasa punya banyak dosa. Ketika bertaubat saya selalu mengulangi di lain hari, bertaubat, mengulangi lagi. Begitu terus seperti terjebak dalam lingkaran ustadz.

Saat saya ingin bertaubat, berdoa ataupun ingin sholat saya merasa malu kepada Allah atas dosa-dosa saya ustadz. Sehingga saya meninggalkan sholat ataupun taubat saya hingga saya merasa percaya diri lagi untuk menghadap Allah ustadz.

Bagaimana tentang sikap saya tersebut ustadz?
Apakah benar?
Apa yang harus saya lakukan ustadz?

Terimakasih atas jawabannya ustadz.

جزاكم الله خيرا وبارك الله فيكم.

(Disampaikan oleh Fulan, Sahabat BiAS di Sleman)


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Solusi dari Taubat, Namun Maksiat lagi

Penanya mengatakan :

Ustadz saya sering melakukan maksiat pada Allah, dan saya merasa punya banyak dosa. Ketika bertaubat saya selalu mengulangi di lain hari, bertaubat, mengulangi lagi. Begitu terus seperti terjebak dalam lingkaran ustadz.

Solusi kami :

Berusahalah untuk menghindari objek-objek yang membuat Anda bermaksiat.

Apabila kemaksiatan tersebut muncul karena teman, maka jauhi teman-teman yang membuat Anda bermaksiat.
Apabila kemaksiatan tersebut muncul karena alat, maka jauhi alat yang membuat Anda bermaksiat.
Apabila kemaksiatan tersebut muncul karena fasilitas, maka jauhi fasilitas tersebut.
Apabila kemaksiatan tersebut karena tempat, maka pergilah dari tempat tersebut.

pada intinya, coba untuk menjauhi objek yang membuat Anda melakukan maksiat.

Dan hal ini kita ambil dari kisah pembunuh 99 nya yang akhirnya melakukan taubat, disana ia diperintahkan untuk pergi meninggalkan negerinya, menuju negeri lain yang penduduknya lebih baik.

Kemudian setelah berusaha menghindari objek penyebab maksiat, dan kemaksiatan tersebut belum bisa langsung ditinggalkan, karena apabila langsung ditinggalkan akan ada mudharat dalam tubuhnya, maka berusahalah untuk bertahap.

Jika kemaksiatan tersebut memiliki intensitas, maka setiap hari kurangi intensitasnya.

Jika kemaksiatan itu dalam seminggu terulang tujuh-kali, maka berusahalah untuk segera berhenti menjadikan nol-kali.

Namun, apabila itu tidak memungkinkan, maka setidaknya pada minggu pertama, jadikan maksiat tersebut hanya enam-kali, minggu berikutnya lima-kali minggu berikutnya empat-kali, minggu berikutnya tiga-kali, kemudian dua-kali, kemudian satu-kali, kemudian nol-kali.

Dan berusahalah sekuat tenaga untuk menolak maksiat tersebut semaksimal mungkin dan jika memungkinkan untuk berusaha langsung ke nol-kali, karena kita tidak tahu kapan kematian menjemput.

Dan ini hanya contoh, apabila memang kemaksiatan tersebut tidak bisa langsung di nol-kali kan (langsung dihentikan).

Dan dalam perjalanan meng-nol-kali-kan, selalu berdoa kepada Allah dengan tulus dan sungguh-sungguh, karena diri kita ini memang lemah.


Jangan Sampai Maksiat, Menghalangi Kita Dari Ibadah

Kemudian dalam pertanyaan dikatakan :

Saat saya ingin taubat, berdoa ataupun ingin sholat saya merasa malu kepada Allah atas dosa-dosa & maksiat saya ustadz. Sehingga saya meninggalkan sholat ataupun taubat saya hingga saya merasa percaya diri lagi untuk menghadap Allah ustadz.

Jawaban kami :

Sifat malu kepada Allah memang baik, apabila memang malu tersebut akan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan dari maksiat.

Akan tetapi, malu karena berlumuran dosa untuk tidak beribadah, maka ini sudah jatuh tertimpa tangga atau Anda telah masuk ke dalam perangkap syaithan.

Karena kaidahnya, seberapa banyak dosa kita, kita harus tetap melaksanakan kewajiban kita, agar kita tidak bertambah dosa karena meninggalkan kewajiban.

Dan boleh jadi dengan bersegera untuk melaksanakan kewajiban kita, walaupun kita berlumuran dosa, Allah mengkokohkan kaki kita diatas ketaatan dan taubat.

Jadi jangan sampai perbuatan maksiat kita menjauhkan dari beribadah kepada Allah. Allah akan tetapi menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai dikerongkongan.


Teruslah Bertaubat & Bertekad Tidak Mengulangi

Kemudian dalam pertanyaan disebutkan :

Bagaimana tentang sikap saya tersebut ustadz? Apakah benar? Apa yang harus saya lakukan ustadz?

Jawaban kami :

Sikap Anda salah, tidak benar.

Yang harus dilakukan adalah sebagaimana yang telah kami sampaikan, dan terus bertaubat walaupun bermaksiat, dan tidak boleh merasa kotor kemudian tidak beribadah.

Syaikh Bin Baz pernah ditanya :

Bagaimana hukum orang yang berbuat maksiat dosa besar ataupun kecil, kemudian ia taubat darinya. Kemudian ia kembali berbuat dosa itu lagi kemudian ia taubat kembali. Apakah Allah akan menerima taubat (dan mengampuni dosanya)? Dan apa tanda taubat?

Beliau menjawab :

lya, jika seorang bertaubat kemudian kembali melakukan dosa lagi kemudian bertaubat kembali, maka Alhamdulillah. Yang terpenting dirinya benar-benar bertaubat dengan jujur (benar-benar). Jika ada seorang bertaubat dari dosa kemudian ia kembali melakukan lagi, maka ia harus bertaubat kembali.

Jika taubat yang pertama, memang benar, jujur, maka Allah akan mengampuni dosanya. Setiap kali seorang hamba bertaubat dengan benar (nasuha), maka Allah akan menghapus dosanya.

Walaupun ia ulangi dosa tersebut berkali-kali setelah taubat.

Hanya saja…

Seharusnya ada keinginan kuat (yang sungguh-sungguh) untuk tidak mengulanginya lagi.

Namun jika akhirnya ia kembali mengulangi dosa, lalu bertaubat dengan jujur, maka Allah akan mengampuni dosanya Karena Allah berfirman yang artinya :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Dan bertaubatlah kalian semua, wahai kaum mukminin kepada Allah, semoga kalian menjadi orang yang beruntung”
(QS. An-Nuur: 31)

Dan telah shahih, perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, menyampaikan hadits qudsi, Allah berfirman:

“Jika hambaku berbuat dosa kemudian bertaubat kepada ku, pasti akan ku ampuni”

Seperti itu juga jika ia mengulangi dosanya, setiap kali kembali berbuat dosa kemudian bertaubat dengan jujur, Allah akan mengampuninya

sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/11438/حکم-من-تاب-من-ذنب-ثم-عاد-الیه

 

Wallohu A’lam,
Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc حفظه الله
📆 Selasa,4 Dzulhijah 1440 H/5 Agustus 2019 M



Ustadz Ratno, Lc.
Dewan Konsultasi Bimbingan Islam (BIAS), Alumni Universitas Islam Madinah jurusan Hadits
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Ratno حفظه الله 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS