Menuju Perbaikan Diri

Menuju Perbaikan Diri

Menuju Perbaikan Diri

Seorang muslim yakin bahwa kebahagiaannya di dunia dan di akhirat tergantung pada upayanya membimbing dirinya dan membersihkannya dari kotoran. Ia pun berlindung dari segala yang dapat melemahkan dirinya. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sunggug beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Sesungguhnya, sangat tercela orang yang menutup mata dari aibnya sendiri, namun ia sangat paham terhadap aib orang lain.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Salah seorang dari kalian melihat kotoran (kecil) yang menempel pada mata saudaranya, (namun) ia lupa dengan kayu yang ada di matanya sendiri.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 460)

Saudaraku ketahuilah saat diri anda bergelimang dosa, dosa yg menumpuk nan membara seharusnya menjadi bukti kelemahan anda. Namun menumpuknya dosa membuat anda lupa istighfar, dan saat semakin dekat kematian namun semakin terombang-ambing dalam kefuturan. Imām Ibnul Jauziy rahimahullāh berkata:

أسفا لعبد

كلما كثرت أوزاره قل استغفاره

وكلما قرب من القبور قوي عنده الفتور

“Duhai sungguh sangat disayangkan keadaan seorang hamba itu…

Semakin bertambah dosanya, ternyata istighfar-nya semakin sedikit…

Dan, semakin dekat ia dengan kubur, semakin kuat futur*-nya!”.  [At-Tabshirah: 1/ 55]

*Futur: lemah, turun semangat dalam keimanan, amalan dan kebaikan. Allāhul Mustaân.

Memperbaiki Diri Sendiri

Sangat disayangkan, kebanyakan kita lupa dengan aib yang melekat pada diri-diri kita dan menutup mata dari kekurangan yang ada. Lebih parah lagi, ada yang bersikap sebaliknya, yaitu berbaik sangka dan menganggap diri telah bersih dan sempurna.

Saudaraku ketika sebagian kita mendengar tentang akhlak yang mulia, ia beranggapan seolah-olah akhlak tersebut sudah ada pada dirinya dan dialah pemilik perangai mulia itu. Namun, tatkala disebutkan tentang perangai tercela, buru-buru dia menuduhkannya kepada orang lain. Seolah-olah dia jauh dari perangai tersebut.

Sikap seperti ini tidak pantas dimiliki oleh orang yang menjunjung tinggi moral dan mendambakan kesempurnaan. Juga seorang penuntut ilmu hendaknya ia berhias dengan akhlak mulia. Sikap seperti ini pun akan memunculkan sikap bangga diri yang tercela dan merasa puas di atas kekurangan yang ada. Ujungnya adalah meninggalkan upaya perbaikan diri.

Saudaraku tidak dipungkiri lagi bahwa ini adalah sikap yang bodoh dan sangat keliru. Dengan sikap tidak mau tahu tentang kadar diri sendiri dan kondisinya, seseorang tidak akan melangkah maju kepada tingkat kemuliaan. (Lihat Su’ul Khuluq, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hlm. 68-69)

Cara Mengenal Aib Diri Sendiri

Saudaraku seiman ketahuilah bahwa kesempurnaan yang mutlak hanya milik Allah Jalla Jalaaluhu semata dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) hanya dipunyai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja . Adapun diri kita adalah tidak lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam kekurangan, baik dari sisi ilmu maupun amal. Kelemahan dalam dua sisi ini atau salah satunya menjadi faktor utama terjadinya ketergelinciran ketika menapaki kehidupan ini.

Dosa dan kesalahan adalah suatu takdir yg telah ditetapkan atas manusia. Namun, yang tercela dan sangat fatal ialah manakala seseorang menunda-nunda memperbaiki diri atau bahkan tidak mau menyadari kekurangannya.

Andai seseorang mengetahui aibnya, belum tentu juga mau mengobatinya karena obatnya pahit, yaitu siap menyelisihi hawa nafsunya. Seandainya dia mau bersabar dengan pahitnya obat, belum tentu juga dia mendapatkan dokter yang ahli. Dokter yang ahli dalam hal ini adalah para ulama.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa apabila seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah Ta’ala, Ia akan menjadikannya orang yang mengetahui kekurangannya. Orang yang melek mata hatinya niscaya tidak akan samar atasnya segala kekurangannya. Jika telah mengetahui kekurangan dirinya, dia akan bisa mengobatinya. Namun, sayang sekali, kebanyakan orang tidak tahu kekurangannya. Seorang dari mereka bahkan bisa melihat kotoran kecil yang melekat pada mata saudaranya, namun tidak bisa melihat batang pohon yang ada di matanya sendiri.

Cara Muhasabah Diri

Ada empat cara bagi orang yang ingin mengetahui tentang aib dirinya:

  • Duduk di hadapan syaikh (guru/orang alim) yang sangat paham tentang aib-aib jiwa.
    Orang alim itu akan memberi tahu aib-aib dirinya beserta terapi pengobatannya. Akan tetapi, orang alim di zaman sekarang sangat jarang. Oleh karena itu, jika seseorang menemukannya, berarti dia telah mendapatkan seorang dokter yang mahir sehingga dia hendaknya tidak berpisah darinya.
  • Mencari teman yang jujur, yang melek mata hatinya, dan bagus agamanya.
    Teman yang seperti ini bisa dijadikan sebagai pengawas dirinya agar mengingatkannya dari perangai dan tingkah laku yang tidak baik.
    Dahulu, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Semoga Allah l memberi rahmat kepada seorang yang menunjukkan kepada kami kekurangan2 kami.”
    Adalah salaf (pendahulu umat ini) mencintai orang yg mengingatkan kekurangan atau aibnya. Namun, di masa kita ini justru sebaliknya. Orang yang menunjukkan aib kita pada umumnya dijadikan orang yang paling tidak disukai. Ini menandakan lemahnya iman. Sesungguhnya, permisalan perangai jelek itu seperti kalajengking. Seandainya ada seseorang memberi tahu salah seorang kita bahwa di bawah pakaiannya ada kalajengking, niscaya dia akan berterima kasih lalu menyibukkan diri untuk membunuh kalajengking tersebut. Padahal perangai yang jelek lebih berbahaya daripada kalajengking.
  • Menggali kekurangan dirinya dari ucapan (yang keluar) dari musuhnya.
    Penglihatan orang yang benci akan membongkar aib orang yang dibencinya. Oleh karena itu, seseorang lebih banyak mengambil pelajaran dari musuhnya yang menyebut-nyebut aibnya daripada temannya sendiri, yang seringnya berbasa-basi dan menyembunyikan kekurangannya.
  • Berbaur dengan manusia yang baik sehingga apa yang dipandang tercela oleh mereka dia akan menjauhinya. (Dinukil secara ringkas dari Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 203—205)
    Al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah mengatakan, “Orang yang berakal tidak akan samar baginya aibnya karena orang yang tidak mengenal aibnya tidak akan mengetahui kebaikan orang lain. Sesungguhnya, hukuman terberat yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika ia tidak tahu aib dirinya sendiri yang karenanya ia tidak akan berhenti dari kejelekannya dan tidak akan tahu pula kebaikan orang.” (Raudhatul ‘Uqala hlm. 22)

Saudaraku agar kesucian diri bisa terwujud dan aib bisa tertambal, kiranya ada beberapa langkah yang semestinya dilakukan supaya kita dapat memperbaiki diri kita, diantara lamgkah tersebut adalah,

  1. Tobat, yaitu seorang melepaskan diri dari segala dosa dan maksiat, menyesali semua dosa yang telah dilakukan dan bertekad hati untuk tidak mengulang di masa mendatang.
  2. Muraqabah, yaitu seorang menanamkan di hatinya bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah Taala pada setiap detik kehidupannya.
  3. Muhasabah, yaitu menghitung dan mengoreksi amalannya. Pada kehidupan di dunia ini, seorang muslim beramal siang dan malam untuk meraih keridhaan Allah Taala dan surgaNya. Dunia ia jadikan sebagai lahan amal untuk meraih harapan tersebut.
  4. Mujahadah, yaitu berupaya mengekang hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan.
  5. Berdoalah kepada Allah Jalla Jalaaluhu agar Allah memperbaiki diri kita, menjaga diri kita dari aib-aib kita, dan agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Allahu a’lam.

Ditulis Oleh:
Ustadz Abu Ruwaifi’ Saryanto, S.Pd.I. حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)



Ustadz Abu Ruwaifi Saryanto, S.Pd.I.
Da’i mukim Yayasan Tebar Da’i Mukim di Bandungan, Alumni STAI Ali Bin Abi Thalib,
Mahasiswa Magister Hukum Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta
Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Abu Ruwaifi 
klik disini

CATEGORIES
Share This

COMMENTS