Motivasi Untuk Memandikan Jenazah, Mengkafani Dan Menguburkannya

Motivasi Untuk Memandikan Jenazah, Mengkafani Dan Menguburkannya

Banyak dari kalangan para penuntut ilmu yang sudah mengetahui sunnah-sunnah merawat jenazah akan tetapi enggan merawat jenazah apakah itu memandikan, mengkafani, menshalatkan serta memakamkan jenazah. Berbagai dalih disampaikan, mulai dari malas, tidak enak dengan kaum tua, malu, tidak percaya diri, tidak ada kesempatan dan lain-lain.

Kali ini kita akan menyampaikan beberapa dalil yang kita harapkan bisa menjadi motivasi bagi kaum muda muslim di dalam melaksanakan tugas mulia bertabur pahala dan kebaikan di sisi Allah ta’ala yang kita harapkan akan menjadi sebab kita diselamatkan dari sengatan api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga Allah seluas langit dan bumi.

Ada beberapa hadits yang menerangkan keutamaan serta pahala besar yang akan didapatkan oleh seorang muslim yang mau dan mampu merawat jenazah mulai dari memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan jenazah kaum muslimin.

HADITS PERTAMA

Diantaranya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً، وَمَنْ حَفَرَ لَهُ فَأَجَنَّهُ أَجْرَى عَلَيْهِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ كَفَّنَهُ كَسَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سُنْدُسِ وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa memandikan mayit lalu menyembunyikan aib-aibnya, Allah akan mengampuninya dengan empat puluh kali ampunan. Dan barangsiapa menggali (kubur) untuknya maka akan diberikan pahala baginya seperti pahala orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Dan barangsiapa mengkafani mayit, Allah akan mengkafaninya dengan sutra halus dan bludru dari surga di hari kiamat nanti.”

(HR Al-Hakim dalam Mustadrak : 1/354, 1/362, Ath-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir : 929 dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shaihut Targib Wat Tarhib : 3492 Lihat pula Ahkamul Janaiz : 69 oleh Imam Al-Albani).

Pahala besar ini akan didapatkan oleh setiap orang muslim yang melakukan hal tersebut dengan disertai dua syarat, Al-Imam Al-Albani menjelaskan kedua syarat tersebut beliau berkata :

ولمن تولى غسله أجر عظيم بشرطين اثنين :

الاول : أن يستر عليه ، ولا يحدث بما قد يرى من المكروه ، لقوله صلى الله عليه وسلم : ” من غسل مسلما فكتم عليه غفر له الله أربعين مرة ،ومن حفر له فأجنه أجري عليه كأجر مسكن أسكنه إياه إلى يوم القيامة،ومن كفنه كساه الله يوم القيامة من سندس واستبرق الجنة “.أحرجه الحاكم ( 1 / 354 ، 362 ) والبيهقي ( 3 / 395 ) من حديث أبي رافع رضي الله عنه ، وقال الحاكم :

” صحيح على شرط مسلم ” . ووافقه الذهبي ، وهو كما قالا . وقد رواه الطبراني في ” الكبير ” بلفظ : ” أربعين كبيرة ” .

وقال المنذري ( 4 / 171 ) وتبعه الهيثمي ( 3 / 21 ) : ” رواته محتج بهم في الصحيح ” . وقال الحافظ ابن حجر في ” الدراية ” ( 1 40 ) : ” إسناده قوي ” .

الثاني : أن يبتغي بذلك وجه الله ، لا يريد به جزاء ولا شكورا ولا شيئا من أمور الدنيا ، لما تقرر في الشرع أن الله تبارك وتعالى لا يقبل من العبادات إلا ماكان خالصا لوجهه الكريم ، والادلة على ذلك من الكتاب والسنة كثيرة جدا

“Bagi orang yang bertugas memandikan ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan dua syarat :

1). Pertama : Ia hendaknya menyembunyikan aib jenazah, tidak menceritakan sesuatu yang tidak disukai yang terlihat pada jenazah, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa Salaam : “Barangsiapa memandikan mayit lalu menyembunyikan aib-aibnya, Allah akan mengampuninya dengan 40 kali ampunan. Dan barangsiapa menggali (kubur) untuknya maka akan diberikan pahala untuknya seperti pahala orang yang memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Dan barangsiapa yang mengkafani mayit, Allah akan mengkafaninya dengan sutra halus dan bludru dari surga di hari kiamat nanti.”

Diriwayatkan oleh Hakim 1/354, 362, Baihaqi ; 3/395, dari haditsnya Abu Rafi’ Radhiyallahu anhu. Al Hakim berkata : ‘shahih atas syarat Muslim’. Lalu disetujui oleh Adz-dzahabi dan demikian sebagaimana yang mereka katakan.

Telah diriwayatkan oleh Thabrani dalam “Al Kabiir” dengan lafadz : “40 dosa besar”. Al Mundziri (4/171) berkata, kemudian diikuti oleh Al Haitsami (3/21) : ‘Para perawinya adalah yang dijadikan hujjah dalam hadits shahih’. Al Hafidz dalam “Ad-Duriyyah : 1/40” berkata : ‘sanadnya kuat’”.

2). Yang kedua : Hendaknya ia melakukan hal tersebut karena mengharap wajah Allah bukan mengharap balasan, ucapan terimakasih, atau hal-hal keduniaan lainnya. Berdasarkan apa yang telah paten di dalam syariat bahwa Allah tiada pernah menerima ibadah kecuali yang dilakukan ikhlas karena-Nya. Dalil atas hal ini sangat beragam di dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah.”

(Ahkamul Jana’iz Wa Bida’uha : 69).

HADITS KEDUA

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menjelaskan keutamaan orang yang menshalati jenazah :

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ وَلَمْ يَتْبَعْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ فَإِنْ تَبِعَهَا فَلَهُ قِيرَاطَانِ  قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ أَصْغَرُهُمَا مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa menshalatkan jenazah dan tidak ikut mengiringinya, maka baginya pahala satu qiroth. Jika ia sampai mengikuti jenazahnya, maka baginya pahala dua qiroth.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud dua qiroth?”. Beliau menjawab, “Ukuran terkecil dari dua qiroth adalah semisal gunung Uhud.” (HR. Muslim no. 945).

Demikian agung pahala yang Allah peruntukkan bagi orang Islam yang mau menshalatkan jenazah dan mengiringinya. Amalan ini dijelaskan oleh para ulama kita bahwa ia bertingkat-tingkat derajatnya :

  1. Seseorang mengiringi jenazah sejak keluar dari rumah sampai dishalati dan dimakamkan, ini adalah tingkatan yang paling sempurna dan pelakunya mendapatan dua qirath yang besar.
  2. Sesorang mengiringi jenazah sejak keluar dari rumahnya sampai menshalati, maka bagi dia pahala satu qirath.
  3. Seseorang menshalati jenazah dan tidak ikut mengiringinya keluar dari rumah, maka ia mendapatkan pahala satu qirath.
  4. Menyaksikan pemakaman jenazah dengan tanpa menshalatkannya. Berdasarkan konteks hadits ia tidak mendapatkan satu qirath meski ia mendapatkan pahala secara umum sesuai dengan kadar amalannya.
  5. Seseorang mengiringi jenazah beberapa saat lalu pergi tanpa menshalati dan mengiringi hingga pemakaman, maka ia mendapatkan pahala sesuai kadar niatnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim Lin Nawawi : 7/15, Fathul Bari : 3/193).

Dan ketika jumlah jenazah yang kita shalati bertambah, maka akan bertambah pula pahala yang kita dapatkan meski shalatnya hanya sekali untuk beberapa jenazah. Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz menyatakan :

نرجو له قراريط بعدد الجنائز ; لقول النبي صلى الله عليه وسلم: رواه مسلم في (الجنائز) باب فضل الصلاة على الجنازة برقم (946) . من صلى على جنازة فله قيراط ومن تبعها حتى تدفن فله قيراطان ، وما جاء في معنى ذلك من الأحاديث , وكلها دالة على أن القراريط تتعدد بعدد الجنائز

“Kami berharap baginya mendapatkan banyak qirath sesuai dengan jumlah jenazah yang ada berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwyatkan oleh Muslim di dalam kitab Al-Janaiz bab tentang keutamaan shalat jenazah no. 946 ; Barangsiapa menshalati jenazah maka baginya pahala satu qirath dan barangsiapa mengiringinya hingga dikuburkan maka baginya pahala dua qirath.

Dan hadits lain yang semakna dengannya semua menunjukkan bahwa jumlah qirath itu sesuai dengan jumlah jenazah yang ada.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz : 13/137).

HADITS KETIGA

Hadits ketiga yang bisa kita sampaikan untuk memotivasi kaum muda muslim dalam merawat jenazah adalah sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam :

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أرْبَعُونَ رَجُلا، لا يُشْرِكُونَ بِالله شَيْئاً إِلا شَفَّعَهُمُ اللهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang lelaki muslim mati kemudian dishalatkan jenazahnya oleh empat puluh orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun kecuali Allah akan memberikan syafaat kepadanya.” (HR Muslim : 948).

Kaidah syariat menyatakan bahwa balasan itu setimpal dengan amal perbuatan. Kita semua tentu berharap ketika kita meninggal kelak, akan ada banyak kaum muslimin dari kalangan ahli tauhid yang menshalatkan jenazah kita hingga Allah ta’ala menganugrahkan syafaat untuk kita lantaran shalatnya mereka. Renungan singkat bagi kita semua, seandainya kita mati malam ini, kira-kira apakah sudah ada empat puluh ahli tauhid yang akan berkenan menshalatkan kita ? Alasan apa yang membuat keempat puluh orang tadi mau menshalatkan kita ?

Selanjutnya hendaknya kita memperbanyak melakukan perawatan jenazah, memandikan, mengkafani serta menshalatkan dan mengantarkan jenazah kaum muslimin sebanyak-banyaknya agar jika kita mati kelak akan banyak ahli tauhid yang menshalatkan kita.

 

HUKUM MENGAMBIL UPAH PERAWATAN JENAZAH

Terakhir sebagai penutup sebagai bentuk peringatan bagi kita semua, kami sampaikan hukum mengambil upah atas aktifitas merawat jenazah serta status boleh dan tidaknya seorang muslim mengurus jenazah orang kafir.

Pertama, para ulama kita menyatakan bahwa tiada mengapa seseorang menerima upah dari aktifitas merawat jenazah asalkan tidak mematok tarif tertentu. Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala berkata :

إذا كانت هذه الأجرة أو هذا العطاء بدون شرط فلا شك في جوازه ولا حرج فيه ؛ لأنه وقع مكافأة لهذا الغاسل المكفن على عمله ، وقد قال النبي عليه الصلاة والسلام : (من صنع إليكم معروفاً فكافئوه) .

أما إذا كانت هذه الأجرة مشروطة فإنها بلا شك تنقص أجر الغاسل المكفن ؛ لأن الغاسل المكفن ينال أجراً كبيراً ؛ لأن تغسيل الميت وتكفينه من فروض الكفاية ؛ فيحصل للغاسل والمكفن أجر فرض الكفاية . لكن إذا أخذ على ذلك أجرة فإن أجره سوف ينقص ، ولا حرج عليه إذا أخذ أجرة على هذا ؛ لأن هذه الأجرة تكون في مقابل العمل المتعدي للغير ، والعمل المتعدي للغير يجوز أخذ الأجرة عليه ، كما جاز أخذ الأجرة على تعليم القرآن على القول الصحيح

“Jika upah ini diberikan dengan tanpa dipersyaratkan (tanpa memasang tarif) maka tiada keraguan akan bolehnya hal tersebut. Karena itu menjadi mukafa’ah (balas budi) bagi si perawat jenazah atas amalnya. Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berbuat baik kepadamu maka balas budilah kepadanya.”

Adapun jika upah ini dipasang tarif maka tidak diragukan bahwa hal tersebut mengurangi pahala si perawat jenazah. Perawat jenazah itu mendapatkan pahala besar karena memandikan dan mengkafani jenazah hukumnya fardhu kifayah maka pelakunya mendapatkan pahala fardhu kifayah. Akan tetapi ketika ia mematok tarif maka akan berkurang pahalanya.

Tapi tidak mengapa jika ia mengambil upah dalam hal ini. Karena upah ini menjadi pengganti bagi perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain. Perbuatan yang membawa kebaikan bagi orang lain boleh hukumnya mengambil upah sebagaimana boleh pula mengambil upah dari megajarkan Al-Qur’an menurut pendapat yang shahih.”

(Fatawa Nurun Alad Darbi : 7/36).

Kedua, tidak boleh seorang muslim membantu perawatan jenazah orang kafir kecuali jika memang tidak ada orang lain sama sekali yang mengurusnya.

Para ulama besar yang tergabung dalam Lajnah Daimah atau komisi fatwa kerajaan Saudi menyatakan :

إذا وجد من الكفار من يقوم بدفن موتاهم فليس للمسلمين أن يتولوا دفنهم ، ولا أن يشاركوا الكفار ويعاونوهم في دفنهم ، أو يجاملوهم في تشييع جنائزهم ؛ عملاً بالتقاليد السياسية ، فإن ذلك لم يعرف عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا عن الخلفاء الراشدين ، بل نهى الله رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقوم على قبر عبد الله بن أُبَي بن سلول ، وعلل ذلك بكفره ، قال تعالى : ( ولا تصل على أحد منهم مات أبداً ولا تقم على قبره إنهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون ) التوبة 81 ، وأما إذا لم يوجد منهم من يدفنه دفنه المسلمون كما فعل النبي صلى الله عليه وسلم بقتلى بدر، وبعمه أبي طالب لما توفي قال لعلي : ( اذهب فواره ) .

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .

“Apabila ada dari kalangan orang kafir yang telah melaksanakan penguburan mayatnya, maka tidak boleh bagi muslimin untuk bertanggung jawab atas penguburan mereka dan tidak turut serta dan tolong menolong bersama orang-orang kafir di dalam menguburkan  jenazah tersebut.  Atau menemani mereka di dalam mengantarkan  jenazah disebabkan mengamalkan kepatuhan terkait politik.

Maka sesungguhnya hal tersebut tidak diketahui (asalnya) dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, tidak pula dari Khulafaur Rasyidin. Bahkan Allah melarang Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berdiri di atas Kubur Abdullah bin Ubay Bin Salul, Allah mengabarkan sebab larangan tersebut adalah karena kekafirannya.

Allah berfirman :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri  di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”  QS. At-Taubah : 84)

Adapun apabila tidak ditemukan dari kalangan orang kafir yang menguburkannya, maka Kaum Muslimin yang menguburkannya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassallam kepada korban orang badar (dari pihak kafir) dan juga ketika pamannya Abu Thalib wafat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berkata kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu : “Pergilah, kuburkan dia !.”

Wabillahi taufiq, Sholawat dan salam atas Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam beserta keluarga dan para sahabatnya.

(Fatawa Lajnah Da’imah no. 2612).

Semoga bermanfaat wallahu ta’ala a’lam bish showab.

Ustadz Abul Aswad Al Bayati حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com

CATEGORIES
Share This

COMMENTS