ArtikelUmum

Ada Makhluk Bernyawa di Pakaianmu

Ada Makhluk Bernyawa di Pakaianmu

Para pembaca Bimbinganislam.com yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan: Ada Makhluk Bernyawa di Pakaianmu. Selamat membaca.


1. Dalil Keharaman Menggambar Makhluk Bernyawa

Banyak dalil yang menjelaskan larangan menggambar makhluk bernyawa. Di antaranya:

a. Hadits Riwayat Ibnu Abbas

Rasulullah bersabda:

كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النّارِ، يَجْعَلُ لَهُ، بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَها، نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ» وقالَ: «إنْ كُنْتَ لا بُدَّ فاعِلًا، فاصْنَعِ الشَّجَرَ وما لا نَفْسَ لَهُ»

“Setiap penggambar berada dalam neraka, setiap gambarnya akan diberikan ruh, lalu akan mengadzab si penggambar di neraka Jahannam.” Ibnu Abbas berkata: Jika engkau harus menggambar, gambarlah pohon atau sesuatu yang tidak ada ruhnya. (HR. Muslim no. 2110).

b. Hadits Abdullah bin Mas’ud

Rasulullah bersabda:

إنَّ أشَدَّ النّاسِ عَذابًا يَوْمَ القِيامَةِ المُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling dahsyat adzabnya pada hari kiamat adalah para penggambar.” (HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109).

c. Hadits Ibunda Kaum Mukminin ‘Aisyah

‘Aisyah berkata:

اشْتَرَيْتُ نُمْرُقَةً فِيها تَصاوِيرُ، فَلَمّا رَآها رَسُولُ اللهِ قامَ عَلى البابِ فَلَمْ يَدْخُلْهُ، قالَتْ: فَعَرَفْتُ فِي وجْهِهِ الكَراهِيَةَ، فَقُلْتُ: يا رَسُولَ اللهِ، أتُوبُ إلى اللهِ وإلى رَسُولِهِ، ماذا أذْنَبْتُ؟ فَقالَ رَسُولُ اللهِ -: ما بالُ هَذِهِ الوِسادَةِ؟ قُلْتُ: اشْتَرَيْتُها لَكَ لِتَقْعُدَ عَلَيْها وتَوَسَّدَها

“Aku membeli sebuah bantal yang ada gambarnya, tatkala Rasulullah melihatnya, beliau pun berdiri di pintu dan enggan masuk rumah. Aku melihat ketidaksukaan di wajah beliau. Aku pun berkata: Duhai Rasulullah, aku bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada rasulNya, apakah kesalahanku? Rasulullah pun bersabda: “Bantal apa ini?” aku pun berkata: Aku membelikannya untukmu agar engkau bisa duduk di atasnya.

Rasulullah pun bersabda:

إنَّ أصْحابَ هَذِهِ الصُّوَرِ الَّذِينَ يَصْنَعُونَها يُعَذَّبُونَ يَوْمَ القِيامَةِ، يُقالُ لَهُمْ: أحْيُوا ما خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang menggambar ini akan diadzab pada Hari Kiamat. Dikatakan kepada mereka: Hidupkanlah ciptaan kalian ini.”

Beliau juga bersabda:

إنَّ البَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ، لا تَدْخُلُهُ المَلائِكَةُ

“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar, tidak akan dimasuki oleh para malaikat.” (HR. Bukhari no. 1999 dan Muslim no. 96).

d. Hadits ‘Ali bin Abi Thalib

Rasulullah bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib:

أنْ لا تَدَعَ تِمْثالًا إلّا طَمَسْتَهُ ولا قَبْرًا مُشْرِفًا إلّا سَوَّيْتَهُ ولا صُورَةً إلّا طَمَسْتَها

“Jangan sampai engkau biarkan sebuah berhala kecuali engkau hancurkan, jangan biarkan kuburan kecuali engkau ratakan, dan jangan biarkan sebuah gambar kecuali engkau hapus.” (HR. Muslim no. 969).


2. Penjelasan Para Ulama

Berdasarkan hadits-hadits yang sudah dipaparkan, para ulama Islam mengambil kesimpulan haramnya menggambar makhluk yang bernyawa.

Imam Nawawi berkata:

قالَ أصْحابُنا وغَيْرُهُمْ مِنَ العُلَماءِ تَصْوِيرُ صُورَةِ الحَيَوانِ حَرامٌ شَدِيدُ التَّحْرِيمِ وهُوَ مِنَ الكَبائِرِ لِأنَّهُ مُتَوَعَّدٌ عَلَيْهِ بِهَذا الوَعِيدِ الشَّدِيدِ المَذْكُورِ فِي الأحادِيثِ

“Ulama dari madzhab kami (madzhab syafi’i) dan selain mereka mengatakan bahwa menggambar makhluk bernyawa sangat diharamkan dan termasuk dosa besar, karena pelakunya diberi ancaman yang tegas dalam banyak hadits.” (Syarah Shahih Muslim 14/81).

Ibnul Jauzi berkata:

أما المصورون فَإنَّما اشْتَدَّ عَذابهمْ لأنهم ضاهوا فعل الله فَفَعَلُوا كَما فعل من تَصْوِير الصُّور

“Adapun para penggambar (makhluk bernyawa), adzab mereka sangat dahsyat karena mereka menyaingi penciptaan Allah. Mereka membuat sebuah bentuk sebagaimana Allah .” (Kasyful Musykil min Hadits Shahihain: 1/280).


3. Sebab Pelarangan Menggambar Makhluk Bernyawa

1. Menyaingi Penciptaan Allah

Para ulama menyebutkan sebab pelarangan menggambar makhluk yang bernyawa adalah menyaingi Allah () dalam hal yang menjadi kekhususanNya, yaitu penciptaan. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِن سَفَرٍ، وقَدْ سَتَرْتُ بِقِرامٍ لِي عَلى سَهْوَةٍ لِي فِيها تَماثِيلُ، فَلَمّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَتَكَهُ

“Pernah ketika Rasulullah pulang dari safar, dan aku memasang tirai bergambar makhluk bernyawa menutupi lemari, tatkala Rasulullah melihatnya, beliau pun langsung mencopotnya.” Dan beliau bersabda:

أشَدُّ النّاسِ عَذابًا يَوْمَ القِيامَةِ الَّذِينَ يُضاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Manusia yang paling dahsyat adzabnya adalah yang meyaingi penciptaan Allah” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107).

2. Pintu Menuju Kesyirikan

Di antara sebab pelarangan menggambar yang dijelaskan para ulama adalah menggambar dalam rupa apa pun baik itu di kertas ataupun pahatan patung, bisa menjadi pintu kesyirikan. Dan inilah awal mula muncul kesyirikan di atas muka bumi pada zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam.

Disebutkan dalam Tafsir Thabari, pada tafsiran ayat:

﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (٢٣)

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”.” (QS. Nuh: 23)

كانُوا قَوْمًا صالِحَيْنَ مِن بَنى آدَمَ، وكانَ لَهُمْ أتْباعٌ يَقْتَدُونَ بِهِمْ، فَلَمّا ماتُوا قالَ أصْحابُهُمُ الَّذِينَ كانُوا يَقْتَدُونَ بِهِمْ: لَوْ صَوَّرْناهُمْ كانَ أشْوَقَ لَنا إلى العِبادَةِ إذا ذَكَرْناهُمْ، فَصَوَّرُوهُمْ، فَلَمّا ماتُوا، وجاءَ آخَرُونَ دَبَّ إلَيْهِمْ إبْلِيسُ، فَقالَ: إنَّما كانُوا يَعْبُدُونَهُمْ، وبِهِمْ يُسْقَوْنَ المَطَرَ فَعَبَدُوهُمْ

“Mereka dahulunya adalah orang-orang shalih keturan Adam, dan dahulu mereka memiliki banyak pengikut. Ketika mereka wafat, para pengikutnya pun berkata: kalau seandainya kita memahat rupa mereka, sehingga kita bisa termotivasi untuk beribadah saat mengingat mereka. Akhirnya mereka pun memahat rupa mereka, ketika para pengikut tersebut wafat, datanglah iblis kepada orang-orang setelahnya dan membisikkan: orang-orang dahulu menyembah patung-patung itu dan meminta hujan lewat patung tersebut, sehingga mereka pun menyembahnya.” (Tafsir Thabary: 23/303).

Pernah juga, ibunda kaum mukminin Ummu Salamah menceritakan tentang gereja yang pernah beliau lihat di Negeri Habasyah kepada Rasulullah , mendengarkan cerita tersebut beliau pun bersabda:

أُولَئِكَ قَوْمٌ إذا ماتَ فِيهِمُ العَبْدُ الصّالِحُ، أوِ الرَّجُلُ الصّالِحُ، بَنَوْا عَلى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرارُ الخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ

“Mereka adalah kaum apabila ada seorang laki-laki shalih di antara mereka meninggal, mereka akan membangun tempat ibadah di atas kuburannya, lalu mereka pun membaut gambar dalam gereja tersebut, mereka adalah makhluk terburuk di sisi Allah.” (HR. Bukhari no. 434 dan Muslim no. 528).


4. Hukum Memakai Pakaian Yang Terdapat Gambar Makhluk Bernyawa

Kita sudah memaparkan dalil beserta penjelasan para ulama tentang keharaman menggambar makhluk bernyawa. Lalu bagaimanakah hukum membeli dan memakai pakaian yang terdapat gambar makhluk bernyawa?

1. Menggunakan Benda Bergambar Makhluk Bernyawa Hukumnya Haram, Kecuali Yang Dianggap Sebagai Penghinaan

Berdasarkan dalil-dalil yang ada para ulama menyimpulkan bahwa mengenakan pakaian bergambar makhluk bernyawa, hukumnya haram. Sebab menggambar makhluk bernyawa adalah kemungkaran sehingga tidak pantas untuk dipajang.

Imam Nawawi berkata:

وأمّا اتِّخاذُ المُصَوَّرِ فِيهِ صُورَةَ حَيَوانٍ فَإنْ كانَ مُعَلَّقًا عَلى حائِطٍ أوْ ثَوْبًا ملبوسا أو عمامة ونحو ذلك مما لايعد مُمْتَهَنًا فَهُوَ حَرامٌ وإنْ كانَ فِي بِساطٍ يُداسُ ومِخَدَّةٍ ووِسادَةٍ ونَحْوِها مِمّا يُمْتَهَنُ فَلَيْسَ بِحِرامٍ

“Adapun memanfaatkan sesuatu yang terdapat padanya gambar makhluk bernyawa, jika sesuatu tersebut dipajang di dinding, baju, sorban atau digunakan dalam hal yang tidak dianggap penghinaan, maka hukumnya haram. Namun, jika digunakan untuk tikar yang diinjak, bantal untuk tidur, atau bantal untuk duduk dan semisalnya, hukumnya tidak haram.” (Syarah Shahih Muslim 14/81).

Dari penjelasan di atas, kita melihat rincian dalam perihal menggunakan benda yang terdapat gambar makhluk bernyawa padanya, jika penggunaannya dianggap sebagai penghinaan maka dibolehkan, seperti: bantal, karpet, popok,diaper dan semisalnya. Adapun jika gambar tersebut dipajang maka tidak boleh, baik dipajang di dinding maupun di pakaian.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِن سَفَرٍ، وقَدْ سَتَرْتُ بِقِرامٍ لِي عَلى سَهْوَةٍ لِي فِيها تَماثِيلُ، فَلَمّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ هَتَكَهُ وقالَ: «أشَدُّ النّاسِ عَذابًا يَوْمَ القِيامَةِ الَّذِينَ يُضاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ» قالَتْ: فَجَعَلْناهُ وِسادَةً أوْ وِسادَتَيْنِ

“Pernah ketika Rasulullah pulang dari safar, dan aku memasang tirai bergambar makhluk bernyawa menutupi lemari, tatkala Rasulullah melihatnya, beliau pun langsung mencopotnya.” Dan beliau bersabda: “Manusia yang paling dahsyat adzabnya adalah yang meyaingi penciptaan Allah”

Lalu, aku pun menjadikannya sebuah atau dua buah bantal.” (HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107).

2. Hukum Anak Kecil Memakai Pakaian Bergambar Makhluk Bernyawa

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin juga pernah ditanya tentang hukum anak kecil mengenakan pakaian bergambar makhluk bernyawa, beliau pun menjawab:

يقول أهل العلم: إنه يحرم إلباس الصبي ما يحرم إلباسه الكبير، وما كان فيه صور فإلباسه الكبير حرام، فيكون إلباسه الصغير حرامًا أيضًا، وهو كذلك، والذي ينبغي للمسلمين أن يقاطعوا مثل هذه الثياب وهذه الأحذية حتى لا يدخل علينا أهل الشر والفساد من هذه النواحي

“Para ulama menjelaskan: haram hukumnya memakaikan anak kecil pakaian yang haram dipakai orang dewasa. Pakaian bergambar haram dikenakan orang dewasa, sehingga haram juga dipakai oleh anak kecil, begitulah hukumnya. Oleh karenanya, hendaknya kaum muslimin berhenti membeli pakaian ataupun sepatu yang seperti itu, agar para perusak tidak bisa masuk ke tengah-tengah kita lewat sisi ini.” (Majmu’ Rasail Al-‘Utsaimin: 2/275).


5. Gambar Yang Dibolehkan

Namun, para ulama menjelaskan bahwa hukum ini berlaku jika gambar tersebut utuh, adapun jika gambar makhluk bernyawa tersebut dihilangkan kepalanya atau anggota tubuh yang tidak memungkinkan makhluk untuk hidup tanpanya, maka tidak masuk ke dalam larangan hadits Rasulullah .

Ibnu Qudamah berkata:

إن قطع رأس الصورة ذهبت الكراهة…… وإن قطع منه ما لا يبقى الحيوان بعد ذهابه كصدره أو بطنه, أو جعل له رأس منفصل عن بدنه لم يدخل تحت النهي، لأن الصورة لا تبقى بعد ذهابه, فهو كقطع الرأس، وإن كان الذاهب يبقي الحيوان بعده كالعين واليد والرجل فهو صورة داخلة تحت النهي.
وكذلك إذا كان في ابتداء التصوير صورة بدن بلا رأس، أو رأس بلا بدن أو جعل له رأس وسائر بدنه صورة غير حيوان, لم يدخل في النهي، لأن ذلك ليس بصورة حيوان.اهـ.

“Apabila gambar tersebut dihilangkan kepalanya hilanglah larangannya…..Sebagaimana apabila dihilangkan anggota tubuh yang tidak memungkinkan makhluk untuk hidup tanpanya, seperti dada atau perutnya, atau dipisahkan antara kepala dan badannya, maka tidak masuk dalam larangan. Sebab gambar tersebut tidak lagi disebut makhluk bernyawa seperti jika kepalanya dihilangkan.

Tetapi, apabila anggota tubuh yang dihilangkan masih memungkinkan makhluk untuk hidup, seperti: mata, tangan, ataupun kaki maka tetap masuk ke dalam larangan.

Begitu pula, jika dari awal gambar tersebut sudah tanpa kepala, atau kepala tanpa badan, atau gambar tersebut ada kepala dan badan tetapi bukan dalam bentuk makhluk hidup, maka tidak masuk dalam larangan, karena bukan gambar hewan.” (Al-Mughny: 7/282).

Wallahu a’lam


Referensi:

  1. HR. Muslim no. 2110
  2. HR. Bukhari no. 5950 dan Muslim no. 2109
  3. HR. Bukhari no. 1999 dan Muslim no. 96
  4. HR. Muslim no. 969.
  5. Syarah Shahih Muslim 14/81
  6. Kasyful Musykil min Hadits Shahihain: 1/280
  7. HR. Bukhari no. 5954 dan Muslim no. 2107
  8. Tafsir Thabary: 23/303
  9. HR. Bukhari no. 434 dan Muslim no. 528
  10. Syarah Shahih Muslim 14/81
  11. Majmu’ Rasail Al-‘Utsaimin: 2/275
  12. Al-Mughny: 7/282

Dijawab dengan ringkas oleh:
Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله
Kamis, 28 Rabiul Awal 1443 H/ 4 November 2021 M


Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى
Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember (ilmu hadits), Dewan konsultasi Bimbingan Islam
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Muhammad Ihsan حفظه الله تعالى klik disini

 

 

Baca Juga :  Solusi Dari Berbagai Macam Fitnah (Bagian Pertama)

Ustadz Muhammad Ihsan, S.Ag., M.HI.

Beliau adalah Alumni S1 STDI Imam Syafi’I Jember Ilmu Hadits 2011 – 2015, S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta Hukum Islam 2016 – 2021 | Bidang khusus Keilmuan yang pernah diikuti beliau adalah Dauroh Syaikh Sulaiman & Syaikh Sholih As-Sindy di Malang 2018, Beberapa dars pada dauroh Syaikh Sholih Al-’Ushoimy di Masjid Nabawi, Dauroh Masyayikh Yaman tahun 2019, Belajar dengan Syaikh Labib tahun 2019 – sekarang | Selain itu beliau juga aktif dalam Kegiatan Dakwah & Sosial Kegiatan bimbingan islam

Related Articles

Back to top button