Menukil Tulisan Tanpa Mencantumkan Penulisnya

Menukil Tulisan Tanpa Mencantumkan Penulisnya

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم
السلام عليكم ورحمةالله وبركاته

Bagaimana hukum menyebarkan tulisan dari group atau telegram dengan menghapus pemateri misalnya khawatir terlalu banyak materi atau tulisan atau takut penyampaiannya tidak diterima karena beberapa orang tidak suka dengan Ustadz atau jama’ah tertentu yang bermanhaj salaf.

Padahal yang ustadz-ustadz tersebut menyampaikan apa yang Allah perintahkan dan Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam amalkan, tapi mereka menolak hanya karena tau nama Ustadznya ini dan itu.

Syukron, Ustadz.
Jazaakallaahu khoiron wa baarakallaahu fiik.

(Fulanah, Sahabat BiAS T04-58)

 

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hukum aslinya ketika kita menukil maka kita mencantumkan sumber penukilan dan penulisnya sebagai bentuk amanah ilmiyyah. Akan tetapi jika pada suatu kali situasi dan kondisi menuntut kita untuk menyembunyikan identitas pemilik ucapan maka tidak mengapa kita lakukan dengan syarat :

1. Diperkirakan hal tersebut akan menimbulkan adanya maslahat/kebaikan.

2. Lebih baik lagi jika kita meminta ijin dari pemilik tulisan asli

Syaikh Muhammad Al- Jami rahimahullah pernah menyatakan :

حدثني من أثق به أنه كان يوجد في بعض مدن الهند عالم يدرس في المساجد وكان من عادته إذا انتهى من الدرس يدعو الله كثيراً وكان في دعائه يدعو على الشيخ (مميز محمد بن عبد الوهاب ويلعنه .)

“Telah mengatakan kepada kau orang yang terpercaya bahwa dulu ada didapatkan di salah satu kota di India seorang ulama yang mengajar ngaji di beberapa masjid.”

Ia memiliki kebiasaan setia kali selesai pengajian berdoa kepada Allah dengan doa yang banyak. Diantara isi doanya ia mendoakan keburukan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab serta melaknatnya.”

وكان ممن يحضر درسه طالب سعودي ( قال الشيخ في الحاشية : أغلب الظن أنه الشيخ عبد الله القرعاوي عندما كان يطلب العلم في الهند والله أعلم ) واع لبق . فكر الطالب السعودي كيف ينقد هذا المدرس المسكين الذي ضللته الدعاية المضللة حتى وقع في هذه الورطة ، فهذاه تفكيره بإذن الله إلى الحيلة الآتية :

“Diantara yang menghadiri pelajarannya adalah seorang pelajar dari Saudi yang cerdas (Syaikh Al-Jami berkomentar di catatan kaki ; Menurut dugaan kuat saya pelajar ini adalah Syaikh Abdullah Al-Qar’awy ketika beliau belajar menuntut ilmu di India, wallahu a’lam).

Pelajar Saudi ini berfikir bagaimana caranya membantah pengajar yang miskin ini yang telah disesatkan oleh opini yang keliru sehingga ia terjerumus ke dalam perbuatan buruk ini. Hasil pemikirannya menggiring ia dengan izin Allah untuk melakukan hal sebagai berikut :

عمد إلى كتاب التوحيد الذي هو حق الله على العبيد . فنزع عنه الغلاف والورقة الأولى التي تحمل اسم المؤلف ثم تقدم إلى المدرس الهندي فطلب منه أن يقرأ هذا الكتاب ثم يخبره عن مضمونه وعن رأيه فيه .

“Ia mengambil kitab tauhid alladzi huwa haqqullahi ‘alal ‘abid. Ia lantas merobek sampul kitab dan halaman pertama yang memuat nama penulisnya. Kemudian menyerahkannya kepada pengajar India untuk membacanya dan memberikan komentar terhadap kitab tersebut.”

فأخذ المدرس الكتاب فقرأه فأعجب به فسأله الطالب في غد عن الكتاب فأخذ المدرس يثني على الكتاب ثناء عظيماً ويصفه بانه من أحسن الكتب في بابه فقال الطالب السعودي : إن مؤلف هذا الكتاب هو محمد بن عبد الوهاب الذي تلعنه ، وقدم له الغلاف والورقة المنزوعة التي فيها اسم الشيخ فاندهش المدرس وندم على ما فرط منه وأخذ يدعو للطالب ، ثم غير موقفه من الشيخ بل غير أسلوب الدعاء (مميز فجعل يدعو للشيخ آخر الدرس بدلاً من الدعاء عليه ) فنسأل الله تعالى أن يعفوعنه .

“Sang pengajar India lantas membacanya dan ia merasa takjub dengan kitab tersebut. Pelajar ini kemudian bertanya pada keesokan harinya akan isi kitab tersebut.

Pengajar memuji kitab itu dengan pujian yang mulia dan ia menyatakan bahwa kitab ini adalah kitab terbaik dalam pembahasannya.

Sang pelajar lantas mengatakan bahwa penulis kitab tersebut adalah Muhammad bin Abdul Wahhab orang yang selama ini ia laknat. Kemudian ia menyerahkan sampul kitab serta halaman pertama dari kitab itu yang memuat nama penulisnya.

Sang pengajar India ini terkejut luarbiasa, ia merasa menyesal atas perbuatan yang ia lakukan da ia mendoakan kebaikan bagi pelajar ini.

Ia lantas merubah sikapnya terhadap syaikh bahkan merubah gaya pengajiananya dengan mendoakan kebaikan bagi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.”

(Majmu’ Rasaa’il Al-Jaami Lil Aqidah Wa-Sunnah : 237).

Kiranya kasus ini menjadi contoh bagi kita, kapan kita harus menghapus nama penulis dan kapan harus menampakkanya.

Semua bermuara kepada masalahat dan mafsadat yang melatar belakangi perbuatan tersebut.

Wallahu a’lam

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Abul Aswad Al Bayaty حفظه الله
(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

Tanya Jawab
Grup WA Sahabat BiAS T04-58

 

CATEGORIES
Share This

COMMENTS