Jenis Kelamin dan Kemiripan Anak Dalam Tinjauan Syariat

Jenis Kelamin dan Kemiripan Anak Dalam Tinjauan Syariat

Saudaraku sekalian yang mencintai sunnah dan dicintai oleh Alloh…

Miripnya sifat anak dengan orangtua masih menjadi sesuatu yang dibincangkan secara non-ilmiyah dari sisi syariat sampai saat ini, dan perlu dipahami dulu bahwa ilmiyah disini maksudnya adalah dalil, bukan riset atau penelitian.
Pembahasan ini berhubungan dengan masalah ranjang atau hubungan suami istri, mungkin ada yang menganggap tabu atau vulgar, padahal hal ini sejatinya telah pantas untuk diketahui dan dikonsumsi kyalayak umum yang telah cukup umur. Tujuannya agar perihal cetak-mencetak anak ini tidak dipenuhi oleh hal-hal yang berbau tahayyul atau khurofat.

MENCETAK ANAK LAKI-LAKI ATAU PEREMPUAN

Agar sang buah hati terlahir laki-laki atau perempuan, maka tolok ukurnya selain karena izin Alloh adalah dominasi mani yang satu dengan mani yang lain. Jika mani laki-laki lebih dominan atau mengalahkan mani perempuan, maka Insya Alloh yang lahir adalah anak laki-laki. Sebaliknya, jika mani perempuan lebih dominan atau mengalahkan mani laki-laki maka Insya Alloh yang lahir adalah anak perempuan.

Hal tersebut sejalan dengan hadits Nabi sholallohu ‘alaihi wasallam yang diceritakan oleh Tsauban (Pelayan Beliau) rodhiallohu ‘anhu, yakni saat ada seorang Yahudi mengajukan beberapa pertanyaan yang jawabannya tidak diketahui seseorang di muka bumi ini kecuali seorang Nabi atau beberapa orang tertentu saja, dan salah satu pertanyaan itu adalah soal anak. Maka Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَاءُ الرَّجُلِ أَبْيَضُ وَمَاءُ الْمَرْأَةِ أَصْفَرُ فَإِذَا اجْتَمَعَا فَعَلَا مَنِيُّ الرَّجُلِ مَنِيَّ الْمَرْأَةِ أَذْكَرَا بِإِذْنِ اللَّهِ وَإِذَا عَلَا مَنِيُّ الْمَرْأَةِ مَنِيَّ الرَّجُلِ آنَثَا بِإِذْنِ اللَّهِ

“Air mani seorang lelaki berwarna putih dan air mani seorang wanita berwarna kuning, jika keduanya menyatu dan air mani laki-laki lebih dominan atas air mani wanita, maka janin itu akan berkelamin laki-laki dengan izin Allah. Namun jika air mani wanita lebih dominan atas air mani laki-laki maka janin itu akan berkelamin wanita dengan izin Allah.” [HR Muslim 473]

Dengan hadits diatas kita bisa tahu bahwa salah satu tanda Nubuwwah yang Alloh berikan pada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam adalah wahyu tentang resep mencetak anak laki-laki atau perempuan, beliau mengajarkan pada kita tips dan indikasinya, namun tentu saja resep diatas juga berkaitan erat dengan kehendak Alloh. Kita harus yakin bahwa Alloh lah pemegang hak prerogatif jenis kelamin dari anak-anak kita.

KEMIRIPAN ANAK

Setelah membahas tentang jenis kelamin, kita beranjak membahas tentang resep kemiripan atau kesamaan bentuk rupa sang anak dengan orangtuanya. Hal ini ternyata telah ada landasan ilmiyahnya, telah ada tips dan penjelasannya dari sang Manusia Terbaik, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shohih-nya Beliau sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

وَأَمَّا الشَّبَهُ فِي الْوَلَدِ فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَشِيَ الْمَرْأَةَ فَسَبَقَهَا مَاؤُهُ كَانَ الشَّبَهُ لَهُ وَإِذَا سَبَقَ مَاؤُهَا كَانَ الشَّبَهُ لَهَا

“Adapun kemiripan seorang anak dengan bapaknya adalah apabila sang suami mendatangi istrinya, apabila air mani suami mendahului air mani istrinya berarti akan lahir anak yang mirip dengan bapaknya, sebaliknya apabila air mani istrinya mendahului air mani suaminya maka akan lahir anak yang mirip dengan ibunya”. [HR Bukhori 3082]

Dalam riwayat lain, yakni dalam Musnad Imam Ahmad dari Ummul Mukminin Ummu Salamah rodhiallohu ‘anha bahwasanya Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam menjelaskan;

أَيُّ النُّطْفَتَيْنِ سَبَقَتْ إِلَى الرَّحِمِ غَلَبَتْ عَلَى الشَّبَهِ

“Dua air mani yang lebih dulu sampai sampai ke rahim maka ia akan lebih dominan pada keserupaan”. [HR Ahmad 25413]

Demikianlah saudara-saudaraku yang mencintai sunnah dan dicintai oleh Alloh, penjelasan ilmiyah dari Hadits Shohih tentang resep ranjang suami istri yang berkaitan dengan jenis kelamin anak serta kemiripan rupa ataupun sifat.

Jika ada diantara saudara sekalian yang hendak berikhtiar dengan pedoman hadits diatas maka lakukanlah, namun tetap gantungkan semuanya pada Alloh Sang Kholiq, bukan pada ikhtiar antum semata.

Dan jangan lupa, semua anak sejatinya adalah anugrah, tak peduli bagaimana kesamaan rupa atau wajah, lucu anggun ataupun gagah, tugas kita adalah mendidik dan mengarahkannya untuk tunduk pada Dzat Yang Maha Perkasa.

Kami pun juga mengingatkan tentang keberkahan, jangan sampai hanya terfokus pada cara tapi lupa dengan berkah karena tidak sempat berdoa, doa saat hendak berhubungan suami istri. Ingatlah pada Hadits dari sahabat Ibnu ‘Abbas rodhiallohu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِىَ أَهْلَهُ فَقَالَ بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا . فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرُّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

“Jika salah seorang dari kalian ingin berhubungan intim dengan keluarganya (pasangannya), lalu ia membaca doa, [Bismillah Allohumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa], “Dengan (menyebut) nama Alloh, yaa Alloh jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami”, kemudian jika Alloh menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya” [HR Bukhari 6388 dan Muslim 1434].

Doa ini sangat berpengaruh pada keturunan yang dihasilkan dari hubungan suami istri tersebut. Tentang keberkahan dan juga kesholehan. Sebagaimana tercantum dalam riwayat mursal yang terdapat pada Fathul Bari,

إِذَا أَتَى الرَّجُل أَهْله فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّه اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقَتْنَا وَلَا تَجْعَل لِلشَّيْطَانِ نَصِيبًا فِيمَا رَزَقْتنَا ، فَكَانَ يُرْجَى إِنْ حَمَلْت أَنْ يَكُون وَلَدًا صَالِحًا

“Jika seseorang mendatangi istrinya (berhubungan intim), maka ucapkanlah ‘Yaa Alloh, berkahilah kami dan keturunan yang dihasilkan dari hubungan intim ini, janganlah jadikan setan menjadi bagian pada keturunan kami’. Dari doa ini, jika istrinya hamil, maka anak yang dilahirkan diharapkan adalah anak yang sholeh” (Fathul Bari 9: 229).

Wallohu A’lam
Wabillahit taufiq

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

TAUSIYAH
Bimbinganislam.com

CATEGORIES
Share This

COMMENTS